0
News
    Home Berita Featured LF PBNU Nahdhatul Ulama Rukyatul Hilal Spesial

    Meski Hilal di Bawah Ufuk, LF PBNU Imbau Perukyah NU Laksanakan Rukyatul Hilal Besok - NU Online

    5 min read

     

    Meski Hilal di Bawah Ufuk, LF PBNU Imbau Perukyah NU Laksanakan Rukyatul Hilal Besok

    Jakarta, NU Online

    Lembaga Falakiyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LF PBNU) mendorong kepada seluruh perukyah NU untuk dapat melakukan rukyatul hilal awal bulan Ramadhan 1447 H. 


    Dorongan ini disampaikan LF PBNU melalui Surat Nomor 127/PB.08/A.I.02.13/13/02/2026 yang ditandatangani Ketua LF PBNU KH Sirril Wafa dan Sekretaris LF PBNU H Asmui Mansur pada Ahad (15/2/2026).


    "Lembaga Falakiyah PBNU mendorong perukyah Nahdlatul Ulama untuk melaksanakan rukyatul hilal awal bulan Ramadhan 1447 H pada hari Selasa Kliwon, 29 Sya'ban 1447 H / 17 Februari 2026 M," demikian bunyi surat tersebut.


    Meskipun hilal masih di bawah ufuk, LF PBNU mendorong pelaksanaan rukyatul hilal karena tiga pertimbangan, yakni sebagai berikut.


    1. pemerintah Indonesia akan menggelar sidang itsbat awal Ramadhan 1447 H,
    2. keputusan Muktamar ke-20/1954 di Surabaya, dan
    3. keputusan Muktamar ke-34/2021 di Bandar Lampung.


    LF PBNU memohon agar hasil rukyah dapat dilaporkan secara lengkap hanya melalui formulir: https://bit.ly/Ramadhan1447NU.  


    Sebagai informasi, hilal 29 Sya'ban 1447 H yang bertepatan dengan Selasa Kliwon, 17 Februari 2026 M masih di bawah ufuk. Tinggi hilal terbesar terjadi di Kota Sabang, Provinsi Aceh dengan tinggi hilal mar’ie -1 derajat 41 menit. Sementara ketinggian hilal terkecil terjadi di Jayapura, Provinsi Papua dengan tinggi hilal mar’ie -3 derajat 12 menit.


    Adapun di titik Jakarta dengan markaz Gedung PBNU, Jalan Kramat Raya Jakarta Pusat (koordinat 6º 11’ 25” LS 106º 50’ 50” BT), tinggi hilal adalah -1 derajat 44 menit 39 detik dengan letak matahari terbenam pada 12 derajat 03 menit 24 detik selatan titik barat. Sementara ijtimak (konjungsi) terjadi pada Selasa Kliwon, 17 Februari 2026 M pukul 19:02:02 WIB.


    Penghitungan atas data ini dilakukan dengan metode falak (hisab) tahqiqi tadqiki ashri kontemporer khas Nahdlatul Ulama. 


    Sementara itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) juga merilis data perhitungan hilal 1 Ramadhan 1447 H dalam Informasi Prakiraan Hilal Saat Matahari Terbenam Tanggal 17 dan 18 Februari 2026 M (Penentuan Awal Bulan Ramadhan 1447 H).


    Dalam informasi itu, dijelaskan bahwa konjungsi akan terjadi pada hari Selasa, 17 Februari 2026 M, pukul 12.01.07 UT atau Selasa, 17 Februari 2026 M, pukul 19.01.07 WIB atau Selasa, 17 Februari 2026 M, pukul 20.01.07 WITA atau Selasa, 17 Februari 2026 M, pukul 21.01.07 WIT, yaitu saat nilai bujur ekliptika Matahari dan Bulan tepat sama 328.83 derajat.


    Di wilayah Indonesia pada tanggal 17 Februari 2026, waktu Matahari terbenam paling awal adalah  pukul 17.56.44 WIT di Jayapura, Papua dan waktu Matahari terbenam paling akhir adalah pukul  18.51.25 WIB di Banda Aceh, Aceh. Sementara pada tanggal 18 Februari 2026, waktu Matahari terbenam paling awal adalah pukul 17.56.35 WIT di Jayapura, Papua dan waktu Matahari terbenam  paling akhir adalah pukul 18.51.29 WIB di Banda Aceh, Aceh. 


    Dengan memperhatikan waktu konjungsi dan Matahari terbenam, dapat dikatakan konjungsi terjadi setelah Matahari terbenam tanggal 17 Februari 2026 di seluruh wilayah Indonesia.


    Adapun ketinggian Hilal di Indonesia saat Matahari terbenam pada 17 Februari 2026, berkisar antara -2.41 derajat di Jayapura, Papua sampai dengan -0.93 derajat di Tua Pejat, Sumatera Barat. Ketinggian Hilal di Indonesia saat Matahari terbenam pada 18 Februari 2026, berkisar antara 7.62 derajat di Merauke, Papua sampai dengan 10.03 derajat di Sabang, Aceh. 


    Sementara itu, besaran elongasi geosentris di Indonesia saat Matahari terbenam pada 17 Februari 2026, berkisar antara 0.94 derajat di Banda Aceh, Aceh sampai dengan 1.89 derajat di Jayapura, Papua. Sementara elongasi geosentris di Indonesia saat Matahari terbenam pada 18 Februari 2026, berkisar antara 10.7 derajat di Jayapura, Papua sampai dengan 12.21 derajat di Banda Aceh, Aceh. 


    Data BMKG juga menunjukkan umur Bulan di Indonesia saat Matahari terbenam pada 17 Februari 2026, berkisar antara -3.07 jam di Jayapura, Papua sampai dengan -0.16 jam di Banda Aceh, Aceh. Umur Bulan di Indonesia saat  Matahari terbenam pada 18 Februari 2026, berkisar antara 20.92 jam di Jayapura, Papua sampai  dengan 23.84 jam di Banda Aceh, Aceh. 


    Adapun lama Hilal di atas ufuk saat Matahari terbenam pada 17 Februari 2026 berkisar antara -8.27 menit di Jayapura, Papua sampai dengan -3.11 menit di Tua Pejat, Sumatra Barat. Sementara lama hilal di Indonesia saat Matahari terbenam pada 18 Februari 2026, berkisar antara 34.99 menit di Merauke, Papua sampai dengan 45.17 menit di Sabang, Aceh. 


    Data-data di atas menunjukkan potensi besar bulan Ramadhan digenapkan (istikmal) menjadi 30 hari mengingat belum terpenuhinya kriteria imkanur rukyah, bahkan masih di bawah ufuk pada tanggal 29 Sya'ban 1447 H. Karenanya, besar kemungkinan tanggal 1 Ramadhan 1447 H jatuh pada Kamis Pahing, 19 Februari 2026.


    Adapun kepastian awal Ramadhan 1447 H menunggu hasil sidang isbat yang ditetapkan pemerintah melalui Kementerian Agama dan ikhbar yang akan diumumkan PBNU pada Selasa (17/2/2026) malam.


    Komentar
    Additional JS