0
News
    Home Berita Featured Khotbah Jum'at Khutbah Jum’at Romadhon Spesial

    Khutbah Jumat: Ramadhan, Melatih Sabar, Memperkuat Syukur - NU Online

    8 min read

     

    Khutbah Jumat: Ramadhan, Melatih Sabar, Memperkuat Syukur

    khutbah Jumat (Freepik)

    Puasa Ramadhan mampu menjadi sarana pendidikan iman yang menanamkan dua pilar utama dari iman yaitu sabar dan syukur. Melalui sabar, kita belajar mengendalikan diri dalam ketaatan dan menjauhi maksiat, serta tetap teguh menghadapi ujian. Melalui syukur, kita menyadari setiap nikmat berasal dari Allah dan menggunakannya untuk kebaikan.

    Teks khutbah Jumat berikut berjudul "Khutbah Jumat: Ramadhan, Melatih Sabar, Memperkuat Syukur". Untuk mencetak naskah khutbah Jumat ini, silakan klik ikon print berwarna merah di atas atau di bawah artikel ini (pada tampilan desktop). Semoga bermanfaat.

    Khutbah I

    اَلْحَمْدُ للهِ جَعَلَ رَمَضَانَ شَهْرًا مُبَارَكًا، وَفَرَضَ عَلَيْنَا الصِّيَامَ لِأَجْلِ التَّقْوٰى. أَشْهَدُ أَنْ لَاۧ إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مَحَمَّدٍ الْمُجْتَبٰى، وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَهْلِ التُّقٰى وَالْوَفٰى. أَمَّا بَعْدُ، فَيَاأَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ! أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ فَقَدْ فَازَ مَنِ اتَّقَى. فَقَالَ اللهُ تَعَالٰى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ. يَاۤأَيُّهَا الَّذِيْنَ ءٰمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ

    Maasyiral Muslimin, jamaah Jumat rahimakumullah,

    Saatnya kita semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan memperkuat ketakwaan kita, bukan sekadar kata-kata, tapi melalui tindakan nyata: menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.

    Apalagi di bulan Ramadhan, momen yang istimewa ini mengajak kita untuk berpuasa selama sebulan penuh. Tujuannya jelas: membentuk kita menjadi pribadi yang bertakwa, yang konsisten menjalankan perintah Allah, dan memiliki kekuatan untuk menahan diri dari hal-hal yang dilarang oleh syariat. 

    Perlu kita ketahui bahwa takwa dalam puasa juga tidak bisa terlepas dari iman. Pasalnya, dalam ayat utama perintah puasa pada Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 183 ditegaskan bahwa yang dipanggil untuk melaksanakan kewajiban puasa adalah orang-orang yang beriman:

    يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ

    Artinya: "Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa."

    Terkait iman, Imam Ghazali dalam kitab Ihya' Ulumuddin menjelaskan bahwa iman terdiri dari dua elemen atau bagian yakni sabar dan syukur.

    فَإِنَّ الْإِيمَانَ نِصْفَانِ نِصْفٌ صَبْرٌ وَنِصْفٌ شُكْرٌ كَمَا وَرَدَتْ بِهِ الْآثَارُ وَشَهِدَتْ لَهُ الْأَخْبَارُ

    Artinya: “Sesungguhnya iman itu terdiri dari dua bagian: setengahnya adalah sabar dan setengahnya adalah syukur, sebagaimana hal itu telah disebutkan dalam berbagai atsar (riwayat) dan ditegaskan oleh banyak khabar.”

    Ma'asyiral Muslimin, jamaah Jumat rahimakumullah,

    Ibadah Puasa Ramadhan merupakan momentum yang tepat bagi kita untuk melatih, mengamalkan, dan mewujudkan dua elemen iman yakni  sabar dan syukur.

    Pertama adalah sabar. 

    Dalam puasa, kita diajarkan bagaimana menahan lapar, dahaga, dan amarah. Kita juga bersabar dalam ketaatan dengan melaksanakan shalat tarawih, bangun sahur di sepertiga malam, menjaga shalat lima waktu, serta memperbanyak membaca Al-Qur’an meskipun tubuh terasa lelah.

    Puasa bukan sekadar menahan diri dari makan dan minum, tetapi merupakan madrasah ruhani yang membentuk karakter sabar dalam diri kita. Dalam kitab Ihya’ Ulumuddin, Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa sabar memiliki tiga dimensi utama yakni: 

    1.    Sabar dalam ketaatan, seperti tetap melaksanakan ibadah puasa meski berat.

    2.    Sabar dalam menjauhi maksiat, seperti menjaga pandangan, lisan dari ghibah dan dusta, serta menahan amarah saat lapar.

    3.    Sabar dalam menghadapi musibah, seperti tetap berpuasa meskipun kondisi fisik melemah atau aktivitas terasa berat.

    Ketiga bentuk sabar ini hadir secara lengkap dalam ibadah puasa Ramadhan. Dari sinilah lahir iman yang kokoh dan hati yang semakin dekat dengan ridha Allah SWT serta terhindar dari puasa yang hanya mendapat lapar dan dahaga.

    Rasulullah SAW telah mengingatkan agar puasa tidak hanya menghasilkan lapar dan dahaga semata:

     كَمْ مِنْ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الْجُوْعَ وَالْعَطَشَ

    Artinya: “Banyak orang yang berpuasa namun tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya kecuali rasa lapar dan dahaga.” (HR. An-Nasa’i dan Ibnu Majah).

    Hadits ini menjadi pengingat bahwa kesabaran dalam puasa harus melahirkan perubahan sikap dan pengendalian diri yang nyata.

    Kedua adalah syukur. 

    Selain melatih kesabaran, Ramadhan juga mendidik kita untuk memperdalam rasa syukur. Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering menerima nikmat tanpa benar-benar menyadarinya. Namun ketika waktu berbuka tiba, seteguk air dan sebutir kurma terasa begitu berharga. Lapar seharian membuka kesadaran betapa besar nikmat Allah yang sebelumnya kita anggap biasa-biasa saja.

    Menurut Imam Al-Ghazali, syukur merupakan perpaduan antara ilmu, hal, dan amal. Dengan ilmu kita menyadari sepenuhnya bahwa setiap nikmat berasal dari Allah. Dengan hal akan muncul rasa bahagia dan tunduk kepada Sang Pemberi nikmat. Dan dengan amal kita mampu menggunakan nikmat tersebut untuk ketaatan, bukan untuk kemaksiatan.

    Dalam Ramadhan, rasa syukur diterjemahkan dalam amal nyata seperti berbagi makanan berbuka, membayar zakat, memperbanyak sedekah, dan membantu sesama. Puasa mengajarkan bahwa kebahagiaan bukan pada banyaknya kenikmatan, tetapi pada kesadaran untuk mensyukurinya.

    Maasyiral Muslimin, jamaah Jumat rahimakumullah,

    Harmoni antara sabar di siang hari dan syukur saat berbuka melahirkan keseimbangan ruhani. Jika setelah Ramadhan kita menjadi lebih sabar dalam menghadapi ujian dan lebih bersyukur dalam menerima nikmat, maka itulah tanda bahwa puasa kita membuahkan perubahan yang hakiki dan meningkatkan kualitas iman serta takwa kita. Dengan puasa yang berkualitas berdassar iman ini insya Allah dosa-dosa kita yang lalu akan diampuni oleh Allah swt.

    Rasulullah bersabda:

    مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إيْمَا نًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ  

    Artinya: “Barangsiapa berpuasa di bulan Ramadhan karena Iman dan mengharap pahala dari Allah maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR Bukhari dan Muslim).

    Akhirnya, sabar dan syukur bukan hanya tema Ramadhan, melainkan bekal hidup sepanjang tahun. Puasa menjadi sarana Latihan yang tujuan akhirnya adalah terbentuknya pribadi yang kokoh dalam kesabaran dan lapang dalam kesyukuran menuju pribadi yang beriman dan bertakwa.

    Semoga kita termasuk hamba-hamba yang mampu memetik hikmah Ramadhan sehingga iman kita semakin kuat dan perjalanan hidup kita semakin dekat dengan ridha Allah SWT. Amin.

    بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ بِاْلُقْرءَانِ اْلعَظِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ ِبمَا ِفيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ, فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهٗ هُوَ اْلغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

    Khutbah II

    اَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا، َأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ  وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ  أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا، اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

    اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ. عِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.

    -------

    H Muhammad Faizin, Ketua PCNU Kabupaten Pringsewu, Provinsi Lampung.


    Komentar
    Additional JS