Mimpi yang Mengubah Malam: Kisah Abdullah bin Umar RA di Masjid Nabawi - Lirboyo.net
Mimpi yang Mengubah Malam: Kisah Abdullah bin Umar RA di Masjid Nabawi

Pernahkah kalian bermimpi buruk? Bayangkan, dalam mimpi itu, kita dibawa ke tempat yang menakutkan, seolah berada di ambang bahaya yang nyata. Begitulah yang dialami Abdullah bin Umar RA ketika ia masih muda.
Di sebuah malam yang sunyi di Madinah, seorang pemuda muda bernama Abdullah bin Umar RA tidur di masjid, seperti kebiasaan yang ia lakukan sejak zaman Rasulullah ﷺ. Pada masa itu, setiap orang yang melihat mimpi sering menceritakannya kepada Nabi ﷺ, dan Abdullah sangat ingin suatu hari bisa menceritakan mimpinya kepada Rasulullah ﷺ sendiri.
Baca juga: Setengah Buah Apel dan Cahaya Wara’
Mimpi sahabat Ibnu Umar
Suatu malam, Abdullah bermimpi sesuatu yang luar biasa. Ia merasa seolah-olah dua malaikat datang menjemputnya dan membawanya ke neraka. Yang ia lihat adalah neraka yang terlipat seperti dasar sumur, dengan dua “tanduk” seperti yang ada pada sumur. Di dalamnya, ia mengenali beberapa orang, dan dalam ketakutan, ia berulang kali mengucapkan: “A‘ūdhu billāhi minan-nār, a‘ūdhu billāhi minan-nār” — “Aku berlindung kepada Allah dari api neraka.”
Di tengah ketakutan itu, tiba-tiba seorang malaikat lain datang dan berkata kepadanya: “Jangan takut.” Abdullah kemudian menceritakan mimpinya kepada Hafshah RA, yang segera menyampaikannya kepada Rasulullah ﷺ. Nabi ﷺ pun bersabda: “Alangkah baiknya orang ini, Abdullah! Seandainya dia shalat malam…”
Baca juga: Baca juga: Kisah Tsa’labah bin Hatib: Ketika Kaya Justru Menjauhkan dari Agama
Sejak saat itu, Abdullah bin Umar RA tidak lagi tidur di malam hari kecuali sebentar, dan ia menghidupkan malam dengan ibadah dan shalat. Diriwayatkan oleh Ahmad, Ishaq, dan Abdul Razzaq, serta versi ringkasnya oleh Ayub dari Nafi‘, bahwa Abdullah bin Umar RA selalu menghidupkan malam, terutama jika ia terlewat shalat Isya berjamaah. Dalam pengamatan para periwayat seperti Bishr bin Musa, Abdullah selalu memanfaatkan sisa malamnya untuk beribadah dengan tekun.
Baca juga: Kubah Misterius di Dasar Laut: Hikmah Agung Bakti Seorang Anak
Referensi:
Abu Nu‘aym Aḥmad bin ‘Abdullāh al-Aṣbahānī, Ḥilyat al-Awliyā’ wa Ṭabaqāt al-Aṣfiyā’, Juz 1, hlm. 303. Mesir: Maṭba‘at as-Sa‘ādah, cet. 1394 H / 1974 M.
Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo