0
News
    Home Featured Gus Baha’ Spesial

    Gus Baha Tegaskan Protap Ibadah Lebih Utama dari Ikhlas, Ini Hikmah yang Jarang Dibahas - Inilah

    5 min read

     

    Gus Baha Tegaskan Protap Ibadah Lebih Utama dari Ikhlas, Ini Hikmah yang Jarang Dibahas


    KH. Ahmad Bahauddin Nursalim atau Gus Baha.(Foto: NUonline)

    Ikhlas selama ini kerap diposisikan sebagai puncak segala amal. Namun, Pengasuh Pondok Pesantren Tahfidzul Qur’an LP3IA Rembang, KH. Ahmad Bahauddin Nursalim (Gus Baha), justru mengajak umat melihat persoalan ibadah dari sudut yang lebih jernih, mendasar, dan sering luput dari pembahasan populer.

    “Ikhlas itu nomor kesekian. Yang penting protap ibadahnya itu benar. Misalnya gini, Anda salat tidak ikhlas tapi berjamaah. Tidak ikhlas, ingin dapat pujian tapi berjamaah. Itu di situ kan ada pengakuan kalau itu wajib. Jadi selalu ada kebaikan dalam kebaikan,” katanya.

    Pandangan tersebut disampaikan Gus Baha dalam video singkat yang diunggah akun Instagram @komikngaji, dikutip inilah.com, Sabtu (7/2/2206). Pernyataan itu bukan meremehkan keikhlasan, melainkan menegaskan fondasi awal beragama, yakni menjalankan amal sesuai tuntunan.

    Menurut salah seorang Rais Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) itu, ketika seseorang tetap melaksanakan kewajiban meski motivasinya belum murni, di situ tetap ada pengakuan terhadap hukum Allah.

    Dalam logika ini, ibadah tidak dipahami secara hitam-putih antara ikhlas dan tidak ikhlas. Ada proses, ada tahapan, dan ada ruang rahmat Allah yang bekerja di luar perhitungan manusia.

    “Meskipun tidak ideal, misalnya Anda jamaah tidak ikhlas. Tapi mengekspresikan diri sujud, mengekspresikan diri rukuk itu sudah luar biasa,” ujarnya.

    Gus Baha kemudian mengaitkan hal ini dengan pemahaman Alquran yang juga dijelaskan oleh Prof. Quraish Shihab, terkait perbedaan istilah mukhlisin dan mukhlashin.

    “Makanya sebagian ayat ini Pak Quraish sangat paham, Ada mukhlisin, ada mukhlasin. Sebetulnya ada harapan kalau Allah ini menghendaki. Kita tidak ikhlas tapi di-mukhlaskan, dimurnikan sama Allah,” katanya.

    Di titik inilah Gus Baha menekankan pentingnya protap amal yang benar. Ketika tata cara ibadah dan amal dijalankan sesuai tuntunan, keberkahan itulah yang membuka peluang pemurnian niat oleh Allah.

    Ulama pakar tafsir Alquran ini memberi contoh yang sangat membumi dan relevan dengan realitas sosial-politik.

    “Misalnya gini, misalnya lagi, anda mau nyalon anggota DPR atau jadi calon bupati, terus memberi sedekah kepada fakir miskin. Itu walupun tidak ikhlas, karena ada keinginan dukungan. Itu sudah bagus. Karena menimbulkan sisi kemanfaatan,” imbuhnya.

    Dalam Alquran sendiri, lanjut Gus Baha, perbedaan istilah tersebut menunjukkan bahwa keikhlasan bisa menjadi anugerah, bukan semata hasil klaim manusia.

    “Makanya dalam sebagian ayat Alquran itu ada Mukhlishin ada Mukhlashin (isim maf'ul),” tegasnya

    Ia mengutip ayat Alquran Surat Yusuf ayat 24:

    إِنَّهُۥ مِنْ عِبَادِنَا ٱلْمُخْلَصِينَ

    Menurut Gus Baha, ayat ini menyiratkan harapan besar bagi manusia yang terus beramal dengan cara yang benar.

    “Sebetulnya ada harapan jika anda tidak ikhlas, Allah-lah yang akan me-mukhlaskan (Allah menghendaki ibadah itu dimurnikan, diikhlaskan). Itu semua terjadi karena keberkahannya protap amal yang benar,” katanya.

    Bahkan dalam kisah Nabi Yusuf AS, Alquran menunjukkan bagaimana perlindungan Allah bekerja pada hamba yang dimurnikan-Nya.

    Contohnya, dalam ayat Alquran tersebut menggambarkan:

    وَلَقَدْ هَمَّتْ بِهِۦ ۖ وَهَمَّ بِهَا لَوْلَآ أَن رَّءَا بُرْهَٰنَ رَبِّهِۦ

    Gus Baha menutup refleksinya dengan menegaskan, manfaat sosial dari sebuah amal juga memiliki nilai yang nyata.

    Karena itu, ia mengingatkan agar umat tidak berhenti pada diskursus keikhlasan semata, tetapi juga menaruh perhatian serius pada amal saleh yang nyata dan berdampak.

    “Jadi menurut saya, Anda jangan hanya ngaji ikhlas, juga ngaji pentingnya amal saleh itu pasti bermanfaat,” pungkasnya.

    Pandangan Gus Baha ini menegaskan satu pesan penting, bahwa agama tidak hanya berbicara tentang niat di dalam hati, tetapi juga tentang ketaatan, tata cara yang benar, dan kemanfaatan yang dirasakan sesama. Dari sanalah, keikhlasan bisa tumbuh, atau bahkan dianugerahkan langsung oleh Allah.


    Komentar
    Additional JS