Haji 2026 dalam Bayang-bayang Perang Timur Tengah, Jemaah Tetap Optimistis - Kompas
Haji 2026 dalam Bayang-bayang Perang Timur Tengah, Jemaah Tetap Optimistis
MEKKAH, KOMPAS.com - Ibadah haji 2026 dibayangi perang Timur Tengah yang secara teknis belum usai, tetapi tak menyurutkan optimisme para jemaah.
Laporan dari kantor berita AFP pada Jumat (22/5/2026) menyebutkan, lebih dari 1,2 juta jemaah haji dari seluruh penjuru dunia memadati kota suci Mekkah, Arab Saudi, hingga pekan ini.
Prosesi haji tahun ini dimulai pada Senin (25/5/2026), sedangkan situasi geopolitik Timteng masih belum menentu. Gencatan senjata yang diberlakukan sangat rapuh, rawan dilanggar kapanpun.
Baca juga: Trump Tahan Serangan ke Iran Usai Diperingatkan Negara Teluk soal Haji
Adapun haji tahun ini menarik perhatian besar karena diikuti jemaah dari seluruh dunia, termasuk Iran.
Kronologi Penemuan Jemaah Haji yang Hilang dan Wafat di Makkah
Kendati ketegangan regional membara, Pemerintah Arab Saudi berupaya keras memastikan para jemaah dapat fokus pada ibadah tanpa terganggu oleh konflik.
Bagi sebagian besar jemaah, kesempatan menginjakkan kaki di Tanah Suci mengalahkan segala kekhawatiran yang ada.
Baca juga: Wabah Ebola Melonjak, RD Kongo Pindahkan Pemusatan Latihan Piala Dunia ke Belgia
"Tidak ada keraguan sedikit pun untuk datang ke Mekkah," kata Fatima (36), ibu rumah tangga asal Jerman yang menunaikan ibadah haji bersama keluarga.
"Kami yakin kami di tempat teraman di dunia," ujarnya kepada AFP.
Hal senada diungkapkan oleh Ahmed Abo Seta (47). Rasa haru nan mendalam menyelimuti dirinya saat memulai rangkaian ibadah di kota tersuci umat Islam tersebut.
"Haji adalah impian seumur hidup saya, dan akhirnya impian itu menjadi nyata," tutur Ahmed kepada AFP.
Sebagai salah satu dari lima rukun Islam, ibadah haji merupakan kewajiban yang harus ditunaikan setidaknya sekali seumur hidup bagi muslim yang mampu secara fisik dan finansial.
Baca juga: 3 WNI di Mekkah Promosikan Haji Ilegal, Ditangkap Polisi Arab Saudi
Kompromi Arab Saudi-Iran

Lihat Foto
Meskipun memiliki sejarah rivalitas panjang, para ahli menilai Arab Saudi-Iran akan berupaya optimal mencegah segala hal yang mengganggu kekhusyukan haji tahun ini.
"Arab Saudi dan Iran tetap membuka keterlibatan politik mereka meskipun terjadi perang," kata Umer Karim, ahli kebijakan luar negeri Saudi.
Sebelumnya, berkat mediasi dari China pada 2023, kedua negara sempat membangun lagi hubungan diplomatik yang ditandai dengan pembukaan kembali kedutaan besar dan meredanya ketegangan.
Baca juga: AS dan Iran Masih Buntu soal Selat Hormuz, Harga Minyak Kian Memanas
Namun, ademnya hubungan itu terganggu pasca-serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari 2026.
Serangan tersebut memicu pembalasan besar-besaran dari Iran ke negara-negara tetangga di Teluk.
Instalasi energi, bandara, terminal ekspor, pelabuhan, hingga infrastruktur sipil menjadi sasaran Teheran.
Aksi blokade Iran di Selat Hormuz bahkan sempat mencekik jalur ekspor minyak dan gas Teluk ke dunia internasional.
Meski konflik bersenjata sempat pecah, jemaah haji asal Iran terpantau mulai berdatangan ke Arab Saudi sejak akhir April. Puluhan ribu lainnya diperkirakan akan menyusul.
Baca juga: Ancaman Bom di Pesawat Jemaah Haji Indonesia Jadi Sorotan Media Asing
Antisipasi cuaca ekstrem

Lihat Foto
Selain menghadapi tantangan geopolitik, para jemaah haji tahun ini juga harus bersiap menghadapi tantangan alam berupa cuaca ekstrem.
Ibadah fisik yang mayoritas dilakukan di luar ruangan ini akan berlangsung di bawah terik matahari. Suhu udara diprediksi menembus lebih dari 40 derajat Celsius sepanjang pekan.
Langkah antisipasi ketat diambil, belajar dari pengalaman kelam 2024 ketika lebih dari 1.300 orang meninggal dunia saat suhu melonjak drastis hingga di atas 50° C.
Baca juga: Trump Desak Iran Segera Berdamai atau Hadapi Kehancuran Total
Kementerian Kesehatan Saudi pun meluncurkan berbagai tindakan mitigasi dampak panas.
Otoritas setempat kini menyediakan lebih banyak area berteduh serta menyiagakan ribuan petugas kesehatan tambahan.
Secara total, lebih dari 50.000 staf kesehatan dan 3.000 unit ambulans disiapkan di lapangan untuk membantu jemaah yang membutuhkan pertolongan medis.
Baca juga: Cerita Barbershop di Mina Raup Rp 1,5 Miliar Sehari, Layani Ribuan Jemaah Haji
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang