Hutang Puasa Belum Lunas? Lupa Jumlahnya? Ini yang Harus Kamu Tahu! - Lirboyo net

Jika Ramadhan tahun lalu Anda termasuk golongan orang yang mempunyai hutang puasa dari beberapa sebab seperti berikut:
1. Buka puasa dengan sengaja atau tidak sengaja,
2. Sebab haid,
3. Sebab nifas,
4. Epilepsi,
5. Mabuk, gila yang disebabkan oleh diri Anda sendiri.
Maka Anda harus segera melunasi hutang puasa tersebut dengan niat puasa qadha’ sebagai berikut:
نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ قَضَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانَ لِلهِ تَعَالَى
Arab Latin: Nawaitu shauma ghadin ‘an qadhā’i fardhi syahri Ramadhāna lillâhi ta’ala.
Artinya: “Aku berniat untuk mengqadha puasa bulan Ramadhan di esok hari karena Allah SWT.”
Baca juga: Puasa Sunnah Tanpa Izin Suami, Hukumnya Bagaimana?
Apa Dalil Hutang Puasa?
Allah berfirman dalam Al-Qur’an:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ أَيَّاماً مَعْدُودَاتٍ فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضاً أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa. (Yaitu) dalam beberapa hari yang telah ditentukan. Maka barangsiapa di antara kalian sakit atau sedang dalam perjalanan, maka hendaklah ia mengganti (puasa yang ditinggalkan) pada hari-hari yang lain.” (QS. Al-Baqarah: 183–184)
Ayat ini memberikan penjelasan bahwa siapa pun yang meninggalkan puasa karena sakit atau bepergian, wajib menggantinya di hari lain. Islam menganjurkan agar qadha kita lakukan segera setelah Ramadhan, namun memberi kelonggaran untuk mengerjakannya kapan saja sebelum datang Ramadhan berikutnya. Dengan demikian, ada keluasan waktu (muwassa‘un) bagi mereka yang memiliki udzur.
إِذَا أَفْطَرَ أَيَّامًا مِنْ شَهْرِ رَمَضَانَ لِعُذْرٍ أَوْ غَيْرِهِ، فَالْأَوْلَى بِهِ أَنْ يُبَادِرَ بِالْقَضَاءِ وَذَلِكَ مُوَسَّعٌ لَهُ مَا لَمْ يَدْخُلْ رَمَضَانَ ثَانٍ
“Ketika seseorang membatalkan puasa bulan Ramadhan beberapa hari karena faktor uzur atau hal yang lain, maka hal yang utama baginya adalah segera mengqadha’i puasanya. Mengqadha’ ini bersifat muwassa’ (luas/panjang) selama tidak sampai masuk Ramadhan selanjutnya.”
Baca juga: 5 Hal yang Dikira Haram Padahal Boleh Menurut Islam
Bagaimana jika Hutang Sampai Ramadhan Berikutnya?
Imam Mawardi melanjutkan keterangan tadi dengan redaksi:
فَإِنْ دَخَلَ عَلَيْهِ شَهْرُ رَمَضَانَ ثَانٍ صَامَهُ عَنِ الْفَرْضِ، لَا عَنْ الْقَضَاءِ فَإِذَا أَكْمَلَ صَوْمَهُ قَضَى مَا عَلَيْهِ ثُمَّ يَنْظُرُ فِي حَالِهِ، فَإِنْ كَانَ آخِرُ الْقَضَاءِ لِعُذْرٍ دَامَ بِهِ مِنْ مَرَضٍ أَوْ سَفَرٍ، فَلَا كَفَّارَةَ عَلَيْهِ، وَإِنْ أَخَّرَهُ غَيْرُ مُعْذِرٍ فَعَلَيْهِ مَعَ الْقَضَاءِ الْكَفَّارَةُ عَنْ كُلِّ يَوْمٍ بِمَدٍّ مِنْ طَعَامٍ، وَهُوَ إِجْمَاعُ الصَّحَابَةِ
Jika sampai masuk waktu Ramadhan selanjutnya maka ia berpuasa fardhu, bukan puasa qadha. Ketika puasa Ramadhan pada tahun tersebut telah sempurna, baru ia mengqadha puasanya yang lalu dan melihat keadaannya: jika ia mengakhirkan qadha karena ada uzur yang terus-menerus berupa sakit atau perjalanan maka tidak wajib kafarat baginya. Jika ia mengakhirkan qadha tanpa adanya uzur maka wajib baginya untuk mengqadha puasa sekaligus membayar kafarat pada setiap hari (yang belum di qadha) senilai satu mud makanan, hal ini telah menjadi konsensus para sahabat.” [Abu al−Hasan Ali bin Muhammad bin Muhammad bin Habib al−Mawardi, al−Hawi al−Kabir fi Fiqh Madzhab al−Imam al−Shafi‘i wahuwa Sharh Mukhtasar al−Muzani, (Beirut:Dar al−Kutub al−‘Ilmiyyah, t.t.),v.3, h.451.]
Baca juga:
Jika Lupa Jumlah Hutang Puasa? Ini jawaban Syekh Ibnu Hajar
Sering kali kaum muslimin dilanda kebingungan: “Berapa sebenarnya hutang puasa saya? Kok tidak ingat jumlah pastinya?” Dalam hal ini, para ulama memberikan panduan. Imam Ibnu Hajar al-Haitami dalam Tuhfah al-Muhtaj menegaskan:
وَلَوْ عَلِمَ أَنَّهُ صَامَ بَعْضَ اللَّيَالِي وَبَعْضَ الْأَيَّامِ وَلَمْ يَعْلَمْ مِقْدَارَ الْأَيَّامِ الَّتِي صَامَهَا فَظَاهِرٌ أَنَّهُ يَأْخُذُ بِالْيَقِينِ فَمَا تَيَقَّنَهُ مِنْ صَوْمِ الْأَيَّامِ أَجْزَأَهُ وَقَضَى مَا زَادَ عَلَيْهِ سم.
Yang intinya adalah apabila seseorang lupa jumlah puasanya, maka ia mengambil angka yang paling ia yakini sebagai dasar qadha. [Aḥmad bin Muḥammadbin‘Alı bin Ḥajar al−Haytamı, Tuḥfat al−Muḥtaj fı Sharḥ al−Minhaj,(Meṣir: al−Maktabah al−Tijariyyah al−Kubra, t.t.). v. 3 h. 396.]
Baca juga: Apa Itu Diyatsah? Mengenal Sosok Suami yang Tidak Punya Rasa Cemburu dalam Islam
Pandangan dari Imam al-Ghazali Perihal Lupa Hutang Puasa
Hal ini selaras dengan Imam al-Ghazali dalam Ihya’ Ulum al-Din:
فإن شك في عدد ما فاته منها حسب من مدة بلوغه وترك القدر الذي يستيقن انه أداه ويقضي الباقي وله أن ياخذ فيه بغالب الظن ويصل إليه على سبيل التحري والاجتهاد
وأما الصوم فإن كان قد تركه في سفر ولم يقضه أو أفطر عمدًا أو نسى النبة بالليل ولم يقض فيتعرف مجموع ذلك بالتحرى والاجتهاد ويشتغل بقضائه
“Apabila seseorang ragu mengenai jumlah puasa yang pernah ia tinggalkan, maka ia menghitungnya sejak masa baligh, lalu meninggalkan (tidak ia hitung) kadar puasa yang ia yakini telah ia tunaikan, dan sisanya wajib ia ganti. Ia juga boleh mengambil keputusan berdasarkan dugaan yang lebih kuat (ghalabatuzh-zhann) dengan cara memperkirakan dan berijtihad.
Adapun tentang puasa, jika ia pernah meninggalkannya ketika safar lalu belum mengganti, atau ia berbuka dengan sengaja, atau lupa berniat di malam hari dan tidak mengqadha, maka hendaknya ia mengenali jumlah keseluruhannya melalui perkiraan dan ijtihad, lalu bersungguh-sungguh untuk menggantinya.” [Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al−Ghazali, Ihya’‘Ulum ad−Din, (Beirut: Dar al−Ma‘rifah, t.t.),v.4, h.35.]
Artinya, syariat tidak membiarkan seorang mukmin terjerat kebingungan. Ada jalan keluar: qadha dengan angka minimal yang kiya yakini, lalu sempurnakan dengan perkiraan terbaik. Prinsipnya, lebih baik menambah daripada kurang, agar beban tanggungan selesai sebelum Ramadhan berikutnya.
Semangat melaksanakan qadha’ puasa! Sebentar lagi Ramadhan akan tiba!
Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo