Apa Itu Jejak Benteng yang Akan Dilakukan Sultan HB X saat Sekaten 2025 - Tempo
ADA ritual yang berbeda dalam rangkaian upacara Hajad Dalem Sekaten yang digelar Keraton Yogyakarta, 29 Agustus-5 September 2025. Dalam tradisi peringatan Maulud Nabi Muhammad SAW itu, salah satu ritual yang akan dilaksanakan adalah prosesi Jejak Banon atau Jejak Benteng. Ritual ini akan berlangsung di sisi selatan kompleks Masjid Gedhe Keraton Yogyakarta pada Kamis malam, 4 September 2025.
Jejak Benteng dalam tradisi Hajad Dalem Sekaten ini tidak dilakukan setiap tahun. Melainkan hanya digelar delapan tahun sekali, yaitu pada Tahun Dal. Sesuai dengan penanggalan Tahun Jawa, perayaan Sekaten 2025 jatuh pada Tahun Dal.
Ritual Jejak Benteng
Setiap Tahun Dal, Raja Keraton melakukan Jejak Benteng yaitu ritual menjejak atau merubuhkan tumpukan batu bata yang melekat pada benteng di sisi selatan Masjid Gedhe, dengan menggunakan kaki. Prosesi ini melambangkan dan mengenang usaha Pangeran Mangkubumi atau Sri Sultan Hamengku Buwono I, sang pendiri Keraton Yogyakarta, saat menyelamatkan diri dari musuh selepas salat Jumat di Masjid Gedhe.
Koordinator Rangkaian Prosesi Garebeg Mulud Dal 1959 Keraton Yogyakarta, Kanjeng Raden Tumenggung (KRT) Kusumonegoro menuturkan prosesi Jejak Benteng akan dilakukan olej Raja Keraton Yogyakarta Sri Sultan Hamengku Buwono X.
"Jadi usai prosesi mendengarkan Pembacaan Riwayat Nabi, Ngarsa Dalem (Sultan HB X) akan jengkar (meninggalkan) Masjid Agung lalu melakukan prosesi Jejak Banon di sisi selatan komplek Masjid Gedhe," kata Kusumonegoro, Rabu 3 September 2025.
Bisa disaksikan wisatawan dan masyarakat umum
Wisatawan dan masyarakat umum bisa menyaksikan tradisi ini di Masjid Gedhe dari awal hingga akhir, yang dimulai sejak pukul 19.00 WIB. Selain itu, ada tiga acara yang terbuka untuk umum dan wisatawan di Masjid Gedhe pada Kamis 4 September 2025.
Acara pertama prosesi Kondur Gangsa atau trasisi mengembalikan dua perangkat gamelan pusaka Kyai Guntur Madu dan Gamelan Kyai Nagawilaga dari Masjid Gedhe ke ke dalam Keraton Yogyakarta. Kedua pembacaan Riwayat Nabi Muhammad SAW dan prosesi Jejak Banon.
Adapun prosesi yang tertutup untuk wisatawan dan pengunjung adalah yang dipusatkan di Kompleks Keraton Yogyakarta. Seperti prosesi Mbusanani Pusaka dan Upacara Bethak yang berlangsung di kompleks Bangsal Sekar Kedhaton.
Prosesi Mbusanani Pusaka dilaksanakan para Pangeran Sentana. Dalam prosesi Mbusanani Pusaka ini, beberapa pusaka Keraton Yogyakarta dikeluarkan dari ruang penyimpanan untuk dirawat dan diganti busananya (kain pelindung) sebagai persiapan menjelang upacara Garebeg Mulud.
Sedangkan Prosesi Bethak akan dipimpin oleh permaisuri Raja Keraton, Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Hemas. Selepas maghrib, Sri Sultan menyerahkan pusaka Kanjeng Nyai Mrica dan Kanjeng Kiai Blawong kepada GKR Hemas. Dengan pusaka yang berbentuk periuk tersebut, GKR Hemas bersama dengan Putra dan Sentana Dalem Putri (putri dan kerabat wanita Sultan) akan menanak nasi sebanyak tujuh kali. Nasi yang dimasak dalam upacara Bethak tersebut akan diserahkan kepada Sri Sultan pada saat pisowanan (menghadap Sultan) keesokan harinya.
Acara puncak Pisowanan Garebeg Dal
Selanjutnya pada Jumat, 5 September 2025 baru acara puncak prosesi Pisowanan Garebeg Dal 1959 yang dilaksanakan di Bangsal Kencana Keraton Yogyakarta mulai pukul 09.00 WIB.
Dalam prosesi ini, Sri Sultan Hamengku Buwono X akan mengambil nasi dari periuk Kanjeng Nyai Mrica, mengepal-ngepalnya menjadi bulatan kecil, lalu meletakannya pada piring Kanjeng Kiai Blawong. Nasi yang sudah dikepal oleh Sri Sultan dan kepalan nasi yang sudah dibuat sebelumnya kemudian dibagikan kepada GKR Hemas, diteruskan kepada para kerabat dan Abdi Dalem.
Malam hari setelah pelaksanaan Garebeg Mulud, akan digelar prosesi Bedhol Songsong di Kagungan Dalem Tratag Prabayeksa. Bedhol Songsong sejatinya merupakan prosesi mencabut (bedhol) payung (songsong) sebagai penanda berakhirnya rangkaian Hajad Dalem Garebeg Mulud.