0
News
    Home Berita Featured Nahdhatul Ulama Romadhon Rukyatul Hilal Spesial

    Alasan NU Konsisten Tentunkan Awal Ramadhan dengan Rukyatul Hilal - NU Online

    3 min read

     

    Alasan NU Konsisten Tentunkan Awal Ramadhan dengan Rukyatul Hilal

    Jakarta, NU Online

    Pembahasan mengenai perbedaan penentuan awal bulan hijriah terus bergulir di tengah masyarakat. Diskusi mengarah kepada seputar penggunaan Kalender Hijriah Tunggal (KHGT) bagi awal Ramadhan 2026.


    Nahdlatul Ulama (NU), organisasi keagamaan memilih tidak mengacu kepada KHGT, tapi tetap menggunakan metode rukyatul hilal. Kehati-hatian menjadi tolok ukur NU dalam melakukan pemaknaan nomenklatur 'rukyah'.

     

    "Jangan sampai terlalu liberal kemudian menjadikan subtansi ibadah kita terganggu," kata Pengurus Lembaga Falakiyah PBNU, Ahmad Izzuddin dalam tayangan video YouTube NU Online dikutip Selasa (17/2/2026).

     

    Dalam paparannya, ia mengkritisi penetapan awal Ramadhan 1447 yang merujuk kepada KHGT. Data ini mengacu adanya Hilal di Alaska, Amerika Serikat sudah berada di ketinggian 5° elongasi 8 jam. Ia menilai, awal Ramadhan yang jatuh pada tanggal 18 Februari 2026 sulit diterima.


    "Ketika mendasarkan kepada data ketinggian hilal dan elongasi yang kita tidak berada di wilayah tersebut mestinya perlu dipertimbangkan. Apakah itu bisa dibuat pegangan atau tidak," ujarnya.


    Pakar Ilmu Falak UIN Walisongo, Semarang itu menegaskan bahwa ketentuan adanya taklif ibadah berdimensi ruang dan waktu. Waktu dan lokasi seorang atau komunitas muslim menjadi titik tolak berlakunya suatu hukum.

     

    "Artinya, jika memang di ruang dan waktu kita berada belum tampak tanda hilal maka kita sebenarnya tidak berkewajiban untuk beribadah," jelasnya.

     

    Selain itu, alasan lain NU tetap bertahan dengan metode rukyatul hilal adalah kalkulasi waktu. Ia menyebut bahwa waktu Alaska kurang tepat dijadikan rujukan, sebab waktu Indonesia lebih dulu dibanding dengan Amerika.

     

    "Misalkan waktu Maghrib di Alaska pukul 19.12, pada dasarnya di Indonesia sudah hari Rabu, 18 Februari 2026 pukul 11.12 siang. Di sini nampak bahwa sangat tidak mungkin untuk menerima pelaksanaan puasa ramadhan di hari tersebut," jelasnya.

     

    Kendati demikian, ia mengajak segenap masyarakat menghormati setiap perbedaan terlebih terkait dengan penetapan awal bulan Ramadhan. Sikap semacam ini penting untuk menjaga persaudaraan antar umat Islam. 

     

    "Namun lagi-lagi yang terpenting adalah kriteria itu memantapkan kita untuk beribadah, dan tentunya harapan keabsahan ibadah dapat diterima oleh Allah Swt," tandasnya.


    Komentar
    Additional JS