Toxic Parenting dalam Perspektif Islam - Trbuireng
Toxic Parenting dalam Perspektif Islam
Antara Kasih sayang dan Kekerasan Terselubung
Menurut laporan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), lebih dari 50% anak mengalami kekerasan dalam rumah tangga, baik secara fisik maupun secara verbal. Ironisnya, sebagian besar dilakukan oleh orang tua yang merasa “sedang mendidik’. Lalu bagaimana Islam memandang pola asuh macam ini?
Dalam keluarga, orang tua memegang peranan sentral dalam mendidik, membentuk karakter dan membangun masa depan anak. Namun tidak semua pola asuh menghasilkan kebaikan. Istilah toxic parenting atau pola asuh beracun semakin sering muncul dalam diskusi psikologi keluarga. Ini merujuk pada gaya pengasuhan yang merugikan kondisi mental dan emosional anak, seperti terlalu mengekang, memaksa kehendak, merendahkan, atau bahkan melakukan kekerasan fisik dan verbal atas nama “disiplin”.
Fenomena ini menjadi penting untuk dikaji, mengingat Islam sangat menekankan pentingnya adab dalam keluarga, terutama dalam mendidik anak. Islam menempatkan anak sebagai amanah dan anugerah. Orang tua diperintahkan untuk mendidik mereka dengan penuh kasih, bukan dengan tekanan dan kekerasan. Rasulullah SAW bersabda: “Bukanlah termasuk golongan kami, orang yang tidak menyayangi anak kecil dan tidak menghormati orang tua.” (HR. Tirmidzi)
Hadits ini menegaskan bahwa menyayangi anak adalah bagian dari iman dan akhlak yang mulia. Ini sejalan dengan firman Allah SWT dalam al Quran: “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka…”(QS. At Tahrim: 6)
Makna “memelihara keluarga” tidak hanya sebatas menjaga mereka dari perbuatan dosa, tetapi juga mendidik mereka dalam suasana yang sehat dan penuh cinta. Mendidik dengan kasar, merendahkan, atau mempermalukan anak bukanlah cerminan kasih sayang, melainkan cerminan pola asuh yang bisa menjadi racun dalam jiwa anak.
Toxic Parenting tidak selalu berwujud kekerasan fisik. Dalam banyak kasus, orang tua tidak sadar bahwa mereka sedang melakukan praktik yang merusak kejiwaan anak, seperti; menuntut kesempurnaan tanpa mempertimbangkan kemampuan anak, membanding-bandingkan dengan anak lain, melabeli anak dengan sebutan buruk seperti “bodoh” atau “nakal”, mengabaikan emosi dan pendapat anak, dan mengontrol hidup anak secara berlebihan bahkan hingga dewasa.
Praktik semacam ini menimbulkan luka batin yang dalam dan kadang membekas hingga anak tumbuh dewasa. Banyak anak-anak yang kehilangan rasa percaya diri, tumbuh dengan rasa takut, atau bahkan menjauh dari orang tuanya secara emosional. Rasulullah SAW memberikan teladan luar biasa dalam mendidik anak dan cucu. Beliau tidak pernah menggunakan kekerasan atau kata-kata kasar kepada mereka. Dalam banyak riwayat, Rasulullah terlihat memeluk dan mencium cucunya, Hasan dan Husain.
Bahkan saat shalat, Rasulullah membiarkan cucunya menaiki punggungnya tanpa dimarahi. Sebuah hadits dari Abu Hurairah RA menyebutkan: “Rasulullah pernah mencium Hasan bin Ali, lalu al Aqra’ bin Habis berkata, ‘Aku punya 10 anak, tapi tidak pernah aku cium satupun dari mereka.’ Rasulullah menjawab, ‘Barangsiapa yang tidak menyayangi, maka dia tidak akan disayangi.’” (HR. Bukhari dan Muslim).
Dari sini terlihat bahwa cinta dan kelembutan bukan tanda kelemahan dalam mendidik, justru menjadi kekuatan utama dalam membentuk kepribadian anak yang sehat secara spiritual dan emosional. Islam tidak melarang orang tua untuk menegur atau mendisiplinkan anak, tetapi harus dilakukan dengan bijak. Dalam pendidikan Islam, hukuman hanya dijadikan opsi terakhir setelah proses nasihat dan pembinaan yang panjang. Bahkan dalam konteks perintah sholat pun, Nabi bersabda:
“Perintahkan anakmu shalat pada usia tujuh tahun, dan pukullah mereka (jika tidak shalat) ketika berusia sepuluh tahun, dan pisahkan tempat tidur mereka.” (HR. Abu Dawud).
Namun ulama menjelaskan bahwa pukulan ini tidak boleh menyakitkan, tidak di wajah, tidak melukai dan hanya sebagai bentuk peringatan simbolik. Ini menunjukkan bahwa Islam menolak segala bentuk kekerasan dalam mendidik. Dalam Islam, orang tua tidak hanya memiliki hak untuk mendidik, tetapi juga kewajiban untuk memperbaiki diri. Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar Ra’d: 11).
Orang tua perlu mengevaluasi apakah cara mereka mendidik masih sesuai dengan nilai-nilai Islam. Apakah mereka menjadi tempat aman bagi anak, atau justru sumber luka yang tersembunyi? Toxing Parenting bukan hanya isu psikologi, tapi juga masalah moral dan spiritual. Islam menuntun umatnya untuk mendidik anak dengan adab, kelembutan, dan hikmah.
Setiap anak adalah yang akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT. Sebagai orang tua, mari berusaha meninggalkan pola asuh yang merusak dan menggantinya dengan pola yang Islami; penuh kasih, sabar dan membangun. Karena kelak bukan hanya anak yang akan ditanya amalnya, api juga bagaimana orang tua mendidik mereka.
Penulis: Anik Wulansari M.Med.Kom
Editor: Rara Zarary