0
News
    Home Featured Khotbah Jum'at Khutbah Jum'at

    Khutbah Jumat: Berakhlak Baik Kepada Orang yang Buruk Akhlaknya - NU Online

    8 min read

     

    Khutbah Jumat: Berakhlak Baik Kepada Orang yang Buruk Akhlaknya


    Khutbah Pertama

    اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ أَمَرَنَا بِالْإِحْسَانِ وَالْعَفْوِ، وَجَعَلَ أَجْرَ الْمحسنين عظيماً لا يُحصى. وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمدًا عبده ورسوله، سيد المحسنين والعافين عن الناس. صلى الله على محمدو آله وصحبه أجمعين

    أُوْصِيْكُمْ. عِبَادَ اللهِ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ أما بعد

    Jama’ah Jum’at yang dimuliakan Allah,

    Kita telah mengetahui betapa pentingnya menjaga kebersihan hati, dan salah satu cara terbaik untuk menjaganya adalah dengan memaafkan. Kualitas takwa dan iman seseorang diuji bukan hanya saat beribadah, namun juga saat berinteraksi dengan sesama, terutama ketika kita disakiti.

    Allah subhanahu wa ta’ala telah menetapkan prinsip keadilan dalam bermuamalah, sekaligus membuka pintu rahmat yang lebih luas, yaitu pintu maaf dan ihsan. Allah berfirman dalam Al-Qur’an:

    وَجَزٰٓؤُاسَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِّثْلُهَا ‌ۚفَمَنۡ عَفَا وَاَصۡلَحَ فَاَجۡرُهٗ عَلَى اللّٰهِ‌ؕ اِنَّهٗ لَايُحِبُّ الظّٰلِمِيۡنَ‏

    “Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang setimpal, tetapi barangsiapa memaafkan dan berbuat baik (kepada orang yang berbuat jahat) maka pahalanya dari Allah. Sungguh, Dia tidak menyukai orang-orang zhalim.” (QS. Asy-Syura: 40).

    Hadirin rahimakumullah,

    Ayat ini menegaskan bahwa menuntut balas seadil-adilnya memang hak, namun memaafkan (‘afa) dan berbuat baik (ashlaha) adalah derajat yang jauh lebih mulia. Inilah yang ulama sebut dengan ihsan, yaitu berbuat baik melampaui batas kewajiban.

    Allah juga mengingatkan kita bahwa segala perbuatan kita, baik atau buruk, pada akhirnya akan kembali kepada diri kita sendiri:

    اِنْاَحْسَنْتُمْ اَحْسَنْتُمْ لِاَنْفُسِكُمْۗ وَاِنْ اَسَأْتُمْ فَلَهَاۗ

    “Jika berbuat baik, (berarti) kamu telah berbuat baik untuk dirimu sendiri. Jika kamu berbuat jahat, (kerugian dari kejahatan) itu kembali kepada dirimu sendiri.” (QS. Al-Isra’: 7).

    Ihsan sejati bukanlah membalas kebaikan dengan kebaikan, melainkan membalas kejahatan dengan kebaikan. Imam Ahmad meriwayatkan perkataan Nabi Isa ‘alaihissalam tentang hakikat kebaikan:

    كَانَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ يَقُولُ: إِنَّ الْإِحْسَانَ لَيْسَ أَنْ تُحْسِنَ إِلَى مَنْ أَحْسَنَ إِلَيْكَ إِنَّمَا تِلْكَ مُكَافَأَةٌ بِالْمَعْرُوفِ وَلَكِنَّ الْإِحْسَانَ أَنْ تُحْسِنَ إِلَى مَنْ أَسَاءَ إِلَيْكَ

    “Sesungguhnya ihsan itu bukanlah engkau berbuat baik kepada orang yang berbuat baik kepadamu, karena itu hanyalah balasan atas kebaikan. Namun, ihsan adalah engkau berbuat baik kepada orang yang berbuat jahat kepadamu.”

    Hadirin rahimakumullah,

    Bagaimanakah aplikasi nyata dari ajaran luhur ini? Tidak ada teladan yang lebih sempurna selain akhlak Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

    Dikisahkan bahwa di pemukiman Yahudi, ada seorang perempuan tua buta yang setiap minggu, dengan segala tenaga yang tersisa, selalu berpidato menjelek-jelekkan Nabi Muhammad hingga kelelahan dan berkeringat.

    Namun, alih-alih marah atau menuntut balas, Nabi yang mulia justru merasa iba. Beliau pulang, membelikan sup terbaik, dan datang menyuapi perempuan yang telah mencaci-maki beliau itu, sambil berkata: “Ibu istirahat dulu, ibu terlihat capek. Saya bawa sup untuk ibu.”

    Inilah puncak dari ihsan: menyuapi orang yang memfitnah, merawat orang yang memusuhi. Perbuatan ini dilakukan Nabi Muhammad secara rutin, tanpa pamrih.

    Ketika Nabi wafat, Abu Bakar Ash-Shiddiq melanjutkan tugas mulia itu. Namun, kelembutan dan kehalusan suapan Abu Bakar tidak sama dengan Rasulullah. Perempuan Yahudi itu bertanya, “Kamu siapa? Kamu bukan yang kemarin. Yang kemarin enak, lembut, tapi sekarang kasar.”

    Saat itulah Abu Bakar menangis dan mengaku, “Betul saya bukanlah yang kemarin. Saya Abu Bakar, yang kemarin adalah Muhammad, Nabi saya.”

    Mendengar kenyataan pahit bahwa orang yang selama ini merawatnya adalah orang yang mati-matian ia caci, perempuan Yahudi itu pun menjerit penyesalan, lalu tanpa paksaan, tanpa demonstrasi, tanpa perdebatan, ia mengucapkan syahadat, masuk Islam karena terpukau oleh keagungan akhlak Nabi.

    Inilah bukti nyata bahwa kekuatan memaafkan dan ihsan adalah dakwah yang paling ampuh dan kunci untuk melunakkan hati yang paling keras sekalipun. Mari kita berusaha mempraktikkan ihsan ini dalam kehidupan kita.

    بارك الله لي ولكم في القرآن العظيم، ونفعني وإياكم بما فيه من الآيات والذكر الحكيم، وتقبل الله مني ومنكم تلاوته، انه هو السميع العليم.

    Khutbah Kedua

    الحمد لله حمدًا طيبًا مباركًا فيه، كما يحب ربنا ويرضى، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمدًا عبده ورسوله، اللهم صل وسلم وبارك على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين. عِبَادَ اللهِ أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ

    Jama’ah Jum’at rahimakumullah,

    Sungguh, dalam kehidupan bermasyarakat, tak jarang kita dapati diri kita tersakiti oleh lisan atau perbuatan orang-orang yang kurang berakhlak, entah itu melalui ghibah yang mengusik kedamaian keluarga kita, atau fitnah keji yang mereka tujukan kepada para guru dan panutan kita..

    Dalam menghadapi ujian emosi dan amarah semacam ini, jangan biarkan hati kita dikotori oleh dendam dan keinginan untuk membalas setimpal; sebaliknya, kita harus meneladani akhlak Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang paripurna, yang mana beliau membalas kebencian yang mendalam dan permusuhan yang terang-terangan dengan kasih sayang, kebaikan (ihsan), dan kerelaan memberi maaf, sebab hanya dengan mempraktikkan kearifan membalas kejahatan dengan kebaikan inilah pahala kita menjadi jaminan langsung dari Allah subhanahu wa ta’ala, sekaligus menjadi dakwah paling efektif yang mampu melunakkan hati yang paling keras sekalipun.

    Hadirin rahimakumullah

    Marilah kita jadikan akhlak Nabi Muhammad sebagai standar tertinggi dalam membalas kejahatan. Ingatlah janji Allah: pahala bagi yang memaafkan dan berbuat baik adalah tanggungan Allah langsung (fa ajruhu ‘alal-lah), suatu balasan yang nilainya tak terhingga.

    Memaafkan adalah obat hati dari penyakit dendam, dengki, dan kebencian. Ketika kita memilih membalas kejahatan dengan kebaikan, kita meneladani sifat Al-Afuww (Maha Pemaaf) milik Allah.

    Semoga Allah subhanahu wa ta’ala menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang bukan hanya adil, namun juga muhsin (orang yang berbuat baik), yang sanggup membalas cacian dengan kasih sayang, dan keburukan dengan kebaikan.

    اللهم اغفر للمسلمين والمسلمات والمؤمنين والمؤمنات الأحياء منهم والأموات، اللهم اجعلنا من عبادك الذين يخشونك بالغيب…

    اللهم طهر قلوبنا من النفاق، وأعمالنا من الرياء، وألسنتنا من الكذب، وأعيننا من الخيانة، إنك تعلم خائنة الأعين وما تخفي الصدور. اللهم اجعلنا من الكاظمين الغيظ والعافين عن الناس.

    اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هٰذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ.

    رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

    عباد الله، إن الله يأمر بالعدل والإحسان وإيتاء ذي القربى وينهى عن الفحشاء والمنكر والبغي يعظكم لعلكم تذكرون.

    فاذكروا الله العظيم يذكركم، واشكروه على نعمه يزدكم، ولذكر الله أكبر.

    Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo

    Komentar
    Additional JS