0
News
    Home Featured Nabi Muhammad SAW Sayyidah Aisyah Spesial

    Alasan Sayyidah Aisyah Menyebut Akhlak Nabi Adalah Al-Qur’an - Lirboyo

    5 min read

     

    Alasan Sayyidah Aisyah Menyebut Akhlak Nabi Adalah Al-Qur’an

    Bayangkan sebuah rumah tangga sederhana di Madinah, di mana kehidupan sehari-hari diliputi oleh cahaya kenabian. Di sana, seorang wanita mulia, Sayyidah Aisyah, hidup membersamai sosok paling agung yang pernah Allah utus ke muka bumi.

    Para sahabat, yang datang dari jauh untuk menimba ilmu dan kearifan, kerap bertanya tentang hakikat sosok yang ia cintaiitu. Suatu hari, seseorang menanyakan tentang akhlak Rasulullah. Jawaban Sayyidah Aisyah sungguh singkat, tetapi mengandung samudera makna yang tak terjangkau akal biasa:

    “Adalah akhlak Rasulullah itu Al-Qur’an.” (Diriwayatkan dalam Shahih Muslim)

    Jawaban ini bukan sekadar puji-pujian istri kepada suami, melainkan sebuah pernyataan filosofis dan teologis yang menjelaskan bagaimana sebuah wahyu ilahi dapat menjelma sempurna dalam raga manusia.

    Baca juga: Khutbah Jumat: Keutamaan Bulan Syaban

    Al-Qur’an yang Berjalan di Bumi

    Mengapa Al-Qur’an?

    Kita tahu, Allah sendiri telah memberikan sanjungan tertinggi kepada kekasih-Nya dalam firman-Nya:

    وَإِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيمٍ

    “Dan sesungguhnya engkau benar-benar berada di atas akhlak yang agung.” (QS. Al-Qalam: 4)

    Sayyidah Aisyah menjelaskan hakikat “akhlak yang agung” itu. Rasulullah telah mengikatkan dirinya secara mutlak untuk tidak melakukan apa pun kecuali yang diperintahkan oleh Al-Qur’an, dan tidak meninggalkan apa pun kecuali yang dilarang oleh Al-Qur’an.

    Sehingga, syariat yang awalnya berupa teks dan perintah, berubah menjadi darah daging, perangai, dan naluri beliau. Kepatuhan total kepada perintah Tuhannya telah menjadi tabiat (sajiyyah) dan akhlak (khuluq) beliau. Beliau tidak hanya mengajarkan hukum, tetapi Beliau adalah perwujudan hukum itu sendiri—sebuah Kitab Suci yang berjalan di tengah-tengah manusia.

    Baca juga: Khutbah Jumat: Mengambil Hikmah di Balik Hujan

    Keseimbangan Sempurna antara Keberanian dan Kelembutan

    Puncak keagungan akhlak ini terletak pada keseimbangan sempurna yang jarang manusia miliki. Sebab, Al-Qur’an Allah turunkan untuk menunjuki jalan yang paling lurus.

    Pribadi Pemberani dan Dermawan: Beliau adalah manusia paling berani di medan perang, terutama saat situasi paling genting. Di sisi lain, Beliau adalah manusia paling dermawan, yang kedermawanannya memuncak bak badai yang menerpa, terutama di bulan Ramadhan.

    Penuh Kelembutan dan Keperkasaan: Beliau digambarkan lebih pemalu daripada gadis pingitan. Namun, di saat yang sama, Beliau adalah manusia paling perkasa dalam melaksanakan perintah Allah. Bahkan di satu riwayat, Beliau bersabda: “Aku adalah yang banyak tertawa (al-dhahuk), lagi sang pembela kebenaran (al-qattal).”

    Baca juga: Khutbah Jumat: Birrul Walidain, Investasi Dunia dan Akhirat

    Kehinaan di Hadapan Tuhan, Kehormatan di Hadapan Makhluk

    Salah satu gambaran paling menyentuh adalah ketika Rasulullah menaklukkan Makkah, sebuah kemenangan termulia dalam sejarah Islam. Beliau memasuki kota suci itu bukan dengan kesombongan, melainkan dengan ketawadhuan yang tak terkira.

    Kepala Beliau tunduk merunduk di atas kendaraannya, begitu rendahnya hingga rambut janggutnya hampir menyentuh pelana unta—sebuah gestur kerendahan hati yang monumental. Tawadhunya mencapai puncaknya hingga disaksikan oleh seorang sahabat bernama Qaylah binti Makhramah yang berkata: “Ketika aku melihat Rasulullah yang khusyuk dalam duduknya, aku pun gemetar karena ketakutan.”

    Inilah hakikat Akhlak Al-Qur’an

    Menghamba total kepada Tuhan dengan kerendahan hati mutlak, sehingga menghasilkan akhlak paling mulia di hadapan sesama manusia. Inilah yang diwariskan kepada sahabat-sahabatnya.

    Akhlak beliau, yang merupakan perwujudan Al-Qur’an, adalah teladan sempurna yang sinarnya abadi hingga hari Kiamat.

    Referensi:

    Abū al-Fidāʼ Ismāʻīl ibn Katsīr, Al-Fuṣūl fī al-Sīrah (Beirut: Muʼassasat ʻUlūm al-Qurʼān, 1403 H), hal. 264–265.

    Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo


    Komentar
    Additional JS