Kultum Ramadhan: Memprioritaskan Kebahagiaan Keluarga / NU Online
Kultum Ramadhan: Memprioritaskan Kebahagiaan Keluarga
Pernahkah kita selalu merasa senang ketika sering berbuat baik kepada orang lain, namun dalam melakukan hal yang sama kepada keluarga, khususnya anak dan istri di rumah, merasa biasa-biasa saja?
Memang tidak ada yang salah dengan perilaku yang hampir menjadi kebiasaan kita itu. Justru berbuat baik kepada orang lain merupakan pekerjaan yang sangat mulia.
Akan tetapi, di sisi lain, kita dianjurkan oleh Allah swt untuk memberi perlakuan spesial kepada orang-orang terdekat, bahkan penting sekali untuk kita prioritaskan. Kemudian, setelah itu berbuat baik kepada orang lain yang tidak memiliki ikatan kekerabatan dengan kita.
Di dalam Al-Qur’an urutan ini dijelaskan secara langsung pada surat An-Nisa ayat 36:
وَاعْبُدُوا اللّٰهَ وَلَا تُشْرِكُوْا بِهٖ شَيْـًٔا وَّبِالْوَالِدَيْنِ اِحْسَانًا وَّبِذِى الْقُرْبٰى وَالْيَتٰمٰى وَالْمَسٰكِيْنِ وَالْجَارِ ذِى الْقُرْبٰى وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْۢبِ وَابْنِ السَّبِيْلِۙ وَمَا مَلَكَتْ اَيْمَانُكُمْ ۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالًا فَخُوْرًاۙ
Artinya: “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Berbuat baiklah kepada kedua orang tua, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat dan tetangga jauh, teman sejawat, ibnu sabil, serta hamba sahaya yang kamu miliki. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang sombong lagi sangat membanggakan diri.”
Ayat 36 menyebutkan bahwa urutan berbuat baik yang harus kita dahulukan ialah kedua orang tua dan kerabat atau keluarga. Baru setelahnya kita diperintahkan untuk melakukan kebaikan kepada anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga, teman dan orang lain yang membutuhkan.
Ini dilandasi sabda Rasulullah saw riwayat Al-Baihaqi, bersumber dari Jabir bin Abdillah:
عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللّٰهِ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ابْدَءُوْا بِمَا بَدَأَ اللّٰهُ عَزَّ وَجَلَّ بِهِ
Artinya: "Dari Jabir bin Abdillah, ia berkata, bahwa Rasulullah Saw bersabda: “Mulailah (mengerjakan sesuatu) sesuai dengan apa yang dimulai (atau yang diurutkan) oleh Allah dengannya.”
Meskipun hadits menjelaskan tentang urutan pelaksanaan Sa’i yang harus mulai dari bukit Shafa ke bukit Marwah, sebagaimana petunjuk yang diberikan oleh Allah dalam Al-Baqarah ayat 158, namun, hadits tersebut juga dipakai oleh ulama untuk menetapkan urutan berwudhu, dimulai dengan membasuh wajah hingga membasuh kaki, seperti yang dijelaskan Al--Maidah ayat 6.
Kaitannya dengan An-Nisa ayat 36 yang menjelaskan urutan orang-orang yang harus diperlakukan secara spesial, dimulai dari orang yang paling terdekat terlebih dahulu, yakni: dari orang tua, lalu karib kerabat atau keluarga, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga, teman sejawat, dan siapa saja yang membutuhkan.
Mengutamakan berbuat baik kepada keluarga juga disebutkan oleh Nabi Muhammad saw dengan narasi bahwa pemberian yang terbaik, ialah sesuatu yang diserahkan kepada keluarga terlebih dahulu.
Dirincikan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, bersumber dari Tsauban:
قَالَ رَسُولُ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَفْضَلُ دِينَارٍ يُنْفِقُهُ الرَّجُلُ دِينَارٌ يُنْفِقُهُ عَلَى عِيَالِهِ، وَدِينَارٌ يُنْفِقُهُ الرَّجُلُ عَلَى دَابَّتِهِ فِي سَبِيلِ اللّٰهِ، وَدِينَارٌ يُنْفِقُهُ عَلَى أَصْحَابِهِ فِي سَبِيلِ اللّٰهِ
Artinya: "Rasulullah Saw bersabda: “Sebaik-baik Dinar (yakni, uang emas atau alat transaksi di masa Nabi) pemberian laki-laki ialah yang ia berikan kepada keluarganya, kemudian Dinar yang ia belanjakan untuk hewan ternaknya di jalan Allah, dan Dinar yang ia berikan kepada sahabatnya."
Nabi saw juga membuktikan bahwa berbuat baik kepada keluarga adalah amal yang tidak bisa disepelekan. Karena hal tersebut, beliau secara tegas mengatakan, bahwa beliau pun selalu memperlakukan keluarganya dengan sangat baik.
Disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah, bersumber dari Ibnu Abbas:
عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ، وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي
Artinya: “Dari Nabi Saw, beliau bersabda: “Sebaik-baik kalian ialah yang paling baik kepada keluarganya. Dan aku merupakan orang yang paling baik kepada keluargaku di antara kalian.”
Tidak hanya pengakuan sepihak dari Nabi saw saja, akan tetapi testimoni tentang beliau yang berperilaku baik kepada keluarga ini, juga bersumber dari istri-istrinya. Salah satunya disebutkan oleh Aisyah binti Abu Bakar:
مَا كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصْنَعُ فِي أَهْلِهِ؟ قَالَتْ: كَانَ فِي مِهْنَةِ أَهْلِهِ، فَإِذَا حَضَرَتِ الصَّلَاةُ قَامَ إِلَى الصَّلَاةِ
Artinya: "Apa yang dilakukan oleh Nabi saw ketika berada di tengah-tengah keluarganya?" Aisyah menjawab: “Nabi saw biasanya melakukan pekerjaan rumah. Namun apabila waktu shalat telah tiba, ia bergegas melaksanakannya.”
Sering kali kita merasa senang dan puas hati telah membahagiakan teman dan sahabat, akan tetapi ketika melakukan perbuatan yang sama kepada keluarga, kita cenderung biasa-biasa saja.
Padahal, di dalam Al-Qur’an QS. An-Nisa ayat 36 disebutkan, bahwa kebaikan itu dimulai dari yang paling dekat hubungannya dengan kita. Dimulai dari orang tua, lalu kerabat, tetangga, kemudian orang yang memiliki hubungan yang jauh, seperti teman atau sahabat.
Kita juga perlu mencontoh apa yang dilakukan Nabi kepada keluarganya. Beliau selalu mendahulukan kebahagiaan untuk keluarganya. Sampai-sampai ia gemar membantu mengerjakan urusan rumah tangga. Wallahu a’lam.
Ustadz Muhaimin Yasin, Alumnus Pondok Pesantren Ishlahul Muslimin Lombok Barat dan Pegiat Kajian Keislaman