Menelusuri Jejak Harmoni dan Keunikan Muslim Albania - Tebuireng Online
Cahaya Islam di Tanah Shqiptar
Bagi banyak orang, berbicara tentang Islam sering kali secara otomatis mengarahkan memori kolektif ke hamparan padang pasir di Timur Tengah atau kepadatan penduduk di Asia Tenggara. Namun, di sudut tenggara benua Eropa, terselip sebuah negara kecil yang menyimpan permata sejarah Islam yang unik dan jarang terjamah radar media arus utama. Negara itu adalah Albania, atau yang dalam bahasa lokal disebut Shqipëria (Tanah Elang).
Albania bukan sekadar negara di Balkan; ia adalah laboratorium sosial di mana Islam, Kristen, dan sekularisme bertemu dalam satu harmoni yang sangat cair. Sebagai salah satu dari sedikit negara mayoritas Muslim di benua biru, Albania menawarkan potret keberislaman yang berbeda, sebuah model toleransi yang mungkin bisa menjadi refleksi penting bagi kita di Indonesia yang juga tengah berjuang merawat tenun kebangsaan di tengah keberagaman.
Baca Juga: Keturunan Persia di Madinah, Biografi Tiga Tokoh Besar Cucu Yazdajird
Kehadiran Islam di Albania tidak bisa dilepaskan dari pengaruh Kekaisaran Utsmaniyah (Ottoman) yang masuk pada abad ke-14. Selama berabad-abad, Islam tumbuh dan berasimilasi dengan budaya lokal Balkan. Namun, tantangan terbesar bagi identitas Muslim Albania bukan datang dari perbedaan agama, melainkan dari ideologi politik yang ekstrem yang sempat memutus rantai spiritualitas masyarakatnya secara paksa.
Pada tahun 1967, di bawah rezim Enver Hoxha, Albania memproklamirkan diri sebagai negara atheis pertama di dunia. Seluruh praktik keagamaan dilarang keras. Masjid-masjid dihancurkan atau dialihfungsikan menjadi gudang, penjara, atau pusat olahraga. Al-Qur’an disembunyikan di bawah lantai kayu, dan menjalankan puasa Ramadhan bisa berujung pada hukuman kerja paksa. Penindasan ini menciptakan trauma kolektif, namun di sisi lain, ia menguji ketahanan iman di ruang paling sunyi dalam diri manusia.
Baru setelah runtuhnya komunisme di awal 1990-an, masyarakat Albania kembali “menemukan” Tuhan. Menariknya, meski ditekan selama puluhan tahun, identitas Islam mereka tidak hilang. Namun, pengalaman pahit ditekan oleh negara tersebut justru melahirkan karakter Muslim yang sangat menghargai kebebasan dan keberagaman. Mereka belajar bahwa ketika negara mencampuri urusan privasi antara hamba dan Pencipta, yang lahir hanyalah penderitaan.
Baca Juga: Cahaya & Bayangan di Selat Gibraltar: Sejarah Kejayaan dan Keruntuhan Islam Andalusia
Salah satu sisi paling unik dari Albania yang jarang diekspos media adalah konsep Besa, sebuah kode kehormatan kuno yang berarti “menepati janji”. Prinsip ini mendasari mengapa kerukunan antar umat beragama di sana begitu kokoh. Bagi orang Albania, kebangsaan berada di atas agama. Ada ungkapan terkenal dari penyair nasional mereka, Pashko Vasa: “Agama orang Albania adalah ke-Albania-an.” Kalimat ini bukan berarti mereka meniadakan Tuhan, melainkan sebuah komitmen bahwa identitas kebangsaan adalah payung yang melindungi semua penganut keyakinan.
Toleransi ini bukan sekadar slogan. Pada masa Perang Dunia II, Albania menjadi satu-satunya negara di Eropa yang jumlah populasi Yahudinya justru meningkat setelah perang berakhir. Umat Muslim di sana mempertaruhkan nyawa untuk menyembunyikan keluarga Yahudi dari kejaran Nazi, berpegang pada prinsip Besa bahwa tamu yang meminta perlindungan harus dijaga hingga titik darah terakhir. Dunia internasional mengakui tindakan heroik ini sebagai salah satu contoh nyata di mana etika kemanusiaan melampaui batasan doktrin agama.
Hingga hari ini, pemandangan Masjid Ethem Bey yang indah berdiri berdampingan dengan Gereja Ortodoks di pusat kota Tirana adalah hal yang lumrah. Masyarakat sering kali merayakan hari besar keagamaan bersama-sama. Tidak jarang kita temukan dalam satu keluarga ada yang Muslim, sementara saudaranya beragama Katolik atau Ortodoks, dan mereka tetap hidup rukun dalam satu atap. Meja makan mereka adalah saksi bahwa perbedaan cara berdoa tidak harus menghalangi kasih sayang antar saudara kandung.
Baca Juga: Ketika Doa Uwais al-Qarni Langsung Diijabah oleh Allah
Sisi unik lain dari wajah Islam di Albania adalah kuatnya pengaruh tradisi tasawuf, khususnya ordo (tarekat) Bektashi. Albania merupakan pusat dunia bagi ordo ini setelah markas mereka dipindahkan dari Turki pada masa Kemal Ataturk. Bektashi dikenal dengan pendekatan Islam yang sangat inklusif, menekankan pada spiritualitas batiniah, seni, dan kemanusiaan universal.
Pengaruh Bektashi membuat praktik keagamaan di Albania cenderung moderat dan santai. Mereka tidak terlalu kaku pada simbol-simbol formalistik, namun sangat menjaga etika sosial. Bagi mereka, mencintai sesama manusia adalah bentuk tertinggi dari mencintai Sang Pencipta. Hal ini menciptakan suasana religius yang teduh dan jauh dari kesan ekstremisme. Pendekatan spiritual ini menjadikan Islam di Albania terasa sangat bersahabat bagi siapa saja yang datang berkunjung.
Jika Anda berjalan-jalan di kota Tirana atau Durrës, Anda mungkin tidak akan melihat pemandangan yang menunjukkan bahwa ini adalah negara mayoritas Muslim dalam artian tradisional. Budaya berpakaian masyarakatnya sangat dipengaruhi oleh gaya Mediterania dan Eropa Barat. Perempuan Muslim di Albania memiliki peran yang sangat aktif di ruang publik, mulai dari akademisi, jurnalis, hingga politisi, tanpa ada batasan yang kaku dari norma agama tradisional.
Kebebasan ini seringkali disalah pahami oleh dunia luar sebagai bentuk pengikisan iman. Padahal, bagi masyarakat Albania, iman adalah urusan privat antara individu dengan Tuhan, sementara kehidupan sosial adalah ruang milik bersama. Islam di sana dijalankan dengan semangat “Islam Kulit Putih” (White Islam)—sebuah istilah yang sering digunakan untuk menggambarkan praktik Islam yang sejuk di daratan Eropa yang mampu berdampingan secara intelektual dengan nilai-nilai demokrasi modern.
Baca Juga: Kota Gurun yang Melahirkan Para Penjaga Kalam Ilahi
Albania membuktikan bahwa ketika cinta tanah air menjadi fondasi, maka perbedaan teologis tidak akan pernah cukup kuat untuk memecah belah bangsa. Meskipun selama puluhan tahun dilarang secara paksa oleh rezim ateis, cahaya iman tetap menyala di ruang-ruang gelap hati masyarakatnya, membuktikan bahwa agama adalah kebutuhan fitrah manusia yang tak akan bisa dipadamkan oleh kebijakan politik mana pun.
Terakhir, Albania memberikan kita perspektif bahwa Islam mampu beradaptasi dengan budaya manapun tanpa harus kehilangan esensi spiritualnya. Di Albania, Islam berwajah Eropa; di Indonesia, Islam berwajah Nusantara. Keduanya adalah bukti kekayaan rahmat Tuhan yang tersebar di seluruh penjuru bumi. Keunikan ini adalah pengingat bagi kita agar tidak mudah menghakimi cara orang lain berislam hanya karena perbedaan kemasan budaya.
Baca Juga: Kisah Rasulullah Membangun Masjid Nabawi: Gotong Royong dan Pemanfaatan Tenaga Ahli
Negara ini memang jarang terekspos, namun di balik kesunyiannya dari hingar bingar berita global, Albania adalah guru diam yang mengajarkan kita tentang cara mencintai Tuhan melalui kecintaan pada sesama manusia. Sebuah permata di Balkan yang mengingatkan kita bahwa dimanapun kaki berpijak, akhlakul karimah adalah bahasa yang bisa dimengerti oleh semua orang, apapun agamanya. Cahaya Islam di tanah Shqiptar adalah bukti bahwa harmoni bukanlah mimpi, melainkan pilihan yang bisa kita wujudkan setiap hari.
Penulis: Anik Wulansari, M.Med.Kom
Editor: Rara Zarary
