Khutbah Jumat: Islam Mengajarkan Adab Mengucap Terima Kasih kepada Allah - NU Online
Dalam perjalanan hidup yang terus bergerak, manusia kerap kali terlalu sibuk mengejar apa yang mereka inginkan, hingga lupa mengucap terima kasih kepada Allah atas apa yang telah Dia berikan. Oleh sebab itu, Islam mengajarkan pentingnya menumbuhkan kesadaran untuk mengucapkan terima kasih atas limpahan nikmat yang telah menyertai hidupnya.
Naskah khutbah Jumat berikut ini dengan judul, “Islam Mengajarkan Adab Mengucap Terima Kasih kepada Allah”. Untuk mencetak naskah khutbah Jumat ini, silakan klik ikon print berwarna merah di atas atau bawah artikel ini (pada tampilan desktop). Semoga bermanfaat!
Khutbah I
الْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي أَنْزَلَ الْأَحْكَامَ لِإِمْضَاءِ عِلْمِهِ الْقَدِيمِ، وَأَجْزَلَ الْإِنْعَامَ لِشَاكِرِ فَضْلِهِ الْعَمِيمِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ الْبَرُّ الرَّحِيمُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ الْمَبْعُوثُ بِالدَّيْنِ الْقَوِيمِ، الْمَنْعُوتُ بِالْخُلُقِ الْعَظِيمِ، صَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ أَفْضَلَ الصَّلَاةِ وَالتَّسْلِيمِ، أَمَّا بَعْدُ فَيَا عِبَادَ الْكَرِيْمِ فَإِنِّي أُوْصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ الْحَكِيْمِ، الْقَائِلِ فِي كِتَابِهِ الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ: وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah
Puji syukur alhamdulillahi rabbil alamin, atas segala nikmat dan karunia yang telah Allah karuniakan kepada kita semua. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah limpahkan kepada junjungan kita, Nabi Agung Muhammad SAW. Semoga kita semua termasuk golongan umatnya yang kelak akan mendapatkan syafaat darinya. Amin ya rabbal alamin.
Selanjutnya, sebagaimana Rasulullah senantiasa mengawali khutbah dengan wasiat takwa, maka pada kesempatan yang mulia ini, izinkan saya mengajak diri saya pribadi dan seluruh jamaah Jumat yang dimuliakan Allah untuk senantiasa meneguhkan iman serta menguatkan ketakwaan kita kepada Allah SWT.
Hakikat takwa adalah menjalankan segala perintah dan menjauhi segala larangan-Nya, baik perintah dan larangan yang berupa perbuatan, perkataan, maupun sikap. Takwa tidak hanya akan menjadi benteng kita dalam menjalani hidup di dunia, tetapi juga akan menjadi bekal terbaik yang akan kita bawa menghadap Allah kelak. Dengan takwa, kita akan selamat dari azab neraka dan meraih surga-Nya yang penuh dengan kenikmatan.
Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah
Dalam kehidupan yang serba cepat ini, kita sering kali lupa menyadari betapa banyak nikmat Allah yang bekerja tanpa terlihat. Mulai dari napas yang mengalir, tubuh yang bergerak, hingga pergantian hari yang terus berputar.
Kehidupan di sekitar kita berjalan dengan aturan yang sempurna, dari pagi yang datang tepat waktu hingga rezeki yang mengalir tak terduga. Semua ini adalah karunia yang terus mengalir setiap hari, meski sering kali kita lupakan. Dari sinilah seharusnya sadar bahwa kita adalah penerima yang terus-menerus menerima kebaikan. Maka sebagai penerima, sudah sepantasnya kita berterima kasih atas semua nikmat dan karunia tersebut.
Bahkan, andai Al-Qur’an tidak memerintahkan kita untuk bersyukur, sudah selayaknya hati nurani kita sendiri yang menuntun. Namun persoalannya tidak berhenti pada hati nurani saja, karena Allah memerintahkan kita untuk senantiasa bersyukur kepada-Nya, sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an, yaitu:
وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
Artinya, “(Ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya azab-Ku benar-benar sangat keras’.” (QS. Ibrahim: 7).
Namun demikian, betapa pun kita berusaha untuk bersyukur, kita harus menyadari bahwa nikmat yang telah Allah berikan sangatlah banyak, bahkan tak terhitung jumlahnya. Saking banyaknya, Al-Qur’an sendiri menegaskan bahwa kita tidak akan mampu menghitung semua nikmat tersebut. Allah berfirman dalam surat An-Nahl ayat 18:
وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللهِ لا تُحْصُوها إِنَّ اللَّهَ لَغَفُورٌ رَحِيمٌ
Artinya, “Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya. Sungguh, Allah benar-benar Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS An-Nahl: 18).
Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah
Ayat ini adalah pengingat bahwa betapa pun besar usaha dan upaya untuk bersyukur, kita tidak akan pernah bisa membalas semua kebaikan Allah. Karena nikmat-Nya melebihi segala aspek kehidupan setiap manusia, mulai dari hal-hal yang paling kecil hingga hal-hal yang paling besar, seperti napas yang kita hirup, makanan yang kita makan, hingga keluarga dan teman-teman yang kita cintai.
Namun demikian, ketidakmampuan untuk mensyukuri semuanya tidak berarti boleh meninggalkan berterima kasih kepada-Nya, karena justru di sinilah letak esensi penghambaan kita. Kita tetap berusaha sekuat tenaga untuk berterima kasih, mengakui segala karunia-Nya, dan menggunakan nikmat tersebut di jalan yang diridhai.
Syekh Muhammad Sayyid Thanthawi dalam kitab Tafsir al-Wasith lil Qur’anil Karim, jilid VIII, halaman 124 mengatakan:
وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللهِ، الَّتِي أَنْعَمَهَا عَلَيْكُمْ فِي أَنْفُسِكُمْ، وَفِيمَا سَخَّرَهُ لَكُمْ، لَا تَسْتَطِيعُونَ حَصْرَ هَذِهِ النِّعَمِ لِكَثْرَتِهَا وَلِتَنَوُّعِهَا. وَمَا دَامَ الْأَمْرُ كَذَلِكَ فَاشْكُرُوهُ عَلَيْهَا مَا اسْتَطَعْتُمْ
Artinya, “Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, yang telah Dia anugerahkan kepadamu pada dirimu sendiri, dan pada apa yang Dia tundukkan untukmu, kamu tidak akan sanggup menghitung nikmat-nikmat ini karena banyaknya dan karena keragamannya. Dan selama keadaannya demikian, maka bersyukurlah kepada-Nya atas nikmat-nikmat itu semampu kalian.”
Dari uraian di atas, dapat dipahami bahwa Islam mengajarkan kita untuk bersyukur kepada Allah dengan berterima kasih kepada-Nya, sekalipun kita tidak mampu menghitung jumlah nikmat dan karunia yang Dia berikan kepada kita.
Caranya adalah dengan mensyukuri nikmat-nikmat-Nya semampu kita, dan sesuai dengan kemampuan dan kesempatan yang kita miliki. Tapi juga perlu diingat bahwa syukur kepada Allah ini tidak hanya diwujudkan dalam bentuk ucapan, tetapi juga bisa dalam bentuk perbuatan, yaitu dengan menggunakan nikmat-nikmat-Nya untuk hal-hal yang bermanfaat dan diridhai oleh-Nya.
Penjelasan ini sebagaimana disampaikan oleh Imam al-Baghawi, dalam kitab Ma’alimut Tanzil fi Tafsiril Qur’an, jilid I, halaman 168:
قَوْلُهُ تَعَالى: وَاشْكُرُوا لِي وَلا تَكْفُرُونِ، يَعْنِي وَاشْكُرُوا لِي بِالطَّاعَةِ وَلَا تَكْفُرُونِي بِالْمَعْصِيَةِ فَإِنَّ مَنْ أَطَاعَ الله فَقَدْ شَكَرَهُ وَمَنْ عَصَاهُ فَقَدْ كَفَرَهُ
Artinya, “Firman Allah Ta’ala: ‘Bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu ingkar kepada-Ku.’ (QS. Al-Baqarah: 152), maknanya adalah bersyukurlah kepada-Ku dengan ketaatan dan janganlah kamu kufur kepada-Ku dengan kemaksiatan. Karena sesungguhnya barangsiapa yang taat kepada Allah, maka ia telah bersyukur kepada-Nya, dan siapa yang bermaksiat kepada-Nya, maka ia telah kufur kepada-Nya.”
Lebih dari itu, Islam juga mengajarkan bahwa Allah sangat menghargai rasa terima kasih hamba-Nya, bahkan dalam hal-hal yang kecil sekalipun. Bayangkan, Allah tidak hanya senang dan ridha jika kita bersyukur atas nikmat-nikmat besar seperti kesehatan dan rezeki, tetapi juga atas nikmat-nikmat sederhana seperti makanan dan minuman yang kita konsumsi sehari-hari. Hal ini sebagaimana disampaikan dalam salah satu haditsnya, Rasulullah SAW bersabda:
إنَّ اللهَ لَيَرْضَى عَنِ العَبْدِ أنْ يَأكُلَ الأَكْلَةَ فَيَحمَدَهُ عَلَيْهَا، أَوْ يَشْرَبَ الشَّرْبَةَ فَيَحْمَدَهُ عَلَيْهَا
Artinya, “Sesungguhnya Allah benar-benar ridha terhadap seorang hamba yang makan sesuap makanan, lalu ia memuji-Nya atas makanan itu, atau minum seteguk minuman, lalu ia memuji-Nya atas minuman itu.” (HR. Muslim).
Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah
Oleh sebab itu, Islam mengajarkan adab mengucap terima kasih kepada Allah tidak hanya sebagai ungkapan lisan saja, tetapi juga sebagai manifestasi kesadaran mendalam akan limpahan karunia-Nya yang tak terhingga. Karena itu, bersyukur kepada Allah berarti menyadari setiap nikmat sebagai pemberian-Nya, mengakuinya dengan hati dan lisan, serta mewujudkannya dalam ketaatan dan pemanfaatan nikmat pada jalan yang diridhai-Nya.
Demikian khutbah Jumat tentang Islam mengajarkan adab mengucap terima kasih kepada Allah. Semoga dapat menumbuhkan kesadaran kita untuk senantiasa mensyukuri setiap nikmat yang Allah anugerahkan, baik yang besar maupun yang tampak sederhana, serta mewujudkannya dalam ketaatan dan amal kebaikan. Mudah-mudahan khutbah ini membawa keberkahan dan manfaat bagi kita semua. Amin ya rabbal ‘alamin.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ، وَنَفَعَنِيْ وَاِيَاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ جَمِيْعَ أَعْمَالِنَا إِنَّهُ هُوَ الْحَكِيْمُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِلْمُسْلِمِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ اِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Khutbah II
اَلْحَمْدُ للهِ حَمْدًا كَمَا أَمَرَ. أَشْهَدُ أَنْ لَااِلَهَ اِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، اِلَهٌ لَمْ يَزَلْ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ وَكِيْلًا. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَحَبِيْبُهُ وَخَلِيْلُهُ، أَكْرَمُ الْأَوَّلِيْنَ وَالْأَخِرِيْنَ، اَلْمَبْعُوْثُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ. اللهم صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ كَانَ لَهُمْ مِنَ التَّابِعِيْنَ، صَلَاةً دَائِمَةً بِدَوَامِ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِيْنَ
أَمَّا بَعْدُ: فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَذَرُوْا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ. وَحَافِظُوْا عَلَى الطَّاعَةِ وَحُضُوْرِ الْجُمْعَةِ وَالْجَمَاعَةِ وَالصَّوْمِ وَجَمِيْعِ الْمَأْمُوْرَاتِ وَالْوَاجِبَاتِ. وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ بِنَفْسِهِ. وَثَنَّى بِمَلَائِكَةِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ. إِنَّ اللهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ فِيْ العَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وِالْأَمْوَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَةً، اِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ
عِبَادَ اللهِ، اِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَاِيْتَاءِ ذِيْ الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوْا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرُكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ
Ustadz Sunnatullah, Pengajar di Pondok Pesantren Al-Hikmah Darussalam Durjan Kokop Bangkalan Jawa Timur.