0
News
    Home Featured Khotbah Jum'at Khutbah Jum'at Spesial

    Khutbah Jumat: Seni Menata Niat dalam Bekerja - Lirboyo

    7 min read

     

    Khutbah Jumat: Seni Menata Niat dalam Bekerja

    اَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْأَرْبَابِ، وَمُسَبِّبِ الْأَسْبَابِ، الَّذِي جَعَلَ الدُّنْيَا دَارَ التَّمَحُّلِ وَالِاكْتِسَابِ، وَالْآخِرَةَ دَارَ الثَّوَابِ وَالْعِقَابِ. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، الْمُصْطَفَى لِأَكْرَمِ الْآدَابِ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ النُّجُوْمِ الثَّوَاقِبِ

    أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْقَائِلِ فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: “فَانْتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللَّهِ وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ” (سورة الجمعة: ١٠)

    Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

    Mengawali khutbah ini, khatib berwasiat kepada kita semua untuk senantiasa meningkatkan ketakwaan. Ketakwaan tidak hanya berada di atas sajadah saat bersujud, namun juga terwujud dalam kejujuran dan kegigihan kita saat menjemput rezeki di bumi Allah yang luas ini.

    Perlu kita sadari, bahwa Allah subhanahu wa ta’ala menjadikan dunia ini sebagai darul iktisab—tempat untuk berusaha dan bekerja. Sebaliknya, akhirat adalah darul jaza’—tempat untuk menerima balasan. Maka darinya, janganlah kita salah memahami, kesungguhan kita dalam urusan dunia bukanlah lawan dari urusan akhirat. Justru, kehidupan dunia yang mapan dan halal adalah sarana utama (wasilah) untuk menggapai kemuliaan akhirat.

    Baca juga: Khutbah Jumat: Teguh Bersama Al-Qur’an

    Hadirin rahimakumullah,

    Dunia adalah mazra’atul akhirah (ladang akhirat). Tanpa menanam di dunia, mustahil kita memanen di akhirat. Terkait hal ini, para ulama membagi manusia menjadi tiga golongan dalam menyikapi pekerjaan:

    1. Golongan yang binasa:

    Yaitu mereka yang kesibukan mencari dunianya melupakan mereka dari urusan akhirat.

    1. Golongan yang beruntung:

    Yaitu mereka yang menjadikan dunia hanya sekadarnya dan mengutamakan akhirat.

    1. Golongan yang moderat (al-Muqtashid):

    Inilah tingkatan yang paling relevan bagi kita, yaitu mereka yang menjadikan kesibukan dunianya sebagai penopang bagi akhiratnya.

    Seseorang tidak akan mencapai derajat moderat ini kecuali jika ia memegang teguh jalan yang lurus dan menghiasi pekerjaannya dengan adab-adab syariat.

    Baca juga: Khutbah Jumat: Memuliakan Bulan Dzulqa’dah

    Hadirin rahimakumullah,

    Al-Qur’an menyebutkan aktivitas mencari nafkah sebagai sebuah karunia dan nikmat yang harus disyukuri. Allah berfirman:

    وَجَعَلْنَا النَّهَارَ مَعَاشًا

    “Dan Kami jadikan siang untuk mencari penghidupan.” (QS an-Naba: 11).

    Dalam ayat lain, Allah menegaskan bahwa mencari karunia-Nya dalam perniagaan bukanlah sebuah dosa:

    لَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَنْ تَبْتَغُوْا فَضْلًا مِنْ رَبِّكُمْ

    “Bukanlah suatu dosa bagimu mencari karunia dari Tuhanmu.” (QS al-Baqarah: 198).

    Begitu mulianya bekerja, hingga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan kabar gembira melalui lisan beliau yang mulia:

    مِنَ الذُّنُوْبِ ذُنُوْبٌ لَا يُكَفِّرُهَا إِلََّا الْهَمَّ فِيْ طَلَبِ الْمَعِيْشَةِ

    “Di antara dosa-dosa, ada dosa yang tidak bisa dihapus kecuali dengan keletihan dalam mencari nafkah.” (HR. At-Thabrani).

    Baca juga: Khutbah Jumat: Mari Mendidik Anak dengan Baik

    Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

    Suatu ketika, para sahabat melihat seorang pemuda yang sangat kuat dan rajin bekerja di pagi hari. Mereka berkata, “Aduhai, seandainya kekuatan dan masa mudanya digunakan di jalan Allah (jihad).”

    Mendengar itu, Rasulullah segera meluruskan pandangan mereka dengan sabdanya:

    “Janganlah kalian berkata demikian. Jika ia bekerja untuk dirinya agar tidak meminta-minta, maka ia berada di jalan Allah. Jika ia bekerja untuk kedua orang tuanya atau keluarganya yang lemah, maka ia berada di jalan Allah. Namun, jika ia bekerja demi kesombongan dan pamer kekayaan, maka ia berada di jalan setan.”

    Maka, jelaslah bagi kita, bahwa letak kemuliaan sebuah pekerjaan bukan pada jenis profesinya, melainkan pada niat dan adabnya. Menjadi tukang kayu yang memanggul kayu di punggungnya jauh lebih mulia di mata Allah daripada mereka yang memiliki keluasan harta namun menghabiskan waktu dengan meminta-minta atau menjadi beban bagi orang lain.

    Semoga Allah subhanahu wa ta’ala memberkahi setiap tetes keringat kita, menjadikannya penghapus dosa, dan mengubah lelah kita menjadi lillah yang mengantarkan kita ke surga-Nya.

    بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي القُرْآنِ العَظِيمِ. وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الحَكِيمِ. وَتَقَبَّلَ مِنّي وَمِنْكُمْ تِلاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ. وَقُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِينَ. أَقُولُ قَوْلى هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.

    KHUTBAH II

    اَلْحَمْدُ للهِ عَلَى إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِي إِلَى رِضْوَانِهِ

    وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا

    أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، اِتَّقُوا اللهَ فِيْمَا أَمَرَ، وَانْتَهُوا عَمَّا نَهَى عَنْهُ وَزَجَرَ.

    Marilah kita akhiri khutbah ini dengan menyadari bahwa para sahabat Nabi dahulu adalah para pedagang di darat dan laut, serta petani di perkebunan kurma mereka. Mereka adalah teladan nyata bahwa kesalehan tidak menghalangi profesionalitas, dan kerja keras adalah bagian dari ibadah.

    أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا، اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ،

    اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ عِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

    Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo

    Komentar
    Additional JS