0
News
    Update Haji
    Home Featured Istimewa Nahdhatul Ulama Spesial

    Cicit Syaikhona Kholil Bangkalan: Gimana NU Mau Jadi Perekat Bangsa, Kalau Internal Pecah! - Viva

    3 min read

     

    Cicit Syaikhona Kholil Bangkalan: Gimana NU Mau Jadi Perekat Bangsa, Kalau Internal Pecah!

    Rabu, 26 November 2025 - 00:12 WIB
    Oleh :. 

    Sumber :
      Share :

      Surabaya, VIVA – Sejumlah kiai sepuh dari Surabaya dan Madura bersama para santri menggelar pertemuan di Kantor PCNU, Jalan Bubutan, Surabaya, Selasa, 25 November 2025. 

      Dalam momentum pertemuan tersebut, para kiai sepuh menegaskan bahwa Nahdlatul Ulama tetap solid dan tidak akan terpecah, di tengah isu dinamika pemecatan Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya).

      Baca Juga :

      "Kami berharap kepada semua pihak untuk berpikir jernih, dan semuanya pada satu semangat menjaga marwah dari jamiyyah Nahdlatul Ulama sebagai perekat bangsa," kata KH Imam Bukhori Kholil, Cicit Pahlawan Nasional Syaikhona Kholil.

      Menurutnya, NU selama ini selalu diharapkan menjadi perekat kebangsaan dalam bingkai NKRI, perekat persatuan dan kesatuan umat, bangsa dan negara, sehingga eksistensi NU dan warganya harus solid.

      "Ya kalau NU ingin tampil sebagai perekat bangsa ya NU ini harus solid, bagaimana mau jadi perekat bangsa kalau di dalam tubuh NU itu ada perpecahan," ujarnya

      Meski demikian, Pengasuh Pondok Pesantren Ibnu Kholil Bangkalan itu menilai polemik pemecatan Ketua Umum PBNU Gus Yahya sebagai dinamika internal, yang akan berakhir jika diselesaikan dengan bijaksana.

      "Ini dinamika saja bukan perpecahan dan insya Allah semua pihak bijaksana mengambil sikap," ungkapnya 

      Senada dengan itu, KH Ahmad Dzulhilmi Ghozali, Rais Syuriah PCNU Kota Surabaya, menegaskan bahwa seluruh struktur dan kader NU tetap berada dalam satu komando dan mengikuti keputusan pusat. Ia memastikan dinamika ini tidak akan memecah NU.

      "Kami di daerah tetap satu komando. Apa pun keputusan pusat, kami ikuti. NU tidak akan pecah," tegasnya

      Polemik Pemecatan Ketum PBNU

      Sebelumnya, polemik pemecatan Ketua Umum PBNU berawal dari risalah rapat yang dilaksanakan pada 20 November 2025. PBNU mengadakan Rapat Harian Syuriyah PBNU di salah satu hotel di Jakarta Selatan.

      Dalam rapat yang dihadiri 37 orang dari 53 pengurus harian Syuriyah PBNU tersebut membahas mengenai perkumpulan Nahdlatul Ulama.

      Rapat tersebut juga menghasilkan beberapa risalah yang ditandatangani Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar. Salah satu isi surat memuat permintaan agar Gus Yahya turun dari jabatannya sebagai Ketua Umum PBNU.

      Beberapa faktor yang menjadi keputusan ini salah satunya buntut pengundangan narasumber yang diduga berafiliasi dengan dukungan terhadap Zionisme, yakni sebuah gerakan politik yang mendukung pemulangan dan pendirian negara Yahudi ke wilayah Palestina yang nantinya disebut Tanah Israel.

      Sementara itu, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Yahya Cholil Staquf menegaskan dirinya tidak memiliki niat untuk mundur dari jabatannya di tengah munculnya dinamika internal organisasi.

      "Masa amanah yang saya terima dari Muktamar Ke-34 berlaku selama lima tahun dan akan dijalankan secara penuh," kata Gus Yahya di Surabaya, Minggu dini hari.

      Gus Yahya juga mengklarifikasi bahwa hingga kini dirinya belum menerima surat resmi dalam bentuk apa pun terkait isu-isu internal yang beredar, termasuk dokumen yang beredar di khalayak mengenai risalah hasil rapat harian Syuriyah pada Kamis, yang memintanya untuk mundur dari jabatannya. 

      Laporan: Zainal Azkhari/tvOne Surabaya

      Komentar
      Additional JS