0
News
    Home Featured Karomah Syaikhona Muhammad Kholil Bangkalan Pahlawan Nasional Spesial

    Kisah Karomah Syaikhona Muhammad Kholil, Ulama Kharismatik asal Madura yang Dianugerahi Gelar Pahlawan Nasional - SindoNews

    6 min read

     

    Kisah Karomah Syaikhona Muhammad Kholil, Ulama Kharismatik asal Madura yang Dianugerahi Gelar Pahlawan Nasional

    views: 

    Ulama kharismatik asal Madura, Syaikhona Muhammad Kholil dianugerahi gelar Pahlawan Nasional Tahun 2025 bersama 9 tokoh lainnya oleh Presiden Prabowo Subianto. Foto/Ist
    SOSOK ulama kharismatik asal Madura, Syaikhona Muhammad Kholil dianugerahi gelar Pahlawan Nasional Tahun 2025 bersama 9 tokoh lainnya oleh Presiden Prabowo Subianto. Penganugerahan berlangsung saat peringatan Hari Pahlawan pada Senin, 10 November 2025 di Istana Negara, Jakarta.

    Syaikhona Kholil yang memiliki nama asli Muhammad Kholil lahir pada 27 Januari 1820 Masehi. Dia putra dari KH Abdul Lathif, warga Desa Kemayoran, Kecamatan Kota, Bangkalan, Madura, Jawa Timur.

    Baca juga: Kisah Gajah Mada 2 Kali Kalah Bertarung Melawan Sunan Bejagung Lor di Tuban

    Sejak kecil, dia dididik sangat ketat oleh ayahnya. Mbah Kholil kecil memang menunjukkan bakat yang istimewa, kehausannya akan ilmu, terutama ilmu Fiqh dan nahwu. Bahkan, beliau sudah hafal dengan baik Nazham Alfiyah Ibnu Malik (seribu bait ilmu Nahwu) sejak usia muda.



    Melihat bakatnya dalam ilmu agama yang luar biasa, orang tua Mbah Kholil kecil mengirimnya ke berbagai pesantren untuk menimba ilmu. Mengawali pengembaraannya, Mbah Kholil muda belajar kepada Kiai Muhammad Nur di Pondok Pesantren Langitan, Tuban, Jawa Timur.

    Dari Langitan pindah ke Pondok Pesantren Cangaan, Bangil, Pasuruan. Kemudian pindah ke Pondok Pesantren Keboncandi, Pasuruan. Selama belajar di Pondok Pesantren ini beliau belajar pula kepada Kiai Nur Hasan di Sidogiri berjarak 7 Km dari Keboncandi.

    Kehausannya akan ilmu agama terus bertambah. Mbah Kholil muda berkeinginan untuk menimba ilmu ke Makkah. Niatnya itu tidak disampaikan kepada orangtuanya, apalagi meminta ongkos kepada orangtua.

    Mbah Kholil akhirnya pergi ke pesantren di Banyuwangi dan nyambi menjadi “buruh” pemetik kelapa pada gurunya. Untuk setiap pohonnya, dia mendapat upah 2,5 sen.

    Baca juga: Kisah Marsinah, Aktivis Buruh Asal Nganjuk yang Jadi Pahlawan Nasional

    Uang yang diperolehnya tersebut dia tabung. Sedangkan untuk makan, Mbah Kholil menyiasatinya dengan mengisi bak mandi, mencuci dan melakukan pekerjaan rumah lainnya, serta menjadi juru masak teman-temannya.

    Menginjak usia 24 tahun, Mbah Kholil memutuskan untuk pergi ke Mekkah. Di Mekkah, Mbah Kholil belajar dengan Syeikh Nawawi Al-Bantani (Guru Ulama Indonesia dari Banten).

    Di antara gurunya di Makkah ialah Syeikh Utsman bin Hasan Ad-Dimyathi, Sayyid Ahmad bin Zaini Dahlan, Syeikh Mustafa bin Muhammad Al-Afifi Al-Makki, Syeikh Abdul Hamid bin Mahmud Asy-Syarwani. Beberapa sanad hadits yang musalsal diterima dari Syeikh Nawawi Al-Bantani dan Abdul Ghani bin Subuh bin Ismail Al-Bimawi (Bima, Sumbawa).

    Sewaktu berada di Mekkah untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, Mbah Kholil bekerja mengambil upah sebagai penyalin kitab-kitab yang diperlukan oleh para pelajar. Sepulangnya dari Mekkah, Mbah Kholil dikenal sebagai seorang ahli Fiqh dan Tarekat.

    Bahkan beliau dikenal sebagai salah seorang Kiai yang dapat memadukan kedua hal itu dengan serasi. Dia juga dikenal sebagai al-Hafidz (hafal Al-Qur’an 30 Juz). Sepulang dari Mekkah, Mbah Kholil mendirikan pesantren di daerah Cengkubuan, Bangkalan.

    Tak butuh waktu lama, banyak santri berdatangan dari desa-desa sekitarnya. Namun, setelah putrinya, Siti Khatimah dinikahkan dengan keponakannya sendiri, yaitu Kiai Muntaha, pesantren di Cengkebuan itu kemudian diserahkan kepada menantunya.

    Mbah Kholil kemudian mendirikan pesantren lagi di daerah Demangan, 1 km dari pesantren lama. Di pesantren baru ini, Mbah Kholil juga cepat memperoleh santri lagi, bukan saja dari daerah sekitar, tetapi juga dari Pulau Jawa.

    Santri pertama yang datang dari Jawa tercatat bernama Hasyim Asy'ari, dari Jombang. Kemudian banyak santri-santri lain yang menimba ilmu agama dari Mbah Kholil.

    Selain KH. Hasyim Asy'ari, pendiri NU dan pendiri, pengasuh Pondok Pesantren Tebu Ireng Jombang ada juga KHR. As'ad Syamsul Arifin, Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah, Sukorejo Asembagus, Situbondo. KH. Wahab Hasbullah: Pendiri, Pengasuh Pondok Pesantren Tambak Beras Jombang. Pernah menjabat sebagai Rais Aam NU (1947 – 1971).

    KH. Bisri Syansuri, Pendiri, Pengasuh Pondok Pesantren Denanyar, Jombang.KH. Maksum, Pendiri, Pengasuh Pondok Pesantren Rembang, Jawa Tengah. KH. Bisri Mustofa, Pendiri, Pengasuh Pondok Pesantren Rembang. KH. Muhammad Siddiq, Pendiri, Pengasuh Pesantren Siddiqiyah, Jember.

    KH. Muhammad Hasan Genggong, Pendiri, Pengasuh Pondok Pesantren Zainul Hasan Genggong. KH. Zaini Mun'im, Pendiri, Pengasuh Pesantren Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo dan puluhan kiai besar lainnya.

    Beberapa Karomah Syeh Kholil:

    - Ke Mekkah Naik Kerocok


    Suatu ketika di Bangkalan, Syaikhona Kholil (Syeh Kholil) ditemani Kiai Syamsul Arifin ayahanda Kiai As’ad Situbondo. Bersama sahabatnya itu, mereka berbincang-bincang tentang pengembangan pesantren dan persoalan umat Islam di daerah Pulau Jawa dan Madura. Persoalan demi persoalan dibicarakan, tak terasa saking asyik berdiskusi matahari hampir terbenam. Padahal mereka belum melaksanakan shalat Ashar, sementara waktunya hampir habis sehingga tidak mungkin melaksanakan shalat asar dengan sempurna dan khusyuk.

    Akhirnya Syaikhona Kholil memerintah Kiai Syamsul Arifin untuk mengambil kerocok (sejenis daun aren yang dapat mengapung di atas air) untuk dipakai perjalanan menuju Makkah. Setelah mendapatkan kerocok, lantas Syekh Kholil menatap ke arah Makkah, tiba-tiba kerocok yang ditumpanginya berjalan dengan cepat menuju Makkah. Sesampainya di Makkah, adzan Ashar baru saja dikumandangkan. Setelah mengambil wudlu, Syekh Kholil dan Kiai Syamsul Arifin segera menuju shaf pertama untuk melaksanakan shalat asar berjamaah di Masjidil Haram.

    - Mengobati Anak Pecandu Gula


    Dikisahkan oleh K.H. Abdullah Syamsul Arifin, ketua PCNU Jember, terdapat seorang warga yang mempunyai anak dengan kelainan hobi mengonsumsi gula berlebih, bahkan setiap hari anak tersebut bisa menghabiskan sekian kilo gula pasir. Akhirnya ayah anak itu nyabis (sowan) ke Syekh Kholil Bangkalan. Di hadapan Syekh Kholil ia mengeluh soal kebiasaan anaknya menyantap gula.

    Ia berharap agar sang Syekh berkenan menyembuhkan penyakit yang mendera anaknya. Namun Syekh Kholil malah menjawab permohonan si ayah dengan menyuruhnya datang kembali satu minggu kemudian. Tamu tersebut pamit, namun sejak saat itu kebiasaan si anak semakin menjadi-jadi dan semakin banyak gula yang dihabiskan setiap hari, dimakan begitu saja. Sang ayah tetap memenuhi perintah Syekh Kholil untuk datang kembali ke rumahnya seminggu kemudian. Setelah pertemuan yang kedua, anak tersebut berhenti total mengonsumsi gula.

    Konon, selama seminggu Syekh Kholil bertirakat. Tidak makan makanan atau minuman yang berbahan gula pasir. Pesannya sederhana, jika ingin menyuruh sesuatu maka harus mengerjakannya dulu. Kalau ingin melarang sesuatu terhadap orang lain maka yang bersangkutan dahulu yang wajib memberi contoh jika ingin larangannya dipatuhi.

    - Ditangkap lalu Dibebaskan oleh Belanda


    Syekh Kholil pernah ditahan oleh penjajah Belanda karena dituduh melindungi beberapa orang yang terlibat perlawanan terhadap kolonial di pondok pesantrennya. Ketika Belanda mengetahuinya, Syekh Kholil ditangkap dengan harapan para pejuang menyerahkan diri.

    Tetapi ditangkapnya Syekh Kholil, malah membuat pihak Belanda pusing dan kewalahan; karena terjadi hal-hal yang tidak bisa mereka mengerti. Seperti tidak bisa dikuncinya pintu penjara, sehingga mereka harus berjaga penuh supaya para tahanan tidak melarikan diri. Di hari-hari selanjutnya, ribuan orang datang ingin menjenguk dan memberi makanan kepada Syekh Kholil, bahkan banyak yang meminta ikut ditahan bersamanya. Kejadian tersebut menjadikan pihak Belanda dan sekutunya merelakan Syekh Kholil untuk dibebaskan.

    - Tertawa Keras saat Salat


    Sewaktu salat jamaah yang dipimpin seorang kiai pesantren tempatnya mencari ilmu, ia tertawa cukup keras. Setelah selesai salat sang kiai menegur Syekh Kholil muda atas sikapnya tersebut yang memang dilarang dalam Islam. Ternyata Syekh Kholil muda masih terus tertawa meskipun kiai sangat marah terhadapnya.

    Akhirnya ia menjawab hal yang menyebabkannya tertawa keras, bahwa ketika salat berjamaah berlangsung dia melihat sebuah "berkat" (makanan yang dibawa pulang sehabis kenduri) di atas kepala sang Kiai. Mendengar jawaban tersebut sang kiai sadar dan malu atas salat yang dipimpinnya. Karena sang kiai ingat bahwa selama salat berlangsung dia merasa tergesa-gesa untuk menghadiri kenduri yang mengakibatkan salatnya tidak khusyuk.

    Guru Besar Sosiologi Agama UIN Sunan Ampel Surabaya Abdul A'la beberapa waktu lalu menyebut, Syaikhona Kholil memiliki banyak santri yang tersebar ke seluruh penjuru Nusantara. Bahkan, sebagian di antaranya menyandang gelar pahlawan nasional.

    Di antaranya pendiri NU KH Hasyim Asy'ari, KH Wahab Hazbullah hingga KH As'ad Syamsul Arifin Situbondo. “Pada zamannya, Syaikhona Kholil adalah episentrum keilmuan agama Islam di Indonesia,” katanya.

    Salah satu ajaran Syaikhona Kholil yang masih relevan sampai saat ini dan selalu dipegang teguh oleh semua muridnya adalah hubbul wathan minal iman atau cinta Tanah Air adalah sebagian dari iman.
    (shf)
    Komentar
    Additional JS