0
News
    Home Berita Featured Habib Sholeh Tanggul Haul Habib Sholeh Tanggul Spesial

    Ini Biografi Habib Sholeh Tanggul Sejarah Hijrah ke Indonesia dan Tahun Wafatnya - Radar Jember

    6 min read

     

    Ini Biografi Habib Sholeh Tanggul Sejarah Hijrah ke Indonesia dan Tahun Wafatnya


    Kisah karomah Habib Sholeh Tanggul (Instagram @Pecinta.habibsholehtanggul)

     RADAR JEMBER - Biografi Al Habib Sholeh bin Muhsin Al Hamid menjadi sejarah panjang tokoh ulama yang menghabiskan masa dakwahnya di wilayah Kecamatan Tanggul, Kabupaten Jember ini.

    Habib Sholeh bin Muhsin al-Hamid atau lebih dikenal dengan Habib Sholeh Tanggul.

    Informasi yang dihimpun Habib Sholeh telah dipercaya sebagai keturunan ke-39 Rasulullah dari Hadramaut, Yaman, yang hijrah ke tanah Jawa pada sekitar 1920-an, dan menetap di Jember hingga akhir hayatnya.

    Kisah Habib Sholeh Tanggul dikenal sebagai ulama yang dermawan dan memiliki banyak karomah atau anugerah di luar akal dan kemampuan manusia yang biasanya terjadi pada seseorang wali.

    Namun, meski begitu, banyak yang menisbatkan beliau dengan nama Kecamatan Tanggul, Jember, Jawa Timur, Habib Sholeh sebenarnya dilahirkan di desa Wadi ‘Amd, Hadramaut, Yaman pada 17 Jumadil awal 1313 Hijriah atau bertepatan dengan tahun 1895 Masehi.

    Muhsin bin Ahmad al-Hamid ayah Habib Sholeh merupakan seorang ulama Wadi ‘Amd, yang juga dikenal masyarakat sekitar dengan julukan al-Bakri al-Hamid, sedangkan ibunya adalah Aisyah dari keluarga al-‘Abud Ba ‘Umar dari kalangan klan masyaikh/non-habaib al-‘Amudi. Sejak kecil beliau menyibukkan diri untuk menuntut ilmu agama.

    Guru utamanya dalam bidang ilmu fikih dan tasawuf adalah ayahnya sendiri, Habib Muhsin bin Ahmad al-Hamid, sedangkan Al-Qur’an ia pelajari dari Syekh Saíd Ba Mudhij, ulama kenamaan Wadi ‘Amd. 

    Sejarahnya Hijrah ke Indonesia 

    Ketika beranjak dewasa, tepatnya berusia 26 tahun atau ketika itu bertepatan dengan tahun 1921 M, ia memutuskan berhijrah ke Indonesia bersama Syekh Fadhli Sholeh Salim bin Ahmad al-Asykari. Dalam perjalanan beliau sempat singgah di Gujarat, India, lalu berlabuh di Jakarta.

    Habib Sholeh sempat tinggal beberapa hari di Jakarta dan berkeliling mengunjungi para ulama sampai saudara sepupunya yang bernama Habib Muhsin bin Abdullah al-Hamid yang telah lebih dulu berhijrah meminta Habib Sholeh untuk mengunjungi kediamannya di Lumajang.

    Selama di Lumajang, beliau berdakwah keliling dari desa ke desa di Lumajang sampai 12 tahun lamanya sebelum akhirnya memutuskan pindah ke Tanggul.

     Sebelum akhirnya menjadi pendakwah di daerah tanggul, Habib Sholeh terlebih dahulu melaksanakan ‘uzlah/khalwat atau aktivitas menyepi/mengurung diri dengan beribadah sampai lebih dari 3 tahun lamanya.

    Kemudian Habib Abu Bakar bin Muhammad as-Segaf, seorang ulama terkemuka yang berdomisili di Gresik memerintahkan Habib Sholeh untuk mengakhiri masa khalwat dan memintanya datang ke Gresik.

    Setibanya di Gresik, Habib Abu Bakar memberikan Habib Sholeh mandat dan ijazah dengan memakaikan jubah imamah dan sorban hijau sebagai penanda status kewalian quthb yang diembannya, sekaligus meminta Habib Sholeh untuk segera menunaikan ibadah haji. 

    Selang beberapa tahun, Habib Sholeh mendapat hadiah sebidang tanah dari seorang pengusaha setempat bernama Haji Abdur Rasyid. Di atas tanah tersebut Habib Sholeh kemudian membangun masjid yang diberi nama Masjid Riyadus Shalihin dan kemudian mewakafkannya.

    Sejarah Wafat

    Habib Sholeh wafat pada 8 Syawal 1396 H atau bertepatan pada tahun 1976 M. Ia dikebumikan keesokan harinya setelah sholat Dzuhur di kompleks Masjid Riyadhus Sholihin Tanggul, Jember.


    Komentar
    Additional JS