Habib Umar bin Hafidz Ungkap Keutamaan Ayat Kursi - JATMAN Online
Habib Umar bin Hafidz Ungkap Keutamaan Ayat Kursi - JATMAN Online
Published
6 hours agoon
21/08/2023By
Warto'i
Jakarta, JATMAN Online – Habib Umar bin Hafidz mengisi Kajian Shubuh di Masjid Istiqlal Jakarta yang dihadiri ribuan jamaah muslim dan muslimat, Minggu kemarin (20/08).
Pendiri Darul Musthafa Tarim Hadralmaut Yaman itu mengungkapkan suatu hadits keutamaan bagi siapa saja yang membiasakan (merutinkan) bacaan ayat kursi.
Adapun hadist yang dibacakan Habib Umar sebagai berikut :
من قرأ آيةَ الكُرسيِّ في دُبُرِ كلِّ صلاةٍ لم يحُلْ بينه وبين دخولِ الجنَّةِ إلَّا الموتُ
الراوي : أبو أمامة الباهلي
Barangsiapa membaca ayat kursi setiap selesai shalat fardhu, maka tidak ada yang menghalangi antara dia dan masuk surga kecuali hanya kematian. (HR. Ibnu Sunni dari Abi Umamah Albahali).
Habib Umar bin Hafidz menambahkan bahwa;
لمن قرأها دبر كل صلاة يتولى قبض الله روحه بلطفه ويامر الملك بلطفه عند نزع روحه
terdapat dalam atsar bahwa barang siapa yang membiasakan bacaan ayat kursi pada setiap shalat lima waktu maka Allah akan memberikan kepada seorang itu kelembutan rahmat-Nya bagi ruh seseorang itu ketika dicabut dari jasadnya (memudahkan sakaratul mautnya).
Al-Habib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafidz dilahirkan di Tarim pada Senin, 4 Muharram 1383 H atau 27 Mei 1963 M.
Sejak kecil, beliau telah mempelajari sejumlah ilmu agama seperti Al-Hadist, Fiqih, Tauhid dan Ushul Fiqih dari lingkungan keluarganya sendiri, terutama dari ayahnya, Muhammad bin Salim yang merupakan seorang Mufti di Tarim.
Keluarganya bermazhab fikih Imam Syafi’i. Mereka termasuk kalangan ahlus sunnah wa al-jama’ah dengan kecenderungan pada Thariqah Bani Alawi (Alawiyah).
Selain dari Ayahnya, pada masa itu ia juga belajar dari tokoh-tokoh lainnya seperti Al-Habib Muhammad bin Alawi bin Shihab al-Din, Al-Habib Ahmad bin Ali Ibn al-Shaykh Abu Bakr, Al-Habib Abdullah bin Shaykh Al-Aidarus, Al-Habib Abdullah bin Hasan Bil-Faqih, Al-Habib Umar bin Alawi al-Kaf, al-Habib Ahmad bin Hasan al-Haddad, dan ulama lain di Tarim.
Penulis : Abdul Mun’im Hasan
Tahukah Anda? Cirebon Merdeka 15 Agustus 1945
Published
6 days agoon
15/08/2023Sejarah mencatat deklarasi kemerdekaan yang dibacakan oleh Soekarno dan Hatta pada 17 Agustus 1945. Tanggal tersebut kini diperingati sebagai hari lahir bangsa Indonesia. Tapi tahukah Anda bahwa deklarasi kemerdekaan serupa diproklamasikan di Cirebon, pada 15 Agustus 1945. Proklamasi kemerdekaan ini mendahului pembacaan Soekarno-Hatta di Jakarta.
Tepatnya di Kecamatan Kejaksan yang hingga kini berdiri sebuah tugu peringatan pembacaan Proklamasi tersebut. Namanya Tugu Pensil atau Tugu Kejaksan Cirebon atay juga Tugu Proklamasi. Lokasi ini disebut sebagai Tugu Proklamasi karena pada tanggal 15 Agustus 1945 telah dilakukan pembacaan teks Proklamasi oleh Dr. Soedarsono selaku pendiri Rumah Sakit Gunung Jati yang saat itu tergabung dalam gerakan pemuda.
Sebenarnya banyak sumber yang membahas sejarah deklarasi proklamasi di Cirebon, salah satunya karena berita yang disiarkan oleh radio BBC London, yaitu seusai Amerika menjatuhkan bom di Hiroshima pada 6 Agustus 1945.yang menyatakan Jepang kalah perang yang diketahui oleh Sutan Sjahir pejuang kemerdekaan asal Cirebon.
Sutan Sjahrir tahu Jepang akan segera menyerah kepada Sekutu pada Agustus 1945. Dia tahu Jepang sudah lumpuh tak berdaya dan tidak bisa berlama-lama lagi menghadapi Amerika Serikat di kancah Perang Pasifik.
Sjahrir, yang sejak lama membangun jaringan bawah tanah, lantas menggerakkan kelompoknya untuk bersiap dengan revolusi. Pemuda sosialis binaan Sjahrir di berbagai daerah manut. Mereka antusias menyambut kemerdekaan Indonesia.
Sebelum deklarasi proklamasi kemerdekaan di Cirebon, Sjahir sudah beberapa kali konfirmasi kepada Soekarno. Akan tetapi karena ada sedikit percekcokan antara Soekarno dan Sjahrir, karena Soekarno dan Hatta belum mempercayai berita bawah Jepang sudah menyerah, beliau masih terus mencari buktinya.
Dikatakan, bahwa dua hari sebelum proklamasi di Cirebon Sjahrir dan Hatta mendatangi Sukarno. Sjahrir tambah kecewa manakala Sukarno masih tak percaya Jepang menyerah karena siaran radio dari luar negeri banyak dikuasai Sekutu. Ia sendiri akan menanyakan kebenarannya ke otoritas pendudukan Jepang esok pagi, 15 Agustus.
Sikap tim Soekarno dan Mohammad Hatta tersebut mengecewakan para pemuda yang sepakat dengan gagasan Bung Syahrir. Sebab, sikap itu beresiko kemerdekaan RI merupakan produk buatan Jepang.
Sutan Sjahrir akhirnya meminta Dr. Soedarsono yang kala itu menjabat sebagai Kepala Rumah Sakit Kesambi atau yang sekarang menjadi RSUD Gunung Jati Cirebon untuk memproklamasikan Kemerdekaan di Alun-Alun Kejaksan Kota Cirebon.
Kemudian, para pemuda di Cirebon hari itu tanggal 15 Agustus 1945, di bawah pimpinan Dr. Soedarsono, mengumumkan proklamasi versi mereka sendiri. Proklamasi di Cirebon itu dibacakan di sebuah persimpangan jalan dekat Alun-Alun Kejaksan. Sekira 150 orang hadir dalam pembacaan itu yang sebagian besarnya adalah anggota PNI Pendidikan.

“Akan tetapi tidak ada konfirmasi mengenai peristiwa ini; cerita mengenai pembacaan teks proklamasi Sjahrir itu hanya datang dari kalangan [PNI] Pendidikan. Sjahrir sendiri, kemudian dalam kisahnya, hanya menyinggung secara singkat saja peristiwa itu,” tulis Mrazek (hlm. 468).
Selain memproklamasikan kemerdekaan, kelompok Sjahrir juga pembacaan naskah proklamasi di Alun-alun Ciledug, Cirebon (dekat Makam Habib Thoha bin Yahya). Sayangnya, lanjut Nurdin, naskah proklamasi yang dibacakan Sudarsono hilang tanpa jejak. Tidak tahu apakah naskah versi Sjahrir sama seperti yang Sukarno bacakan.
Menurut sumber sejarawan Cirebon yang dikutip dari YouTube CNN Indonesia, bahwa teks proklamasi kemerdekaan yang dibacakan di Cirebon itu lebih panjang, sekitar 300 kata.
“Kalau kita melihat misalnya, teks yang diketik oleh sayuti melik dengan proklamasi kemerdekaan 17 Agustus. Konon kabarnya kalau untuk proklamasi di Cirebon itu lebih panjang sekitar 300 kata. namun sangat disayangkan dokumen nya hilang, dokumen nya tidak ditemukan entah dimana” Tutur Akbaruddin Sucipto selaku Sejarawan dan Budayawan Cirebon.
Share this:
KH Abbas Buntet Cirebon, Mursyid yang Gigih Melawan Penjajah
Published
2 weeks agoon
10/08/2023Siapa yang tidak paham tentang gigihnya KH Abbas Abdul Jamil Buntet Pesantren sosok ulama yang sakti mandraguna. Betapa tidak, berbagai cerita lisan mengisahkan peran heroiknya dalam menumpas sekutu di Surabaya pada Perang 10 November 1945.
Dikenal dengan nama Kiai Abbas Pesantren Buntet Cirebon, yang memiliki nama lengkap Maulana Sayyid Asy-Syaikh Al-Arif Billah Muhammad Abbas bin Abdul Jamil. Ia Adalah putra sulung Kiai Abdul Jamil, yang dilahirkan pada hari Jum’at tanggal 24 Dzulhijjah 1300 H/1879 M di Pekalangan, Cirebon. Ayahnya, Kiai Abdul Jamil adalah putra Kiai Muta’ad, cucu menantu Mbah Muqoyyim pendiri Pesantren Buntet.
Dikisahkan, dalam pertempuran 10 November 1945, Kiai Abbas menggenggam pasir yang ditaburkan ke arah musuh. Aksi ini membuat musuh kocar-kacir, karena seakan-akan pasir yang ditaburkan menjadi meriam dan bom yang menghancurkan.
Pada pertempuran 10 November 1945, Kiai Abbas ikut membaur dengan pejuang dari kalangan Kiai yang berpusat di Markas Ulama, di rumah Kiai Yasin Blauran Surabaya. Di rumah ini, para kiai berkumpul untuk merancang strategi, menyusun komando serta memberikan suwuk/doa kepada para santri pejuang yang bertempur melawan penjajah.
Dibalik semangatnya dalam memperjuangkan kemerdekaan, KH Abbas juga aktif dalam rutinitas spiritual, karena beliau juga adalah salah satu Mursyid Tarekat Syattariyyah yang sanadnya bersambung dari ayahnya sampai Mbah Muqoyyim (pendiri Pondok Buntet Pesantren), sehingga Kiai Abbas di Buntet Pesantren menjadi pemimpin sentral, karena banyak kiai-kiai sepuh juga yang ada di Pondok Buntet Pesantren pada saat itu.
Ada sebuah manuskrip yang diduga kuat tulisan tangan Mbah Muqoyyim yang tersimpan di kediaman Raden Raffan Hasyim biasa disapa Pak Opan, sejarawan dan filolog Cirebon. Manuskrip tersebut berupa bunga rampai yang isinya memuat berbagai tema, salah satunya mengenai sanad Tarekat Syattariyyah mulai dari Rasulullah Saw, sampai kepada tiga nama setelah Mbah Muqoyyim.
Selain sebagai Mursyid Tarekat Syattariyah, menurut para sesepuh Pondok Buntet Pesantren, Kiai Abbas juga sebagai Muqaddam Tarekat Tijaniyah. Beliau merupakan salah satu dari “Tujuh Kiai Besar” yang menjadi Muqaddam utama Tarekat Tijaniyah yang diangkat oleh Syekh Ali ibn Abdullah ath-Thayyib al-Madani yang berasal dari Madinah.
Ketujuh Muqaddam itu adalah Syekh Ali ibn Abdullah ath-Thayyib al-Madani yang kemudian menetap di Bogor, KH Asy’ari Bunyamin Garut, KH. Badruzzaman Garut, KH Utsman Damiri Cimahi Bandung, dan tiga bersaudara dri Buntet: KH Abbbas, KH Anas dan KH Akyas. Ketujuh Muqaddam inilah yang bertanggung jawab atas penyebaran Tarekat Tijaniyah di wilayah Jawa Barat.
Sementara itu, mengenai sanad silsilah Tarekat Syattariyyah Pondok Buntet Pesantren Cirebon ada beberapa versi. Pertama sanad Tarekat Syattariyyah yang bersambung mulai dari Mbah Muqoyyim (yang dikutip dari website resmi Pondok Buntet Pesantren). Jika diurut dari pendiri tarekat Syattariyyah, maka sanadnya adalah sebagai berikut:
1. Syekh Abdullah al-Syatari
2. Hidayat Sarmasi
3. Syekh Haji Hushuri
4. Sayyid Muhammad Ghauts bin sayyid Hathiruddin
5. Sayyid Wajhuddin al-‘Alawi
6. Shighatullah bin sayyid Rauhullah
7. Sayyidina Abi Mawahib Abdullah Ahmad bin Ali al-Syanawi
8. Syekh Ahmad bin Muhammad, Madinah (Syekh Ahmad Qusyasyi)
9. Syekh Abdur Rauf Singkel
10. Syekh Haji al-Muhyi, Shafarwadi
11. Kiai Thalabuddin, penghulu Batang
12. Kiai Muqoyyim, Cirebon
13. Mas Arifin, Tuk, Cirebon
14. Haji Syarqowi, Babakan, Majalengka
15. Kiai Bulqiyah, Cirebon
(gelar di depan nama dan asal daerah disesuaikan dengan apa yang tersebut di dalam manuskrip)
Tulisan di dalam manuskrip setelah penyebutan nama Mbah Muqoyyim memiliki ragam tulisan yang berbeda dengan ragam tulisan sebelumnya. Oleh karena itu, dapat diduga bahwa penulis kalimat “Mas Arifin” dan seterusnya adalah penulis yang berbeda. Dugaan ini yang mengantarkan Pak Opan berkesimpulan bahwa penulis sanad tarekat Syattariyyah adalah Mbah Muqoyyim, sedangkan penulis sanad setelah nama Mbah Muqoyyim adalah orang lain.
Kemudian yang kedua, sanad silsilah tarekat Syattariyyah dari KH Abbas Buntet sampai Rasulullah. Seperti yang dilansir NU Online, Adanya sebuah kertas fotokopi yang pernah penulis dapatkan dari Mursyid Tarekat Syattariyyah Buntet Pesantren, yakni KH Ade Nasihul Umam saat sowan pada tahun lalu, menjadi bukti sanad tarekat Kiai Soleh dan Kiai Abdul Jamil tidak bersambung kepada Mbah Muqoyyim. Menantu KH Abdullah Abbas itu menemukan kertas tersebut dari sebuah kitab mertuanya, secarik kertas yang berisi pengangkatan KH Mushlih Jepara sebagai mursyid Tarekat Syattariyyah.
Dalam silsilah tersebut, disebutkan bahwa Kiai Abbas mengambil sanad Tarekat Syattariyyah dari ayahnya, yakni Kiai Abdul Jamil. Lalu, Kiai Abdul Jamil dibaiat oleh kakaknya, yakni Kiai Soleh Zamzami. Kiai Soleh dibaiat Kiai Anwaruddin Kriyani. Berikut selengkapnya:
1. Kiai Abbas
2. Kiai Abdul Jamil
3. Kiai Soleh Zamzami (Benda Kerep)
4. Mbah Kriyan (Cirebon)
5. Kiai Asy’ari Kaliwungu, Kendal, Jawa Tengah
6. Syekh Muhammad
7. Sayyid Madani
8. Sayyid Ibrahim Thahir
9. Syekh Mulla Ibrahim
10. Syekh Ahmad Qusyasyi
11. Syekh Sanawi
12. Sayyid Shibghat Allah
13. Sayyid Wajih al-Din
14. Sayyid Ghauts
15. Syekh Hadlari
16. Syekh Hadiyatullah dan seterusnya sampai Syekh Abu Yazid al-Busthami terus hingga Rasulullah Saw.
Ayah Kiai Soleh dan Kiai Abdul Jamil, yakni Kiai Mutaad, juga merupakan salah satu penganut Tarekat Syattariyyah meskipun penulis belum mengetahui sanadnya dari mana. Akan tetapi, Kiai Muta’ad, sebagaimana diungkapkan oleh Zainul Milal Bizawie dalam bukunya Laskar Ulama-Santri dan Resolusi Jihad, adalah salah seorang pasukan Diponegoro saat Perang Jawa 1825-1830 M.
Share this:
Seni bukanlah hal yang baru lagi di kalangan umat Islam. Sejak zaman Rasulullah, bahkan sebelum Rasulullah hadir, seni sudah memiliki strata yang tinggi di tengah-tengah bangsa Arab, khususnya seni sastra. Sehingga ketika dakwah Islam mulai berkembang, seni tetap memiliki marwahnya sendiri tanpa merusak nilai-nilai Islam yang di bawa sang Nabi Agung.
Tak hanya di kalangan bangsa Arab, seni menjadi daya pikat diterimanya Islam di Nusantara. Jika dilihat dalam jejak-jejak arkeologis, ada banyak akulturasi yang diciptakan oleh orang-orang terdahulu sebagai bukti adanya penerimaan dari bangsa pribumi terhadap masyarakat Islam pendatang. Secara logika, manusia melalui perilaku budayanya menyukai hal-hal yang dapat mengaktualisasi diri. Sehingga dengan adanya ‘sesuatu’ yang baru, manusia dapat membentuk, memanfaatkan dan mengubah hal-hal yang ia sukai sesuai kebutuhannya.
Di Nusantara sendiri, ada banyak ragam seni yang sudah lebih dahulu berbaur dengan masyarakat, seperti seni rupa, seni langgam, seni pertunjukan dan lain-lain sebagai produk kebudayaan dari berdirinya kerajaan Hindu-Budha yang sangat mendominasi pertumbuhan seni di Nusantara. Sehingga kedatangan Islam justru menambah keragaman seni yang sudah ada tanpa menghilangkan warisan terdahulu.
Di Sumatera misalnya, bertengger kerajaan Sriwijaya yang merupakan kerajaan Budha. Tentu saja dari peradaban ini lahir banyak bangunan dan arca yang menjadi visualisasi kedigdayaan kerajaan tersebut berdasarkan perspekrtif seni rupa, seperti pada kompleks Candi Muaro Jambi yang disebut sebagai candi terluas di Asia Tenggara dengan luas 3.981 hektar. Maka tidak heran ketika kerajaan Islam masuk ke wilayah tersebut, yang terjadi bukan mengubah secara total sebuah kebudayaan dan kesenian, melainkan hanya melakukan penyesuaian antara mana yang boleh dan yang tidak boleh diteruskan.
Dalam konteks seni rupa yang sudah bersinggungan dengan unsur Islam, ada beberapa karakteristik yang memperlihatkan perbedaan dari masing-masing ornament. Pertama, bentuk dasar Islam yang dimasuki pesan-pesan Islam dan dapat dikembangkan dengan variasi-variasi baru. Kedua, bentuk baru yang terbawa dari tradisi di luar kebudayaan yang bersangkutan dan telah ada lebih dulu dengan terikat pada pesan-pesan keislaman. Ketiga, bentuk-bentuk yang sama sekali baru yang tidak terikat pada salah satu tradisi tertentu.
Pada konteks lain, jika ditarik pada sumber aslinya, dasar penciptaan seni Islam sendiri adalah al-Quran. Pengaruh al-Quran melimpah pada banyak corak kesenian seperti pada seni sastra, sehingga muncul istilah majaz, bahar, qafi dan lain-lain. Kemudian dari kata-perkata ejaan Arab dalam al-Quran, lahirlah seni rupa yang diaktualisasi dalam seni kaligrafi dan bertransformasi menjadi ornament sajadah, mimbar masjid, dinding dan sebagainya. Adapula seni langgam yang memunculkan nagham bayati, nahawan, jiharkah dan lain-lain.
Masyarakat pecinta seni dengan latar belakang yang berbeda kemudian tanpa canggung membaur dengan kesenian Islam yang diolah sedemikian rupa. Sehingga tidak ada pembatas antara budaya lama dan budaya baru yang memisahkan antara orang Islam pendatang dengan penduduk lokal. Hal inilah yang dimanfaatkan oleh pendakwah dalam menciptakan media-media baru untuk menarik perhatian masyarakat seperti keberadaan menara, pertunjukan wayang, berbagai kidung, yang masih bercorak kebudayaan lama, tetapi memuat ajaran Islam.