Berburu Keberkahan di Usia Senja, Penantian Belasan Tahun Guru Agama Berhaji Terbayar Tuntas - Republika
Berburu Keberkahan di Usia Senja, Penantian Belasan Tahun Guru Agama Berhaji Terbayar Tuntas
Perjalanan hidup Muhammad Aem menjadi potret keteguhan dan kesabaran.
Rep: Muhyiddin
ANTARA FOTO/MCH 2026/Ririn Nur Febriani Jamaah calon haji kloter pertama embarkasi Jakarta Pondok Gede (JKG 1) tiba di Prince Mohammad Bin Abdulaziz International Airport, Madinah, Arab Saudi, Rabu (22/4/2026). Jamaah calon haji Indonesia gelombang pertama yang dijadwalkan diberangkatkan secara bertahap pada 22 April hingga 21 Mei 2026 mulai tiba di Madinah.
REPUBLIKA.CO.ID, TANGERANG — Wajah Muhammad Aem (69) tampak tenang menjelang keberangkatannya ke Tanah Suci. Di usianya yang tak lagi muda, pensiunan guru agama ini akhirnya menapaki perjalanan spiritual yang telah ia nantikan selama 13 tahun.
“13 tahun,” ujarnya singkat saat ditanya masa tunggu keberangkatannya di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Rabu (22/4/2026
Penantian panjang itu kini terbayar, terlebih ia tak berangkat sendiri. Sang istri, Masroni (62 tahun), setia mendampinginya menuju Tanah Suci. Di sampingnya, tampak kursi lipat yang sengaja dibawa. Bukan tanpa alasan. Fisik yang mulai menurun membuatnya harus lebih berhati-hati, terutama untuk sang istri. “Buat nanti pas takut kecapean,” ucapnya.
Muhammad Aem bukan sosok sembarangan. Ia mengabdikan hidupnya selama 37 tahun sebagai guru sekolah dasar, mengajar sejak 1980 hingga pensiun pada 2017. Bidang yang ia tekuni pun tak lepas dari nilai-nilai keimanan, sebagai guru agama.
Dari profesi sederhana itulah, ia menabung sedikit demi sedikit hingga mampu mendaftar haji. “Iya, menabung dari jadi guru SD,” katanya.
Kini, di usia senja, harapannya sederhana namun mendalam. Ia tak lagi mengejar banyak hal, kecuali keberkahan hidup dan akhir yang baik. “Semoga dapat keberkahan di usia tua ini…supaya tutup usia dalam keadaan husnul khatimah,” ucapnya lirih.
Persiapan fisik memang menjadi tantangan tersendiri. Ia mengakui kondisinya sempat menurun, terutama setelah menerima suntikan vaksin meningitis. Meski demikian, ia tetap berusaha menjaga kebugaran dengan latihan jalan kaki.
Dalam menjalankan ibadah haji nanti, Muhammad Aem memilih bersikap realistis. Ia tak ingin memaksakan diri. “Yang penting rukun sama yang wajib. Kalau yang sunnah bisa dikerjain, ya dikerjain, kalau tidak ya bagaimana saja,” katanya.
Berasal dari Ciledug, perjalanan hidup Muhammad Aem menjadi potret keteguhan dan kesabaran. Dari ruang kelas sederhana hingga panggilan suci ke Baitullah. Dia membawa satu harapan yang sama, yakni pulang dengan hati yang lebih bersih dan akhir hidup yang diridhai.
“Ya semoga dapat keberkahan lah di usia tua ini kita, keberkahan dari Allah. Supaya dalam tutup usia dalam keadaan husnul khatimah," ujar Muhammad yang kemudian langsung melaksanakan sholat Dzuhur bersama istrinya.
Berita Terkait
Gunakan Pemotongan Semi-Mekanik, RPH Ini Siapkan 900 Ekor Sapi untuk Penuhi Kurban Warga Jakarta
Khazanah Indonesia - 19 menit yang lalu
Bus Shalawat Mulai Beroperasi Hari Ini
Ihram - 29 menit yang lalu
Kecelakaan Bus Jamaah RI di Madinah, Kemenhaj Semprit KBIHU
Ihram - 2 jam yang lalu
Kemenhaj: No Permit, No Hajj!
Ihram - 4 jam yang lalu
Rombongan Pertama Jamaah Haji Irak Mulai Tiba di Saudi
Ihram - 5 jam yang lalu