Kultum Ramadhan: Allah Selalu Bersama Orang-Orang yang Sabar - NU Online
Di dalam kehidupan ini, setiap manusia pasti tak luput dari ujian dan cobaan. Sikap kita ketika mendapatkan ujian dan cobaan ini, tiada lain, yakni harus menghadapinya dengan sabar. Sifat sabar merupakan salah satu karakter yang dimiliki oleh orang-orang yang beriman. Bahkan, Allah senantiasa beserta orang-orang yang sabar. Sebagaimana firman Allah SWT dalam Al-Qur'an:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اسْتَعِيْنُوْا بِالصَّبْرِ وَالصَّلٰوةِۗ اِنَّ اللّٰهَ مَعَ الصّٰبِرِيْنَ
Artinya, "Wahai orang-orang yang beriman, mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan salat. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar," (QS Al-Baqarah ayat 153).
Meski terlihat mudah dilaksanakan, tetapi pada kenyataannya banyak orang yang terkadang merasa tidak sabar, ketika ia tengah mendapatkan ujian atau cobaan dari Allah SWT. Hal tersebut dapat kita maklumi, sebab setiap manusia memiliki kadar atau tingkat kesabaran masing-masing. Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya Ulumiddin, membagi sabar dalam beberapa tingkatan:
وَقَالَ بَعْضُ الْعَارِفِينَ: أَهْلُ الصَّبْرِ عَلَى ثَلَاثَةِ مَقَامَاتٍ
Artinya, "Sebagian ulama makrifat mengatakan: Orang sabar terdiri atas tiga tingkatan," (Imam Al-Ghazali, Ihya Ulumiddin, [Beirut, Darul Fikr: 2018 M/1439-1440 H], juz IV, halaman 72).
Tingkat sabar yang pertama yakni tingkatan bagi orang yang bertobat, yang ditandai dengan tarku syahwat atau sabar dalam meninggalkan syahwat. Sebagai contoh, pada bulan Ramadhan ini, kita melaksanakan perintah puasa, yang di dalamnya kita dilatih untuk bersabar atau menahan diri dari perkara-perkara yang membatalkan puasa, seperti makan, minum, dan lain-lain.
Maka, bulan Ramadhan menjadi salah satu momen yang tepat bagi kita untuk melatih kesabaran. Selaras dengan hal tersebut, Nabi Muhammad SAW bersabda:
الصَّوْمُ نِصْفُ الصَّبْرِ
Artinya, “Puasa adalah separuh kesabaran,” (HR At-Tirmidzi dan Ahmad).
Pada saat berpuasa, kita juga dilatih untuk menahan diri dengan tidak melakukan hal-hal yang dapat menghilangkan keberkahan dan bahkan menggugurkan pahala puasa kita, semisal dengan menjaga lisan kita dari perkataan bohong, ghibah, fitnah, dan lain sebagainya.
Kemudian, tingkatan sabar yang kedua yakni ridha (menerima) atas takdir. Ini derajat sabar bagi orang-orang yang zuhud. Ridha atas takdir yang terkadang terasa menyakitkan seperti halnya musibah berupa bencana, penyakit, perlakuan buruk dari orang lain, kemiskinan, kecelakaan, kemalingan, kehilangan harta benda, kebakaran, dan lain sebagainya.
Musibah ini jika dihadapi dengan sabar serta sikap ridha, akan meninggikan derajat atau menghapus dosa. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَا يُصِيْبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ وَلَا هَمٍّ وَلَا حَزَنٍ وَلَا أَذًى وَلَا غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَة يُشَاكُهَا، إِلَّا كَفَّرَ اللّٰهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ
Artinya, “Tidaklah seorang Muslim tertimpa keletihan dan penyakit, kekhawatiran dan kesedihan, gangguan dan kesusahan, bahkan duri yang melukainya, melainkan dengan sebab itu semua Allah akan menghapus dosa-dosanya.” (HR al-Bukhari).
Kemudian, tingkatan sabar yang ketiga adalah mencintai apa yang dilakukan Allah terhadapnya. Ini derajat orang yang as-shiddiq. Seringkali, semakin Allah semakin mencintai seorang hamba dan begitu juga sebaliknya, maka ia juga akan memberikan ujian yang semakin berat kepada hamba-Nya tersebut. Dalam sebuah hadits, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ يُرِدِ اللّٰهُ بِهِ خَيْرًا يُصِبْ مِنْهُ
Artinya: “Siapa saja yang Allah kehendaki kebaikan pada dirinya, maka Allah akan menimpakan musibah kepadanya,” (HR al-Bukhari).
Jadi, orang yang dikehendaki baik oleh Allah akan ditimpa musibah dan diberi kekuatan oleh Allah untuk bersikap sabar dalam menanggung dan menghadapi musibah yang menimpanya. Seberapa kuat dan sabar, seorang hamba ketika mendapatkan ujian dan musibah dari Allah SWT. Dan seperti yang telah kita tahu, mereka yang paling berat mendapatkan ujian dari Allah adalah para nabi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
أَشَدُّ النَّاسِ بَلَاءً الأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الْأَمْثَلُ فَالْأَمْثَلُ، يُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِيْنِهِ
Artinya, “Manusia yang paling berat ujian dan musibahnya adalah para nabi, kemudian orang-orang yang di bawah derajat mereka, kemudian orang-orang yang di bawah derajat mereka. Seseorang diuji berdasarkan sekuat apa ia pegangteguh agamanya,” (HR at-Tirmidzi, Ahmad dan lainnya).
Oleh karena itu, marilah kita jadikan puasa ini sebagai saat yang tepat bagi kita untuk melatih kesabaran kita. Dengan bersabar, insyaAllah kita akan tergolong ke dalam orang-orang yang beruntung dan mendapatkan pahala yang besar, bahkan tak terhitung. Sebagaimana janji Allah SWT bagi orang yang sabar:
إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍ
Artinya, “Orang-orang yang sabar akan digenapi ganjarannya dengan tak terhitung,” (Surat Az-Zumar ayat 10).
Demikianlah kultum Ramadhan tentang sikap sabar dan khususnya dalam konteks kita selama melaksanakan ibadah di bulan Ramadhan ini. Semoga kita semua termasuk ke dalam golongan orang-orang yang sabar dan dicintai oleh Allah SWT. Amin ya Rabbal ‘alamin.
Ajie Najmuddin, Pengurus MWCNU Banyudono Boyolali.