Khutbah Jumat: Menjaga Adab Di Tengah Krisis Moral - Lirboyo net
Khutbah Jumat: Menjaga Adab Di Tengah Krisis Moral
Khutbah Pertama
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، خَالِقِ الْإِنْسَانِ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيْمٍ، وَمُزَيِّنِهِ بِالْعَقْلِ وَالْأَدَبِ الْكَرِيْمِ. نَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ، وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَنَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، صَلَّى اللّٰهُ عَلَى محمد وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ رَحِمَكُمُ اللّٰهُ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللّٰهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قال الله تعالى: إنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ
Baca juga: Khutbah Jumat: Seni Menata Niat dalam Bekerja
Ma’asyiral Muslimin, Jamaah Jumat Rahimakumullah
Segala puji bagi Allah yang telah memberikan kita modal terbesar berupa akal. Namun yang kita harus ketahui wahai para bapak-bapak sekalian, akal saja rasanya tidak cukup. Para ulama menyebutkan bahwa akal tanpa adab ibarat pohon yang tidak berbuah—rindang tapi tidak memberi manfaat.
Shalawat serta salam semoga tercurah kepada Baginda Nabi Muhammad ﷺ, yang diutus tidak lain kecuali untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak.
Hari ini, kita sering mendengar keluhan tentang krisis moral atau penurunan sopan santun. Seolah-olah adab adalah barang langka. Padahal, dalam Islam, adab (pendidikan karakter) adalah suatu yang mengikat dalam dua fase kehidupan kita. Adab saat kita menjadi orang tua atau ketika kita kecil dulu dan adab saat kita tumbuh menjadi dewasa.
Mari kita bedah melalui tiga poin utama:
Adab di Masa Kecil: Membentuk Kebiasaan
Tanggung jawab pertama ada pada pundak orang tua. Rasulullah ﷺ bersabda:
مَا نَحَلَ وَالِدٌ وَلَدَهُ نِحْلَةً أَفْضَلَ مِنْ أَدَبٍ حَسَنٍ
“Tidak ada pemberian seorang ayah kepada anaknya yang lebih utama daripada adab yang baik.” (HR. At-Tirmidzi)
Pendidikan adab di masa kecil adalah proses pembiasaan. Jika anak kita biasakan sopan sejak dini, ia akan merasa akrab dengan kebaikan itu. Namun, jika kita sebagai orang tua mengabaikannya saat kecil, maka mendidiknya di masa dewasa akan terasa sangat berat.
Pertanyaannya untuk kita semua. Seringkali kita sangat khawatir jika nilai matematika anak kita merah, atau jika mereka belum mahir teknologi. Tapi, pernahkah kita merasa cemas saat melihat anak kita tidak lagi mengenal rasa hormat kepada yang lebih tua atau tidak memiliki rasa malu? Ingatlah nasehat bijak:
بَادِرُوا بِتَأْدِيبِ الْأَطْفَالِ قَبْلَ تَرَاكُمِ الْأَشْغَالِ وَتَفَرُّقِ الْبَالِ
“Segeralah didik anakmu sebelum kesibukan dunia menumpuk dan konsentrasimu terpecah.”
Baca juga: Khutbah Jumat: Teguh Bersama Al-Qur’an
Adab di Masa Dewasa
Setelah kita tumbuh dewasa, adab tidak lantas berhenti. Ada yang disebut para ulama sebagai adab muwadha’ah, yaitu kecerdasan sosial untuk mengikuti etika dan kesepakatan yang berlaku di masyarakat.
Islam mengajarkan kita untuk tidak menjadi orang yang asing dari kebaikan sosial. Bagaimana cara kita berbicara, cara kita berpakaian, hingga bagaimana kita berinteraksi di ruang publik (termasuk media sosial), haruslah selaras dengan standar kepantasan. Orang yang melanggar etika umum tanpa alasan yang jelas hanya akan memanen cercaan. Di sinilah adab berfungsi sebagai penutup aib bagi garis keturunan kita.
Baca juga: Khutbah Jumat: Memuliakan Bulan Dzulqa’dah
Ma’asyiral Muslimin, Jamaah Jumat Rahimakumullah
Poin terakhir yang paling krusial adalah adab riyadhah, yaitu perjuangan kita untuk memperbaiki diri sendiri. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا
“Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya.” (QS. Asy-Syams: 8)
Musuh terbesar adab adalah sifat merasa paling benar. Jangan sampai kita terlalu cepat berprasangka baik pada diri sendiri sehingga buta terhadap cacat di akhlak kita. Nafsu kita seringkali memerintahkan pada keburukan.
Oleh karena itu, jadikan adab sebagai cermin dari akal kita. Orang yang tinggi ilmunya tapi buruk adabnya, maka ilmunya sia-sia. Namun, orang yang beradab, meskipun nasab atau garis keturunannya biasa saja, ia akan terangkat derajatnya di mata manusia dan di sisi Allah.
Sebab, adab adalah sarana menuju setiap kebajikan dan jembatan menuju pemahaman syariat yang sempurna.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ.
Baca juga: Khutbah Jumat: Mari Mendidik Anak dengan Baik
Khutbah Kedua
اَلْحَمْدُ للهِ حَمْدًا كَثِيْرًا كَمَا أَمَرَ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ رَحِمَكُمُ اللّٰهُ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللّٰهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ
Ma’asyiral Muslimin, Jamaah Jumat Rahimakumullah
Sebagai penutup, mari kita ingat satu kaidah emas: “Kemuliaan itu didapat dengan akal dan adab, bukan semata karena keturunan.” Siapa yang buruk adabnya, maka ia telah menyia-nyiakan kemuliaan keluarganya.
Mendidik diri dan keluarga adalah jihad yang tidak pernah usai. Jangan pernah lelah untuk memperbaiki cara kita bicara, cara kita bersikap, dan cara kita memandang dunia. Semoga kita termasuk golongan orang-orang yang diberikan taufiq untuk menghiasi diri dengan adab al-karimah. Aamiin.
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْواجِنا وَذُرِّيَّاتِنا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنا لِلْمُتَّقِينَ إِمامًا. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.
Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo