0
News
    Update Haji
    Home Featured KH Abu Dzarrin Nahwu Sharraf

    KH Abu Dzarrin: Ulama Ahli Nahwu-Sharraf, Santri yang Jadi Pengasuh Sidogiri - NU Online

    5 min read

     

    KH Abu Dzarrin: Ulama Ahli Nahwu-Sharraf, Santri yang Jadi Pengasuh Sidogiri

    Ahad, 7 September 2025 | 19:00 WIB


    Makam KH Abu Dzarrin di Dusun Tugu, Desa Kedawung Kulon, Kecamatan Grati, Kabupaten Pasuruan. (Foto: NOJ/ Mokh Faisol)

    Mokhamad Faisol

    Kontributor

    KH Abu Dzarrin akrab dikenal sebagai Mbah Abu Dzarrin. Ia adalah seorang ulama kharismatik asal Pasuruan yang dikenal luas karena kealimannya dalam bidang ilmu alat, yaitu nahwu dan sharraf.

    Semasa muda, ia menempuh pendidikan di Pondok Pesantren Sidogiri Pasuruan. Akhirnya dalam perjalanannya, Mbah Abu Dzarrin menjadi Pengasuh Pondok Pesantren Sidogiri, berkat kedalaman ilmu yang dimiliki.

    Selama nyantri di Pesantren Sidogiri, Mbah Abu Dzarrin memang dikenal tekun dalam muthala’ah (membaca dan mengkaji kitab). Hampir setiap waktu senggang ia habiskan untuk belajar dan menulis, bahkan ketika sedang bertugas ronda di pesantren.

    Native Banner 1

    Karya Tulis dan Keilmuan

    Jejak Keilmuan KH Mohammad Sholeh: dari Talun ke Makkah

    Keilmuan Mbah Abu Dzarrin dapat ditelusuri melalui karya-karyanya, baik yang berbentuk manuskrip maupun yang berhasil dikodifikasi menjadi kitab. Salah satu karya monumentalnya ialah Kitab Sorrof Sono, sebuah kitab sharraf yang sederhana, lugas, dan mudah dipahami, sehingga sangat membantu para pemula dalam mempelajari gramatika Arab.

    Native Banner 2

    Kitab ini sempat digunakan di berbagai pesantren besar seperti Pondok Pesantren Lebak, Langitan, Lasem, hingga Bangkalan. Nama Sorrof Sono diambil dari Dusun Karang Sono, tempat Mbah Abu Dzarrin berdakwah dan menyusun kitab tersebut.

    Uniknya, kitab ini mirip dengan karya KH Muhammad Ma’shum Jombang berjudul Amtsilatut Tashrifiyyah, yang ditulis lebih awal. Bedanya, dalam kitab Mbah Abu Dzarrin itu tidak mencantumkan masdar mim dalam pola tashrifannya.

    Selain kitab Sorrof Sono, ia juga menulis kitab tentang Dajjal dan Ya’juj Ma’juj. Namun, kitab tersebut hilang tidak diketahui rimbanya. Sementara naskah lain yang ditulis, mayoritas tentang nahwu dan sharraf. Sebagian besar karyanya masih berupa manuskrip dan tidak sempat dicetak karena keterbatasan sarana saat itu.

    Baca Juga

    KH Badri Mashduqi, Kiai Cerdas Hafal Nadham Alfiyah dalam 25 Hari

    Mbah Abu Dzarrin sering menegaskan pentingnya mempelajari ilmu alat, baik ilmu sharraf ataupun nahwu. Salah satu perkataannya yang masyhur ialah: “ash-sharfu ummul ‘ilmi, wan-nahwu abuha.” (Ilmu sharaf adalah ibu segala ilmu, sedangkan ilmu nahwu adalah bapaknya).

    Sanad Keilmuan: Guru Para Ulama Besar

    Kealiman Mbah Abu Dzarrin tak hanya diakui masyarakat sekitar, tetapi juga meluas hingga Bangkalan dan sekitarnya. Di antara muridnya yang paling terkenal adalah Syaikhona KH Muhammad Kholil Bangkalan, guru dari para pendiri Nahdlatul Ulama.

    Sanad keilmuan ini bahkan terekam dalam qasidah Jam’iyah Qashaid Is’adul Ahbab di Pondok Pesantren Syaikhona Kholil Bangkalan. Di sana menuturkan bagaimana Kiai Kholil tetap mengaji kepada KH Abu Dzarrin melalui mimpi, meskipun sang guru telah wafat. Dari pertemuan ruhani itu, Kiai Kholil memperoleh keberkahan hingga hafal kitab Alfiyyah Ibnu Malik, Asymuni, Ibnu Aqil, dan Imrithi.

    Perjuangan Melawan Belanda

    Selain mengajar, Mbah Abu Dzarrin juga dikenal sebagai ulama pejuang. Ia turut menggerakkan masyarakat untuk melawan kolonial Belanda yang bermarkas di Kedawung, Pasuruan.

    Belanda tidak hanya menindas rakyat dengan kerja paksa tanpa upah, tetapi juga berusaha menanamkan pengaruh Kristen di tengah masyarakat. Hal ini mendorong Mbah Abu Dzarrin menyerukan perlawanan dengan menegaskan bahwa memerangi penjajah adalah bagian dari jihad.

    Kharisma dan keberaniannya membuat Belanda sangat membencinya. Berbagai upaya dilakukan agar dakwah Mbah Abu Dzarrin terhenti. Namun, ia tetap teguh memperjuangkan Islam dan membela rakyat.

    Warisan dan Teladan

    Mbah Abu Dzarrin meninggalkan warisan besar dalam bidang keilmuan maupun perjuangan. Dari tangannya lahir karya yang menjadi rujukan pesantren, serta murid-murid besar yang kemudian berperan penting dalam kebangkitan Islam di Nusantara.

    Sosoknya adalah bukti nyata bahwa ilmu dan perjuangan bisa berjalan beriringan: mendidik umat sekaligus melawan penjajahan. Ia dimakamkan di Dusun Tugu, Desa Kedawung Kulon, Kecamatan Grati, Kabupaten Pasuruan.

    Komentar
    Additional JS