0
News
    Home Berita Featured Spesial

    Tafsir Surat Al-Hujurat 11-12: Larangan Merendahkan Ide dan Gagasan Orang Lain - NU Online

    5 min read

     

    Tafsir Surat Al-Hujurat 11-12: Larangan Merendahkan Ide dan Gagasan Orang Lain

    Ilustrasi ide dan gagasan orang lain. (Foto: Istimewa) M Rufait Balya B Penulis Download PDF

    Di tengah kehidupan yang semakin terbuka dan penuh pertukaran gagasan, perbedaan pendapat menjadi sesuatu yang tidak terhindarkan. Di era saat ini, setiap orang memiliki ide, pandangan, dan cara berpikir yang berbeda.

    Sayangnya, tak sedikit yang masih mudah meremehkan pendapat orang lain, memotong pembicaraan, atau bahkan mencemooh gagasan yang dianggap tidak sejalan. Sikap seperti ini sering kali dianggap wajar, padahal sejatinya bertentangan dengan nilai-nilai luhur dalam ajaran Islam.

    Allah SWT telah memberikan pedoman yang sangat jelas dalam surat Al-Hujurat ayat 11–12, tentang larangan merendahkan orang lain, mencela, serta berprasangka buruk, yaitu sebagaimana berikut:

    يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّنْ قَوْمٍ عَسٰٓى اَنْ يَّكُوْنُوْا خَيْرًا مِّنْهُمْ وَلَا نِسَاۤءٌ مِّنْ نِّسَاۤءٍ عَسٰٓى اَنْ يَّكُنَّ خَيْرًا مِّنْهُنَّۚ وَلَا تَلْمِزُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوْا بِالْاَلْقَابِۗ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوْقُ بَعْدَ الْاِيْمَانِۚ وَمَنْ لَّمْ يَتُبْ فَاُولٰۤئِكَ هُمُ الظّٰلِمُوْنَ 

    Artinya: "Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokkan itu) lebih baik daripada mereka (yang mengolok-olok) dan jangan pula perempuan-perempuan (mengolok-olok) perempuan lain (karena) boleh jadi perempuan (yang diolok-olok itu) lebih baik daripada perempuan (yang mengolok-olok). Janganlah kamu saling mencela dan saling memanggil dengan julukan yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) fasik setelah beriman. Siapa yang tidak bertobat, mereka itulah orang-orang zalim". (QS. Al-Hujurat [49]: 11).

    Larangan tersebut tidak hanya berlaku pada bentuk hinaan fisik atau ejekan terang-terangan, tetapi juga mencakup sikap meremehkan ide, menertawakan pendapat, atau merasa paling benar di hadapan orang lain. Sebab, bisa jadi gagasan yang dianggap sederhana justru lebih baik di sisi Allah, dan orang yang diremehkan justru memiliki kemuliaan yang tidak kita ketahui.

    Terkait ayat di atas juga dijelaskan oleh Ibnu Katsir dalam kitab Tafsir Al-Qur'an Al-Adzim, sebagaimana berikut:

    يَنْهَى تَعَالَى عَنِ السُّخْرِيَةِ بِالنَّاسِ، وَهُوَ احْتِقَارُهُمْ وَالِاسْتِهْزَاءُ بِهِمْ، كَمَا ثَبَتَ فِي الصَّحِيحِ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ أَنَّهُ قَالَ: «الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْصُ النَّاسِ»، وَيُرْوَى: «وَغَمْطُ النَّاسِ». وَالْمُرَادُ مِنْ ذَلِكَ: احْتِقَارُهُمْ وَاسْتِصْغَارُهُمْ، وَهَذَا حَرَامٌ، فَإِنَّهُ قَدْ يَكُونُ الْمُحْتَقَرُ أَعْظَمَ قَدْرًا عِنْدَ اللَّهِ وَأَحَبَّ إِلَيْهِ مِنَ السَّاخِرِ مِنْهُ الْمُحْتَقِرِ لَهُ

    Artinya: "Allah Ta'ala melarang dari perbuatan mengejek manusia, yaitu merendahkan mereka dan memperolok-olok mereka. Sebagaimana telah diriwayatkan dalam hadits shahih dari Rasulullah SAW bahwa beliau bersabda: 'Kesombongan adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia'."

    Dan diriwayatkan pula dengan lafadz: "merendahkan manusia." Yang dimaksud dari hal tersebut adalah: merendahkan dan menganggap kecil orang lain, dan hal ini haram, karena bisa jadi orang yang direndahkan itu lebih tinggi kedudukannya di sisi Allah dan lebih dicintai-Nya daripada orang yang mengejek dan merendahkannya. (Ibnu Katsir, Tafsir Al-Qur'an Al-Adzim, [Riyadh: Daar Tayyibah: 1999 M/1420 H], juz 7, halaman 376).

    Sementara itu dalam lanjutan ayat ke-12 surat Al-Hujurat juga dijelaskan bahwa umat Islam dilarang mencari-cari kesalahan dan menggunjing orang lain.

    يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اجْتَنِبُوْا كَثِيْرًا مِّنَ الظَّنِّۖ اِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ اِثْمٌ وَّلَا تَجَسَّسُوْا وَلَا يَغْتَبْ بَّعْضُكُمْ بَعْضًاۗ اَيُحِبُّ اَحَدُكُمْ اَنْ يَّأْكُلَ لَحْمَ اَخِيْهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوْهُۗ وَاتَّقُوا اللّٰهَۗ اِنَّ اللّٰهَ تَوَّابٌ رَّحِيْمٌ

    Arrinya: "Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah banyak prasangka! Sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa. Janganlah mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Bertakwalah kepada Allah! Sesungguhnya Allah Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang". (QS. Al-Hujurat [49]: 12).

    Mengenai ayat ini, dalam kitab Tafsir Al-Qur'an Al-Adzim dijelaskan lebih lanjut terkait larangan berprasangka buruk, mencari-cari kesalahan, dan menggunjing orang lain.

    يَقُولُ تَعَالَى نَاهِيًا عِبَادَهُ الْمُؤْمِنِينَ عَنْ كَثِيرٍ مِنَ الظَّنِّ، وَهُوَ التُّهْمَةُ وَالتَّخَوُّنُ لِلْأَهْلِ وَالْأَقَارِبِ وَالنَّاسِ فِي غَيْرِ مَحَلِّهِ؛ لِأَنَّ بَعْضَ ذَلِكَ يَكُونُ إِثْمًا مَحْضًا، فَلْيَجْتَنِبْ كَثِيرًا مِنْهُ احْتِيَاطًا. وَرُوِينَا عَنْ أَمِيرِ الْمُؤْمِنِينَ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّهُ قَالَ: «وَلَا تَظُنَّنَّ بِكَلِمَةٍ خَرَجَتْ مِنْ أَخِيكَ الْمُسْلِمِ إِلَّا خَيْرًا، وَأَنْتَ تَجِدُ لَهَا فِي الْخَيْرِ مَحْمَلًا».

    Artinya: "Allah Ta'ala berfirman dengan melarang hamba-hamba-Nya yang beriman dari banyak berprasangka, yaitu menuduh dan mencurigai keluarga, kerabat, dan manusia tanpa alasan yang benar. Hal itu dilarang karena sebagian dari prasangka tersebut merupakan dosa yang murni, maka hendaklah seseorang menghindari banyak prasangka sebagai bentuk kehati-hatian."

    Telah diriwayatkan dari Amirul Mukminin Umar bin Khattab RA, bahwa beliau berkata: "Janganlah engkau berprasangka terhadap suatu ucapan yang keluar dari saudaramu sesama muslim kecuali dengan prasangka yang baik, selama engkau masih dapat menemukan kemungkinan makna yang baik baginya."

    Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Malik, juga menjelaskan bahwa Rasulullah SAW melarang prasangka karena perbuatan ini adalah ucapan yang paling dusta.

    وَقَالَ مَالِكٌ، عَنْ أَبِي الزِّنَادِ، عَنِ الْأَعْرَجِ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «إِيَّاكُمْ وَالظَّنَّ، فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الْحَدِيثِ، وَلَا تَجَسَّسُوا، وَلَا تَحَسَّسُوا، وَلَا تَنَافَسُوا، وَلَا تَحَاسَدُوا، وَلَا تَبَاغَضُوا، وَلَا تَدَابَرُوا، وَكُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا»

    Artinya: Imam Malik meriwayatkan dari Abu Az-Zinad, dari Al-A‘raj, dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah SAW bersabda: "Jauhilah prasangka, karena sesungguhnya prasangka itu adalah ucapan yang paling dusta. Janganlah kalian memata-matai, jangan mencari-cari kesalahan, jangan saling bersaing secara tidak sehat, jangan saling dengki, jangan saling membenci, jangan saling membelakangi, dan jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara." (Ibnu Katsir, Tafsir Al-Qur'an Al-Adzim, [Riyadh: Daar Tayyibah: 1999 M/1420 H], juz 7, halaman 377).

    Maka dari itu, menghargai ide dan gagasan orang lain sejatinya merupakan bagian dari adab Islami yang mencerminkan kelapangan hati dan kedewasaan iman. Dengan menghargai pendapat orang lain, kita tidak hanya menjaga perasaan sesama, tetapi juga membuka pintu bagi lahirnya pemikiran yang lebih bijak dan solutif.

    Inilah nilai yang hendak dibangun oleh Al-Qur’an melalui firman-Nya dalam Surat Al-Hujurat ayat 11–12—yakni membentuk masyarakat yang tidak mudah merendahkan, tetapi justru saling menguatkan, tidak sekedar menggunjing tapi justru mendukung, serta menghormati perbedaan sebagai bagian dari rahmat Allah Ta’ala. Wallahu a'lam.

    Komentar
    Additional JS