0
News
    Update Haji
    Home Featured Spesial

    Keutamaan Bersungguh-sungguh dalam Doa - Lirboyo.net

    5 min read

     

    Keutamaan Bersungguh-sungguh dalam Doa

    Bersungguh-sungguh dalam berdoa
    Bersungguh-sungguh dalam berdoa

    Doa adalah inti ibadah, jembatan komunikasi antara hamba dengan Sang Pencipta, Allah Subhanahu wa Ta’ala. Namun, adab dan cara dalam berdoa memiliki tuntunan yang jelas, terutama dalam hal kesungguhan hati dan keyakinan. Salah satu tuntunan penting yang Rasulullah ﷺ ajarkan adalah bab mengenai larangan mengucapkan: “Ya Allah, ampunilah aku jika Engkau kehendaki,” dan sebaliknya, perintah untuk bersungguh-sungguh dalam meminta.

    Hadis riwayat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dengan tegas menyatakan:

    لاَ يَقُولَنَّ أَحَدُكُمْ: اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي إِنْ شِئْتَ: اللَّهُمَّ ارْحَمْني إِنْ شِئْتَ، لِيعْزِمِ المَسْأَلَةَ، فإِنَّهُ لاَ مُكْرِهَ لَهُ

    “Janganlah salah seorang dari kalian berkata, ‘Ya Allah, ampunilah aku jika Engkau kehendaki,’ (atau) ‘Ya Allah, rahmatilah aku jika Engkau kehendaki.’ Hendaklah ia bersungguh-sungguh dalam meminta, karena sesungguhnya tidak ada yang dapat memaksa-Nya.” (Muttafaq ‘alaih)

    Pernyataan ini diperkuat oleh hadis Anas radhiyallahu ‘anhu:

    إِذا دَعَا أَحَدُكُمْ، فَلْيَعْزِمِ المَسْأَلَةَ، وَلا يَقُولَنَّ: اللَّهُمَّ إِنْ شِئْتَ، فَأَعْطِني، فَإِنَّهُ لاَ مُسْتَكْرهَ لَهُ

    “Apabila salah seorang dari kalian berdoa, hendaklah ia bersungguh-sungguh dalam meminta, dan janganlah ia berkata, ‘Ya Allah, jika Engkau kehendaki, berilah aku,’ karena sesungguhnya tidak ada yang dapat memaksa-Nya.” (Muttafaq ‘alaih)

    1. Mengapa Ungkapan “Jika Engkau Kehendaki” Dilarang?

    Larangan menggunakan ungkapan “in syi’ta” (jika Engkau kehendaki) dalam berdoa berdasar pada beberapa hikmah:

    • Menghilangkan Ketidakpastian dan Keraguan:

    Ketika seorang hamba berkata, “Jika Engkau kehendaki,” seolah-olah ia merasa bahwa Allah bisa saja terpaksa atau terbebani untuk mengabulkan. Padahal, Allah Ta’ala Mahakuasa dan tidak ada yang dapat menolak keputusan-Nya. Mengaitkan permintaan dengan kehendak (seolah-olah ada keraguan) menunjukkan kurangnya azm (tekad/kesungguhan) dan keyakinan penuh terhadap kemurahan dan kekuasaan-Nya.

    • Keagungan Kekuasaan Allah:

    Alasan utama dalam hadis tersebut adalah “fa innahu laa mukriha lahu” (karena sesungguhnya tidak ada yang dapat memaksa-Nya). Hal ini menekankan bahwa tidak ada satu pun makhluk yang dapat memaksa Allah. Oleh karena itu, berdoa dengan azm adalah bentuk pengakuan tulus atas kekuasaan-Nya yang mutlak. Kita tidak perlu ‘memberi pilihan’ atau ‘meringankan beban’ bagi Allah dengan ungkapan yang menggantung.

    2. Perintah untuk Bersungguh-sungguh (Azm al-Mas’alah)

    Sebagai gantinya, Rasulullah ﷺ memerintahkan umatnya untuk bersungguh-sungguh dalam meminta (li-ya’zim al-mas’alah). Hal ini bukan hanya mencakup ucapan, tetapi juga sikap hati saat memohon:

    • Keyakinan Penuh:

    Azm al-mas’alah menuntut keyakinan yang kokoh bahwa Allah mampu dan mau mengabulkan doa, sebagaimana firman Allah dalam hadis qudsi, “Aku sesuai dengan persangkaan hamba-Ku kepada-Ku.”

    • Memperbesar Harapan (Ta’zhim ar-Raghbah):

    Dalam riwayat Muslim ditambahkan, “Wa liyu’azh-zhim ar-raghbah,” yang berarti hendaklah ia memperbesar keinginannya. Ini adalah dorongan untuk meminta dengan ambisi spiritual yang besar, tanpa merasa bahwa permintaan kita terlalu besar bagi-Nya.

    فَإِنَّ اللَّه تَعَالى لاَ يتَعَاظَمُهُ شَيْءٌ أَعْطَاهُ

    “Karena sesungguhnya tidak ada sesuatu pun yang besar bagi Allah Ta’ala untuk Dia berikan.”

    Pernyataan ini adalah penutup yang kuat; jika seseorang telah memiliki kesungguhan dan memperbesar harapannya, ia harus yakin bahwa keagungan Allah jauh melampaui keagungan permintaannya. Segala sesuatu yang Dia berikan tidak akan mengurangi kekayaan atau keagungan-Nya sedikit pun.

    Penutup

    Intinya adalah pengajaran tauhid dalam doa. Seorang mukmin harus berdoa dengan keyakinan yang teguh, memohon ampunan, rahmat, dan karunia dengan sungguh-sungguh, tanpa perlu menggantungkan permintaan pada ungkapan yang menunjukkan keraguan atau membatasi kekuasaan Ilahi. Dengan azm al-mas’alah dan ta’zhim ar-raghbah, hamba menunjukkan penghambaannya yang total dan keyakinannya yang mutlak kepada Kemurahan Allah yang tiada batas.

    Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo

    Komentar
    Additional JS