0
News
    Home Aplikasi Featured Spesial Tekno

    Memahami Potensi Perbedaan Jadwal Imsakiyah NU Online dengan Aplikasi Lain dan Masjid Setempat - NU Online

    7 min read

     

    Memahami Potensi Perbedaan Jadwal Imsakiyah NU Online dengan Aplikasi Lain dan Masjid Setempat

    Jakarta, NU Online

     

    Jadwal imsakiyah atau jadwal shalat di NU Online Super App terkadang ada perbedaan dengan jadwal lain yang beredar. Hal ini merupakan sesuatu yang wajar mengingat ada penghapusan ihtiyath atau waktu kehati-hatian yang biasanya ditambahkan sebesar 2 menit.

     

    Penghapusan waktu ihtiyath ini atas masukan dari hasil pembahasan dalam bahtsul masail yang digelar LBM Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Gorontalo pada Ahad (23/2/2025) lalu.

     

    "Karena pada aplikasi NU Online menggunakan waktu ihtiyath +2 menit, maka kami memberikan masukan agar khusus pada bulan Ramadhan, untuk waktu subuh tidak menggunakan waktu ihtiyath 2 menit," kata Adin Mustofa, Ketua LBM PWNU Gorontalo, sebagaimana dikutip dari NU Online pada Jumat (20/2/2026).

     

    Berdasarkan hasil bahtsul masail itu juga, NU Online Super App boleh dijadikan acuan imsak maupun buka puasa. "Musyawirin bahtsul masail setelah mengemukakan ibarot para ulama, bersepakat bahwa hukumnya boleh bagi orang yang berpuasa untuk menjadikan aplikasi NU Online sebagai acuan imsak dan ifthar," ungkapnya.

     

    Berdasarkan masukan tersebut, NU Online langsung membahasnya dengan Lembaga Falakiyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LF PBNU).

     

    "Akhirnya, setelah konsultasi dan mendengar masukan dari LF PBNU, sekitar pertengahan 2025, kita terapkan penghapusan itu dengan tetap ngasih peluang user menambah dan mengoreksi ketinggian secara manual di menu Pengaturan," terang Mahbib Khoiron, Manajer NU Online Super App.

     

    Untuk menyesuaikan kebutuhan pengguna, NU Online Super App dilengkapi pengaturan yang memungkinkan pengguna untuk mengurangi/menambah menit ihtiyath sendiri. Juga disediakan opsi koreksi waktu bagi mereka yang berada di lokasi dataran tinggi. 

     

    "Silakan tap ikon pengaturan di kanan atas pada halaman Jadwal Shalat, atau tap Pengaturan lalu pergi ke Lokasi dan Pengaturan Waktu Shalat," demikian dijelaskan dalam aplikasi.

     

    Namun, yang perlu menjadi catatan, bahwa penambahan waktu ihtiyath juga berarti memperpanjang batas akhir waktu shalat sebelumnya. Karena awal waktu shalat Ashar, Maghrib, Isya', dan Subuh adalah batas akhir—secara urut—waktu shalat Dhuhur, Ashar, Maghrib, dan Isya'.

     

    Beda dengan adzan masjid

     

    Dijelaskan di dalam aplikasi, bahwa hasil perhitungan waktu shalat dalam NU Online Super App diperoleh secara otomatis sesuai koordinat GPS dari lokasi pengguna. Untuk wilayah Indonesia, NU Online menerapkan metode perhitungan Lembaga Falakiyah Nahdlatul Ulama (Subuh -20° dan Isya -18°). 

     

    "Perhitungan juga melibatkan elevasi (mdpl – meter di atas permukaan laut) lokasi pengguna untuk menghasilkan waktu maghrib dan terbit matahari secara lebih akurat," demikian penjelasan dalam menu Pertanyaan Umum yang terdapat di dalam NU Online Super App.

     

    Lebih rinci, dijelaskan bahwa setidaknya ada dua kemungkinan ketika jadwal waktu shalat di NU Online Super App tidak bersamaan dengan adzan di masjid/mushala sekitar. 

     

    Pertama, perbedaan metode perhitungan waktu shalat yang dipakai masjid/mushala, atau ada perbedaan durasi ihtiyath yang diterapkan. Ihtiyath adalah waktu yang ditambahkan pada hasil penghitungan waktu shalat sebenarnya untuk mengantisipasi jam yang kurang akurat serta untuk menjangkau wilayah yang lebih luas.

     

    "Secara bawaan (default), NU Online tidak menambahkan waktu ekstra (ihtiyath) ke dalam hasil perhitungan awal waktu shalat, untuk menghindari diterabasnya batas akhir waktu shalat sebelumnya. Sebab, awal waktu shalat (kecuali dhuhur) adalah sekaligus batas akhir waktu shalat sebelumnya," demikian penjelasan yang termaktub dalam aplikasi.

     

    Kedua, kedisiplinan waktu dalam mengumandangkan adzan. Sebagaimana diketahui, kumandang adzan dari masjid/mushala dilakukan manual oleh manusia, bukan oleh robot atau mesin yang menyala otomatis pada waktu tertentu lewat sistem pengaturan. Karenanya, kemungkinan keterlambatan, atau bahkan terlalu cepat, beberapa menit bisa saja terjadi karena faktor-faktor manusiawi.

     

    Beda dengan aplikasi lain

     

    Sementara, potensi perbedaan waktu antara NU Online Super App dengan aplikasi lain setidaknya karena empat kemungkinan. Pertama, metode hisab yang digunakan. Untuk wilayah Indonesia, NU Online menggunakan metode hisab dari Lembaga Falakiyah NU, dengan standar posisi matahar, yakni Subuh -20° dan Isya -18°. 

     

    NU Online menghitung waktu shalat dengan mempertimbangkan elevasi (ketinggian dari permukaan laut) lokasi pengguna, khususnya untuk akurasi waktu maghrib dan terbit matahari. Sementara, aplikasi atau lembaga lain bisa jadi menggunakan parameter atau metode berbeda.

     

    Kedua, penggunaan atau tidaknya waktu ihtiyath. Dalam versi terbaru, secara bawaan (default) NU Online tidak menambahkan waktu ekstra (ihtiyath) ke dalam hasil perhitungan awal waktu shalat. Hal ini atas dasar pertimbangan dan asumsi tentang akurasi perhitungan langsung dari koordinat lokasi pengguna. 

     

    Sebagaimana dijelaskan sebelumnya, bahwa penerapan waktu tambahan dikhawatirkan justru akan menerabas batas akhir waktu shalat sebelumnya. Sebab, awal waktu shalat (kecuali dhuhur) selalu menjadi batas akhir shalat sebelumnya. Aplikasi lain mungkin masih menambahkan ihtiyath secara otomatis dengan jumlah menit tertentu. 

     

    Ketiga, perhitungan berdasarkan titik koordinat pengguna. NU Online menghitung waktu shalat berdasarkan koordinat GPS dari lokasi pengguna secara langsung, bukan satu titik pusat (seperti ibukota kabupaten). Sementara aplikasi lain bisa jadi menggunakan markaz tetap atau generalisasi sekabupaten/kecamatan, sehingga ada selisih waktu. 

     

    Keempat, mekanisme pembulatan angka ke satuan menit. Umumnya aplikasi ibadah membulatkan hasil hitungan detik tersebut ke dalam satuan menit.

     

    Sebagai ilustrasi, misal perhitungan waktu shalat wilayah Jakarta pada aplikasi NU Online mendapatkan hasil waktu Isya pada pukul 19:01:03 dan dibulatkan ke 19:02. Aplikasi B melakukan perhitungan masih di wilayah Jakarta tetapi sedikit berbeda koordinat, dan mendapatkan hasil waktu pukul 19:00:58 dan dibulatkan ke 19:00.

     

    "Hasil yang sebenarnya berbeda 5 detik tetapi setelah dibulatkan menampilkan selisih 2 menit. Ini adalah salah satu faktor yang membuat hasil di tiap aplikasi bisa berbeda," demikian dijelaskan NU Online.

     

    Sebagai langkah kehati-hatian, NU Online membulatkan waktu ke menit terdekat setelahnya (round up), bukan sebelumnya. Misal hasil hisab waktu shalat asar: 15:05:25 → ditampilkan sebagai 15:06. Sementara aplikasi lain mungkin membulatkan ke bawah atau ke aturan lain. 

     

    Terlepas dari semua itu, selisih waktu 1 hingga 2 menit semacam ini dalam tradisi perhitungan ilmu falak dinilai masih dalam batas wajar dan sangat dimaklumi, selama metode hisab yang diterapkan sudah tepat. Aplikasi apa pun memang hanya bersifat membantu. Bukan pedoman mutlak dengan detail akurasi hingga level detik, milidetik, dan seterusnya.

     

    "Untuk lebih meyakinkan, pengguna sebaiknya membandingkannya dengan hasil perhitungan Lembaga Falakiyah NU di daerah masing-masing," demikian penjelasan yang termaktub dalam aplikasi.


    Komentar
    Additional JS