Khutbah: Memahami Cara Bercanda Nabi Muhammad - Lirboyo net

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ حَمْدًا كَثِيْرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيْهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ الْقَائِلُ فِي كِتَابِهِ الْعَزِيزِ: ﴿لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللّٰهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ﴾. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، قُدْوَةُ الْحُسْنَى فِي كُلِّ شَأْنٍ حَتَّى فِي الْمِزَاحِ وَالْفُكَاهَةِ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَ نَهْجَهُ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللّٰهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.
Baca juga: Khutbah Jumat: Keutamaan Bulan Syaban
Ma’āsyiral Muslimīn Rahimakumullāh,
Dalam kehidupan sehari-hari, kita akrab dengan istilah canda, gurau, atau dalam konteks yang lebih spesifik, Gojlokan atau Roasting. Ia bukan sekadar basa-basi, melainkan sebuah seni interaksi yang—jika kita pahami dan kita laksanakan dengan benar—dapat menjadi simbol keakraban, rasa respek, bahkan menjadi perekat antar jiwa.
Namun, benarkah gojlokan itu selalu positif? Di mata sebagian orang, ia hanya dianggap sebagai alat untuk merendahkan atau mempermalukan. Kita harus memahami: gojlokan yang hakiki adalah humor yang tujuannya adalah tertawa bersama, bukan menertawakan seseorang.
Baca juga: Khutbah Jumat: Mengambil Hikmah di Balik Hujan
Ma’āsyiral Muslimīn Rahimakumullāh,
Untuk memahami etika gojlokan, kita tidak perlu mencari jauh-jauh. Cukup kita tengok pada sosok teladan terbaik, Baginda Nabi Muhammad saw.
Nabi kita bukanlah sosok yang kaku. Beliau memiliki selera humor yang tinggi dan bahkan, rela sahabat jadikan objek gojlokan, selama itu dalam koridor kebenaran dan keakraban.
Dengarkanlah kisah kedekatan beliau dengan Sayyidina Ali bin Abi Thalib:
Dalam sebuah jamuan makan kurma, Sayyidina Ali pernah menguji Nabi dengan meletakkan biji kurma bekasnya di hadapan beliau seraya berkata, “Wahai Nabi, begitu laparnya engkau, sehingga menghabiskan beberapa kurma, coba lihat di hadapanmu, Nabi!”
Nabi tak tinggal diam. Dengan kecerdasan humor beliau, Nabi membalas gojlokan itu dengan timbalan yang lebih menohok, namun penuh kasih, “Wahai Ali, lebih lapar lagi engkau, sehingga menghabiskan banyak kurma sekaligus biji-bijinya!”
Lihatlah! Ini adalah simbol keakraban tertinggi, di mana seorang Sahabat berani bercanda dengan Nabi, dan Nabi membalasnya. Gojlokan ini bertujuan untuk menghormati dan merayakan kebersamaan, bukan untuk menjatuhkan.
Baca juga: Khutbah Jumat: Kekayaan Sejati Adalah Kaya Hati
Ma’āsyiral Muslimīn Rahimakumullāh,
Bahkan, gojlokan oleh Nabi seringkali berfungsi sebagai sarana pendidikan dan kabar gembira—sebuah humor yang bermakna.
Pernah seorang nenek tua dari sahabat Anshar sowan kepada Nabi memohon doa ampunan. Nabi malah menggojloknya dengan kalimat, “Apakah kamu tahu bahwa surga tidak menerima orang-orang tua?”
Seketika si nenek sedih. Lalu, Nabi tersenyum dan membacakan Q.S. Al-Waqi’ah ayat 35 yang menjelaskan bahwa di surga, semua orang akan dikembalikan muda belia seperti sedia kala! Nenek itu pun lega, hatinya bahagia tak kepalang. Nabi menggunakan humor untuk menyampaikan kebenaran akidah dengan cara yang indah dan menghibur.
Pada kesempatan lain, ketika ditanya perihal suami si nenek, Nabi dengan penuh keanggunan Nabi menggojlok lagi: “Oh yang di matanya ada putih-putihnya itu ya, Nek?” Hingga si nenek kebingungan. Nabi lantas menjelaskan, “Coba lihat, Nek. Bagian putih mata si kakek lebih banyak daripada hitam di bola mata!”
Dari semua kisah ini, kita dapati pelajaran berharga: Nabi bersabda: “Saya bercanda, tapi tak akan aku candakan kecuali suatu yang benar.” Inilah etika tertinggi dalam bergojlok: bercanda tapi berlandaskan kejujuran!
Ma’āsyiral Muslimīn Rahimakumullāh,
Walaupun asyik, gojlokan tetap memiliki batasan, etika, dan rambu-rambu yang tidak boleh dilanggar. Batasan itu adalah:
Pertama, tidak Menyebabkan Sakit Hati: Tujuan harus murni bergurau dan berbagi tawa. Jangan sampai gojlokan kita memunculkan “baper” yang berkepanjangan atau rasa dipermalukan.
Kedua, bukan niat menjatuhkan: Jangan memposisikan seseorang sebagai sasaran empuk untuk ditertawakan sendirian.
3. Tidak Main-Main dengan Hal Sensitif: Hindari menjadikan agama, keluarga, kekurangan fisik atau mental, dan kesukaan pribadi sebagai bahan gojlokan.
Ingatlah pesan dari seorang bijak: “Adakalanya kau hanya ikut tertawa saat sedang tersakiti… Kalau tahu begitu, belajar hati-hati menertawakan orang di sekelilingmu, bukan tidak mungkin mereka juga harus tertawa saat engkau menyakitinya.”
Mari kita jaga tawa kita. Pastikan itu tawa yang juga berasal dari kesenangan dan keakraban, bukan dari rasa sakit yang disembunyikan. Jadikan gojlokan sebagai simbol kedekatan, sebagaimana yang dicontohkan oleh Nabi dan para Sahabat.
بَارَكَ اللّٰهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْاٰنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَ إِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْاٰيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
KHUTBAH KEDUA
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ عَلَى إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَانِهِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ، وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللّٰهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.
Ma’āsyiral Muslimīn,
Setelah kita merenungkan etika humor dan gojlokan dalam Islam, mari kita jadikan adab Rasulullah sebagai pedoman. Jadilah pribadi yang mampu menertawakan diri sendiri agar orang lain tertawa bersama, daripada menjadi orang yang hanya mampu menertawakan dan mempermalukan orang lain.
Ingatlah, gojlokan adalah simbol keakraban. Hanya mereka yang sudah akrab yang berhak melakukannya. Jika belum, kesannya akan menjadi tidak sopan, atau bahkan kurang ajar. Kita harus belajar menempatkan diri: kapan harus bermain, dan kapan harus tidak main-main.
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَارْضَ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِي بَكْرٍ، وَعُمَرَ، وَعُثْمَانَ، وَعَلِيٍّ، وَعَنِ الصَّحَابَةِ أَجْمَعِيْنَ.
يا الله اجْعَلْنَا مِنَ الَّذِينَ يَحْفَظُوْنَ لِسَانَهُمْ، وَيُجِيْدُوْنَ فَنَّ الْمِزَاحِ بِالْحَقِّ وَالْأَدَبِ. وَاحْفَظْ بِلَادَنَا مِنْ كُلِّ سُوْءٍ، وَوَفِّقْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا لِمَا فِيْهِ خَيْرُ الْإِسْلَامِ وَالْمُسْلِمِيْنَ.
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَاتِ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى، وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ.
فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ، وَاللّٰهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ.
Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo