0
News
    Home Amalan Featured Spesial Syekh Hasan Hitou

    6 Amalan Sunnah Puasa ala Syekh Hasan Hitou: Dari Ibadah Spiritual ke Kepedulian Sosial - NU Online

    8 min read

     

    6 Amalan Sunnah Puasa ala Syekh Hasan Hitou: Dari Ibadah Spiritual ke Kepedulian Sosial



    Kabar duka datang dari Suriah. Salah satu ulama bermazhab Syafi’i asal Republik Arab Suriah, Syekh Muhammad Hasan Hitou, wafat pada Ramadhan tahun ini. Ulama yang akrab disapa Syekh Hasan Hitou itu lahir pada tahun 1943 M (1362 H) dan meninggal dunia pada Selasa (24/2/2026) dalam usia 83 tahun.


    Dilansir dari NU Online, Syekh Hasan Hitou dikenal sebagai dai sekaligus pakar fiqih dan ushul fiqih. Ia juga termasuk ulama yang sangat produktif dalam melahirkan karya tulis.


    Karya-karyanya mencapai puluhan judul. Bahkan, ia tengah menyusun ensiklopedia Fiqih Syafi’i dan perbandingan mazhab yang ditargetkan rampung sekitar 140–160 jilid. Namun hingga akhir hayatnya, beliau baru menyelesaikan sekitar 60 jilid.


    Dikutip dari Darul Fuqaha, sejumlah karya almarhum antara lain Al-Wajiz fi Ushul al-Tasyri‘ al-Islami, Al-Ijtihad wa Tabaqat Mujtahidi al-Syafi‘iyyah, serta Al-‘Aql wa al-Ghaib.

     

    Sementara magnum opusnya adalah Mausu‘ah al-Fiqh al-Syafi‘i wa al-Muqaran (Ensiklopedia Fiqih Syafi’i dan Perbandingan). Sesuai rencana, karya ini ditargetkan mencapai 140–160 jilid, dan hingga saat ini telah terselesaikan sekitar 60 jilid besar.”


    Sebagai bentuk penghormatan atas wafatnya di bulan Ramadhan yang mulia, tulisan ini secara khusus mengulas enam amalan sunnah yang dianjurkan bagi setiap Muslim yang menjalankan ibadah puasa.


    Enam kesunahan tersebut termuat dalam kitab Fiqhus Shiyam, salah satu karya Syekh Hasan Hitou yang membahas secara mendalam tentang puasa, khususnya puasa Ramadhan. Lantas, apa saja keenam amalan itu? Berikut penjelasannya.


    Dalam pengantar pembahasannya, Syekh Hasan Hitou menegaskan bahwa amalan sunnah di bulan Ramadhan sejatinya sangatlah banyak. Ia menulis:

     

    مندوبات الصيام وهي الأمور التي يستحب للصائم أن يأتي بها ويفعلها في صومه، وهي كثيرة


    Artinya: “Sunah-sunah puasa, yaitu aktivitas-aktivitas yang disunahkan yang bisa dilaksanakan bagi orang yang berpuasa ada banyak sekali.” (Syekh Hasan Hitou, Fiqhus Shiyam, [Beirut: Darul Basya'ir al-Islamiyah, 1988 M], hlm. 111).

     

    Di antara kesunahan puasa yang disebut oleh Syekh Hasan Hitou adalah:


    1. Makan sahur

    Syekh Hasan Hitou menjelaskan bahwa sahur disunahkan karena tiga faktor: mengandung berkah, menjadi bantuan untuk menjalankan puasa sepanjang hari, dan menjadi pembeda dari ahlul kitab. Ketiga faktor ini dijelaskan dalam sunnah Nabi Muhammad.


    Setelah memaparkan tiga faktor tersebut, ia mengutip hadits yang berkaitan dengan masing-masingnya. Selain itu, ia juga menjelaskan waktu yang dianjurkan untuk bersahur serta jenis makanan yang dapat merealisasikan kesunahan sahur. Ia menulis:


    وأما وقت السحور فإنه يمتد بين نصف الليل إلى طلوع الفجر، ويحصل بكثير المأكول وقليله، ويحصل بالماء أيضاً


    Artinya: “Adapun waktu sahur itu panjang, yakni di antara pertengahan malam sampai fajar terbit (waktu shalat Subuh masuk). Sedangkan kesunahan bersahur hasil dengan memakan makanan banyak atau sedikit, bahkan juga hasil dengan hanya minum air.” (Syekh Hasan Hitou/hlm. 112).


    2. Mengakhirkan Sahur

    Selain bersahur, mengakhirkan sahur juga termasuk kesunahan yang dianjurkan. Syekh Hasan Hitou menjelaskan bahwa sebagaimana disunahkan untuk bersegera dalam berbuka puasa, disunahkan pula untuk mengakhirkan sahur.


    Lalu, sampai kapan batas mengakhirkan sahur itu? Pertanyaan ini dijawab oleh salah satu hadits yang ia kutip.


    عن زيد بن ثابت قال : تسحرنا مع رسول الله صلى الله عليه وسلم، ثم قمنا إلى الصلاة، قلت: كم كان قدر ما بينهما؟ قال : خمسين آية


    Artinya: “Diriwayatkan dari Zaid bin Tsabit, ia berkata: Kami bersahur bersama Rasulullah SAW, kemudian kami melaksanakan shalat (Subuh). Saya bertanya, berapa kadar (jarak) antara waktu sahur dan shalat tersebut? Ia menjawab 50 ayat (al-Qur'an).” (HR Imam Bukhari). 


    3. Berbuka Puasa dengan Kurma

    Syekh Hasan Hitou tidak menjelaskan kesunahan ini secara panjang lebar. Ia langsung pada inti pembahasan, yaitu anjuran berbuka puasa dengan kurma. Jika tidak menemukannya, maka berbukalah dengan air. Setelah itu, ia mengutip hadits berikut:

    قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: إذا أفطر أحدكم فليفطر على تمر، فإن لم يجد فليفطر على ماء، فإنه طهور


    Artinya: “Rasulullah SAW bersabda: ‘Ketika berbuka puasa, hendaklah kalian mengonsumsi kurma. Apabila tidak mendapatkan kurma, berbukalah dengan air, sungguh air itu suci-mensucikan.’” (HR Imam Abu Daud). 


    4. Berdoa ketika Berbuka Puasa

    Doa berbuka puasa yang ia tulis adalah: 


    اللَّهُمَّ لَكَ صُمْتُ، وَعَلَىٰ رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ، ذَهَبَ الظَّمَأُ، وَابْتَلَّتِ الْعُرُوقُ، وَثَبَتَ الْأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ


    allâhumma laka ṣumtu wa ‘alâ rizqika afṭartu. dzahabazh-ẓama’u wabtallatil-‘urûqu wa tsabatal-ajru insyâ’allâh.


    Artinya, “Ya Allah, hanya kepada-Mu aku berpuasa dan dengan rezeki-Mu aku berbuka. Telah hilang rasa haus, urat-urat telah basah, dan pahala pun tetap, insyaallah.”


    Doa ini, sebagaimana tampak dari dua hadits yang ia kutip, merupakan gabungan dari dua riwayat: dari Sahabat Abdullah bin Umar dan Sahabat Mu‘adz, yang keduanya diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud.

     

    5. Memberi Buka Puasa Orang Lain

    Syekh Hasan Hitou juga menjelaskan satu kesunahan yang sangat kental dengan nuansa sosial, misalnya dengan memberi makan atau menyediakan buka puasa bagi orang lain. Ia menjelaskan:


    ويستحب للصائم وغيره أن يفطر الصائم، ولو على تمرة أو شربة ماء


    Artinya: “Disunahkan, baik bagi orang yang berpuasa maupun yang tidak, untuk memberi buka puasa kepada orang yang berpuasa, meskipun hanya dengan sebuah kurma atau seteguk air.” (Syekh Hasan Hitou/hal. 115).


    Selanjutnya, ia menjelaskan bahwa kesunahan tersebut didasarkan pada hadits yang diriwayatkan oleh Zaid bin Khalid berikut:


    أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: من فطر صائماً فله مثل أجره، لا ينقص من أجر الصائم شيء


    Artinya: “Nabi Muhammad SAW bersabda, ‘Siapa saja yang memberi buka puasa kepada orang yang berpuasa, ia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang tersebut, tanpa mengurangi sedikit pun pahala orang yang berpuasa itu.’” (HR Imam Tirmidzi).

     

    6. Memperbanyak Sedekah dan Membaca Al-Qur’an

    Kesunahan terakhir yang disampaikan oleh Syekh Hasan Hitou didasarkan pada hadits berikut:

     

    عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ النَّاسِ، وَكَانَ أَجْوَدُ ‌مَا ‌يَكُونُ ‌فِي ‌رَمَضَانَ حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ، وَكَانَ يَلْقَاهُ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ فَيُدَارِسُهُ الْقُرْآنَ، فَلَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدُ بِالْخَيْرِ مِنَ الرِّيحِ الْمُرْسَلَةِ

     

    Artinya: “Diriwayatkan dari Sahabat Ibnu Abbas RA, ia berkata: ‘Rasulullah saw adalah manusia yang paling dermawan. Kedermawanannya semakin tampak pada bulan Ramadhan, ketika beliau bertemu dengan malaikat Jibril. Jibril menemui Rasulullah setiap malam pada bulan Ramadhan untuk mengajarkan Al-Qur’an kepadanya. Sungguh, kedermawanan Rasulullah dalam kebaikan itu laksana angin yang berhembus.’” (HR Imam Bukhari).


    Hadits yang dikutip oleh Syekh Hasan Hitou ini menegaskan bahwa semangat Ramadhan yang dicontohkan Rasulullah SAW tidak hanya berkaitan dengan peningkatan kesalehan spiritual, tetapi juga kesalehan sosial.


    Tampaknya, dua semangat inilah yang juga ingin ditekankan oleh Syekh Hasan Hitou. Hal ini terlihat dari enam kesunahan yang ia pilih untuk disampaikan. Dari sekian banyak kesunahan puasa, empat di antaranya merepresentasikan semangat kesalehan spiritual, sedangkan dua lainnya mencerminkan semangat kesalehan sosial. Demikianlah enam kesunahan yang disampaikan oleh Syekh Hasan Hitou. Teruntuk Syekh Muhammad Hasan Hitou, lahul fatihah.


    Syifaul Qulub Aminalumnus PP Nurul Cholil Bangkalan dan pengajar di PP Putri Al-Masyhuriyah Kebonan Bangkalan.


    Komentar
    Additional JS