0
News
    Update Haji
    Home Amalan Featured Haid Junub Maulid Spesial Tahlil

    Bolehkah Membaca Tahlil dan Maulid saat Junub atau Haid? - Pesantren Lirboyo

    4 min read

     

    Bolehkah Membaca Tahlil dan Maulid saat Junub atau Haid?


    Dalam tradisi warga Nahdlatul Ulama, kegiatan tahlilan dan maulidan sudah menjadi amalan rutin, baik mingguan maupun harian. Kegiatan ini sering diadakan ketika ada warga yang meninggal dunia atau saat tasyakuran, dengan mengundang masyarakat sekitar untuk bersama-sama membaca tahlil. Demikian pula pada malam Jumat, di masjid atau musala sering terlihat jamaah mengadakan marhabanan—pembacaan maulid Nabi—meskipun bukan pada bulan Maulid.

    Bagaimana jika yang hadir orang yang junub atau haid?

    Namun, dalam praktiknya, terkadang tidak semua orang yang hadir berada dalam keadaan suci dari hadas besar, seperti junub atau haid. Lalu, muncul pertanyaan: bolehkah seseorang yang junub atau haid ikut membaca tahlil dan maulid?

    Salah satu keharaman bagi orang junub dan wanita haid

    Perlu kita ketahui, bahwa dalam bacaan tahlil maupun maulid terdapat ayat-ayat suci Al-Qur’an serta berbagai lafaz zikir yang mereka lantunkan. Dan dalam kitab Fatḥ al-Qarīb dijelaskan bahwa di antara hal-hal yang diharamkan bagi orang yang junub dan wanita yang haid adalah membaca Al-Qur’an. [Muḥammad ibn Qāsim Al-Ghazzī, Fatḥ al-Qarīb al-Mujīb, (Beirut: Dār Ibni Ḥazm, cet. I, 1425 H/2005 M), hal. 64-65]

    Tanggapan ulama

    Namun, dalam kitab Al-Iqnā‘ fī Ḥall Alfāẓ Abī Syujā‘ karangan Syaikh Al-Khaṭīb as-Syarbīnī tertuang sebuah keterangan sebagaimana berikut:

    تَنْبِيهٌ: يَحِلُّ لِمَنْ بِهِ حَدَثٌ أَكْبَرُ أَذْكَارُ الْقُرْآنِ وَغَيْرُهَا كَمَوَاعِظِهِ وَأَخْبَارِهِ وَأَحْكَامِهِ، لَا بِقَصْدِ الْقُرْآنِ، كَقَوْلِهِ عِنْدَ الرُّكُوبِ: ﴿سُبْحَانَ الَّذِي سَخَّرَ لَنَا هَذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِينَ﴾ أَيْ مُطِيقِينَ، وَعِنْدَ الْمُصِيبَةِ: ﴿إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ﴾، وَمَا جَرَى بِهِ لِسَانُهُ بِغَيْرِ قَصْدٍ، فَإِنْ قَصَدَ الْقُرْآنَ وَحْدَهُ أَوْ مَعَ الذِّكْرِ حَرُمَ، وَإِنْ أَطْلَقَ فَلَا، كَمَا نَبَّهَ عَلَيْهِ النَّوَوِيُّ فِي دَقَائِقِهِ، لِعَدَمِ الْإِخْلَالِ بِحُرْمَتِهِ، لِأَنَّهُ لَا يَكُونُ قُرْآنًا إِلَّا بِالْقَصْدِ، قَالَهُ النَّوَوِيُّ وَغَيْرُهُ، وَظَاهِرُهُ أَنَّ ذَلِكَ جَارٍ فِيمَا يُوجَدُ نَظْمُهُ فِي غَيْرِ الْقُرْآنِ كَالْآيَتَيْنِ الْمُتَقَدِّمَتَيْنِ وَالْبَسْمَلَةِ وَالْحَمْدَلَةِ، وَفِيمَا لَا يُوجَدُ نَظْمُهُ إِلَّا فِيهِ كَسُورَةِ الْإِخْلَاصِ وَآيَةِ الْكُرْسِيِّ، وَهُوَ كَذَلِكَ.

    Hukumnya boleh bagi orang yang sedang berhadats besar untuk mengucapkan ayat-ayat Al-Qur’an yang berfungsi sebagai dzikir atau doa, juga nasihat, kisah, dan hukum-hukum. Hal itu selama tidak dengan niat membaca Al-Qur’an.

    Seperti ucapannya ketika naik kendaraan:

    “Subḥāna alladzī sakhkhara lanā hādzā wa mā kunnā lahu muqrinīn”. (Maha Suci Allah yang telah menundukkan kendaraan ini bagi kami, dan kami sebelumnya tidak mampu menguasainya). Atau ketika tertimpa musibah:

    “Innâ lillāhi wa innâ ilaihi rāji‘ūn”. (Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nya kami kembali), serta apa saja yang keluar dari lisannya tanpa sengaja.

    Jika tidak ada niat membaca Al-Quran maka boleh

    Namun, jika ia bermaksud membaca Al-Qur’an semata, atau berniat dzikir sekaligus membaca Al-Qur’an, maka haram. Akan tetapi, jika hanya mengucapkannya secara umum (tanpa niat membaca Al-Qur’an)maka tidak haram, sebagaimana telah oleh Imam an-Nawawī jelaskan dalam kitab Daqā’iq beliau— karena tidak menyalahi kehormatan Al-Qur’an. Sebab sesuatu tidak disebut “bacaan Al-Qur’an” kecuali dengan adanya niat membacanya.

    Hal ini dikatakan oleh Imam an-Nawawī dan para ulama lainnya.

    Dan secara lahiriah, hukum ini berlaku baik pada ayat-ayat yang memiliki susunan serupa di luar Al-Qur’an(seperti dua ayat di atas, basmalah, dan hamdalah), maupun pada ayat-ayat yang hanya terdapat dalam Al-Qur’an saja, seperti Surat al-Ikhlāṣdan Ayat al-Kursī. Dan memang demikian hukumnya. [Al-Khaṭīb al-Syarbīnī, Muḥammad ibn Aḥmad ibn Ḥamzah. Al-Iqnā‘ fī Ḥall Alfāẓ Abī Syujā‘. (Beirut: Dār al-Fikr), vol. 1 hal. 100]

    Kesimpulan

    Mengikuti Tahlilan dan Maulidan yang di dalamnya terdapat ayat-ayat Al-Quran dalam kondisi junub atau haid itu hukumnya boleh, selama tidak ada tujuan membaca Al-Quran seperti keterangan dalam kitab al-Iqna’ di atas.

    Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo

    Komentar
    Additional JS