Gus Reza Lirboyo Jelaskan Keutamaan Puasa Ayyamul Bidh - NU Online
Gus Reza Lirboyo Jelaskan Keutamaan Puasa Ayyamul Bidh
Surabaya, NU Online Jatim
Pengasuh Pondok Pesantren Al-Mahrusiyah Lirboyo, Kediri, KH Reza Ahmad Zahid atau Gus Reza, menjelaskan keutamaan ibadah puasa Ayyamul Bidh. Disebutkan, puasa Ayyamul Bidh merupakan perintah puasa tiga hari di tengah bulan hijriyah, yakni tanggal 13, 14, dan 15.
“Istilah ‘Ayyamul Bidh’ yang berarti ‘hari-hari putih’ ternyata memiliki kaitan erat dengan perubahan fisik Nabi Adam AS saat pertama kali diturunkan ke bumi,” ujarnya dilansir dari kanal youtube PWNU Jawa Timur Official, Rabu (15/04/2026).
Ia menceritakan, ketika Nabi Adam berada di surga, ia merasakan hawa yang sejuk dan angin yang semilir. Namun, begitu menginjakkan kaki di bumi, sengatan sinar matahari dan perbedaan cuaca yang drastis menyebabkan kulit Nabi Adam berubah menjadi hitam dan kusam.
Melihat kondisi tersebut, Malaikat Jibril datang dan bertanya mengapa kulit Nabi Adam yang sebelumnya bening menjadi melepuh dan kusam. Nabi Adam mengeluhkan panasnya suhu di bumi yang jauh berbeda dengan kesejukan surga.
"Maka, Jibril kemudian memberikan sebuah resep spiritual: Berpuasalah kamu tiga hari di tengah-tengah bulan; 13, 14, dan 15," ucap Gus Reza.
Lebih lanjut, Gus Reza mengisahkan bahwa setelah menjalani puasa tersebut secara rutin, kulit Nabi Adam kembali bersih dan cerah. Hal inilah yang kemudian menjadi kesiapan fisik dan batin bagi Nabi Adam sebelum akhirnya dipertemukan kembali dengan Siti Hawa di Jabal Rahmah.
"Dari kisah ini memberikan pesan kuat bagi seseorang yang mencari jodoh. Hendaknya seseorang tidak hanya mengandalkan ketampanan wajah atau manisnya tutur kata, melainkan juga harus dibarengi dengan 'tirakat' atau usaha spiritual serta upaya merawat diri sendiri," katanya.
Selain itu, Gus Reza juga memberikan analogi mengenai karakter manusia yang diciptakan dari tanah. Sebagaimana tanah memiliki berbagai warna dan tingkat kesuburan—ada yang subur, tandus, maupun setengah subur.
"Manusia pun demikian, ada manusia yang mudah disadarkan hanya dengan tatapan mata, namun ada pula yang membutuhkan nasihat lisan bahkan peringatan keras agar tersadar," terangnya.
Penulis: Muhammad Wafiul Ahdi