0
News
    Home Al-Qur’an Berita Featured Spesial Syaikhona Kholil Bangkalan

    Menag Dukung Penuh Penelitian Manuskrip Al-Qur’an Syaikhona Kholil Bangkalan - NU Online

    3 min read

     

    Menag Dukung Penuh Penelitian Manuskrip Al-Qur’an Syaikhona Kholil Bangkalan

    Bangkalan, NU Online Jatim

    Menteri Agama RI, KH Nasaruddin Umar, menegaskan bahwa masyarakat tidak hanya sekadar menyaksikan seremonial Haul Akbar ke-101 Syaikhona Muhammad Kholil. Lebih dari itu, acara ini merupakan langkah besar dalam menjaga marwah intelektual Islam Nusantara.

     

    Dalam sambutannya melalui video pada acara Halaqah Penelitian Naskah Al-Qur’an Syaikhona Muhammad Kholil, Rabu (01/04/2026), ia menyampaikan apresiasi dan dukungan penuh terhadap inisiatif Lajnah Turots Ilmi.

     

    “Saya atas nama pribadi dan Kementerian Agama memberikan apresiasi setinggi-tingginya atas upaya inventarisasi manuskrip peninggalan Syaikhona Muhammad Kholil Bangkalan, termasuk mahakarya luar biasa berupa mushaf Al-Qur’an lengkap 30 juz tulisan tangan beliau,” ujarnya.

     

    Menag menegaskan bahwa Kementerian Agama memiliki komitmen kuat untuk terus mendukung inisiatif semacam ini. Ia menilai kajian kodikologi hingga analisis varian qiraah terhadap mushaf tersebut merupakan bagian penting dalam memperkuat karakter bangsa.

     

    “Kita harus menunjukkan kepada dunia bahwa Indonesia memiliki tradisi penulisan Al-Qur’an yang khas, yang memadukan ketundukan pada standar Rasm Utsmani dengan kekayaan lokal, seperti penggunaan aksara dan hiasan artistik Nusantara,” ucapnya.

     

    Ia juga meminta Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an (LPMQ), bersama Kementerian Agama dan Universitas PTQ Jakarta, untuk terlibat aktif dalam kolaborasi ini. Tujuannya adalah memastikan penelitian berjalan dengan standar ilmiah tinggi tanpa mengabaikan nilai keberkahan.

     

    Menag menambahkan bahwa dukungan tidak hanya berhenti pada diskusi, tetapi juga pada publikasi hasil penelitian agar dapat diakses oleh masyarakat luas, baik di dalam maupun luar negeri.

     

    “Di tengah arus disrupsi informasi dan tantangan zaman yang semakin kompleks, kajian Al-Qur’an tidak boleh berhenti pada aspek teoritis dan akademis semata. Kajian ini harus mampu menjawab kebutuhan riil masyarakat,” jelasnya.

     

    Lebih lanjut, ia menyampaikan bahwa penelitian terhadap mushaf Syaikhona Muhammad Kholil memberikan beberapa teladan penting. Pertama, pendidikan dan transmisi ilmu (sanad).

     

    “Manuskrip ini menunjukkan metode pembacaan Al-Qur’an di pesantren pada abad ke-19,” terangnya.

     

    Kedua, identitas kultural dan keagamaan. Disebutkan, penggunaan bahasa Jawa dalam pemaknaan Al-Qur’an mencerminkan harmonisasi antara teks suci dan budaya lokal. Ketiga, penguatan tradisi literasi, mengingat tradisi menulis dan mendokumentasikan pemikiran perlu terus dihidupkan kembali di tengah masyarakat.

     

    Ia berharap hasil halaqah ini tidak hanya berupa laporan penelitian, tetapi juga dapat diterbitkan menjadi mushaf Al-Qur’an Syaikhona Muhammad Kholil yang dapat dipelajari oleh santri dan masyarakat umum. Ia pun mengajak seluruh akademisi, praktisi, dan pecinta Al-Qur’an untuk bersama-sama menjaga dan mengembangkan khazanah intelektual ulama Nusantara.

     

    “Semoga Allah SWT meridhai langkah kita, memberkahi halaqah ini, dan menjadikan kita semua sebagai penjaga Al-Qur’an yang setia dalam kata dan perbuatan,” pungkasnya.


    Komentar
    Additional JS