Cara Membangun Budaya Membaca Anak di Rumah Sejak Dini - NU Online
Sebagai orang tua, pernahkah kita merasa khawatir melihat perkembangan teknologi yang begitu cepat?
Di satu sisi, teknologi membawa banyak manfaat. Anak-anak bisa belajar banyak hal dengan mudah. Namun di sisi lain, derasnya arus informasi juga menghadirkan tantangan tersendiri.
Banyak orang tua bertanya dalam hati: Apakah anak kita kelak mampu menghadapi dunia yang semakin kompleks? Apakah mereka memiliki bekal yang cukup ketika sudah tidak selalu berada dalam pendampingan kita?
Kekhawatiran seperti ini sangat wajar. Setiap orang tua tentu ingin anaknya tumbuh menjadi pribadi yang baik, mandiri, dan mampu menjalani kehidupan dengan penuh keberkahan.
Salah satu bekal penting yang perlu dipersiapkan sejak dini adalah kemampuan literasi. Anak yang memiliki budaya membaca akan lebih mudah memahami informasi, memilah mana yang baik dan mana yang harus dihindari. Ia juga lebih mampu menggunakan teknologi sebagai alat yang bermanfaat, bukan justru menjadi seseorang yang dikendalikan oleh teknologi.
Karena itu, membangun budaya membaca di rumah adalah salah satu investasi terbaik orang tua untuk masa depan anak.
Islam dan Keistimewaan Membaca
Menariknya, perhatian terhadap membaca bukanlah hal baru dalam Islam. Wahyu pertama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW dimulai dengan perintah membaca.
Allah SWT berfirman:
اِقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِيْ خَلَقَۚ خَلَقَ الْاِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍۚ اِقْرَأْ وَرَبُّكَ الْاَكْرَمُۙ الَّذِيْ عَلَّمَ بِالْقَلَمِۙ عَلَّمَ الْاِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْۗ
Artinya: “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan! Dia menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah! Tuhanmulah Yang Maha Mulia, yang mengajar (manusia) dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS. Al-'Alaq [96]: 1—5).
Imam Baghawi dalam tafsirnya menjelaskan:
أَكْثَرُ الْمُفَسِّرِينَ: عَلَى أَنَّ هَذِهِ أَوَّلُ سُورَةٍ نَزَلَتْ مِنَ الْقُرْآنِ، وَأَوَّلُ مَا نَزَلَ خَمْسُ آيَاتٍ مِنْ أَوَّلِهَا إِلَى قَوْلِهِ: مَا لَمْ يَعْلَمْ
Artinya: “Mayoritas mufassir menyatakan bahwa ayat ini adalah surat Al-Qur'an pertama yang turun. Lima ayat pertama dari surat ini sampai ayat 'ma lam ya'lam'.” (Abu Muhammad Baghawi, Tafsirul Baghawi, [Beirut: Daru Ihya'it Turats, 1420 H], jilid V, hlm. 279)
Ayat ini menunjukkan bahwa membaca dan menulis memiliki kedudukan istimewa dalam Islam. Imam Khazin juga menjelaskan:
وقيل يحتمل أن يكون هذا حثا على القراءة، والمعنى اقرأ وربك الأكرم لأنه يجزي بكل حرف عشر حسنات الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ أي الخط والكتابة التي بها تعرف الأمور الغائبة وفيه تنبيه على فضل الكتابة لما فيها من المنافع العظيمة لأن بالكتابة ضبطت العلوم، ودونت الحكم وبها عرفت أخبار الماضين، وأحوالهم وسيرهم ومقالاتهم ولولا الكتابة ما استقام أمر الدين والدنيا
Artinya: “Dikatakan bahwa ayat ini diarahkan pada anjuran membaca. Ayat 'yang mengajar manusia dengan pena' menunjukkan keistimewaan tulisan. Sebab dengan tulisan ilmu pengetahuan terjaga, hikmah terdokumentasi, dan sejarah orang-orang terdahulu dapat diketahui. Andaikan tidak ada tulisan, maka urusan agama dan dunia tidak akan tegak.” (Imam Khazin, Tafsirul Khazin, [Beirut: Darul Kutub Ilmiyyah, 1995], Jilid IV, hlm. 448).
Maka, mengenalkan buku kepada anak bukan hanya bagian dari pendidikan modern, tetapi juga sejalan dengan nilai keilmuan dalam Islam.
Kapan Anak Mulai Dikenalkan Buku?
Jawabannya: sedini mungkin. Bahkan sejak anak masih dalam kandungan, orang tua sudah dapat mengenalkan aktivitas membaca.
Membacakan buku saat hamil bukan hanya aktivitas membaca, tetapi juga bentuk komunikasi penuh kasih antara orang tua dan calon buah hati. Beberapa manfaatnya antara lain:
(1). Memberikan stimulus untuk tumbuh kembang anak; (2). Meningkatkan rasa ingin tahu; (3). Mengenalkan bahwa membaca adalah aktivitas yang menyenangkan; (4). Melatih kemampuan mendengarkan dan mengingat.
Islam sendiri sangat memperhatikan manusia sejak sebelum lahir. Dalam kondisi tertentu, ibu hamil diberikan keringanan dalam menjalankan ibadah karena mempertimbangkan kesehatan dirinya dan janinnya. (Kiai Ahmad Ghazali Lanbulan, al-Jauharu al-Farid Syarhun 'alal Manhaji as-Sadid, [Lanbulan: PP Al-Mubarak], hlm. 23—24)
Hal ini menunjukkan bahwa perhatian terhadap anak sudah dimulai sejak fase awal kehidupannya.
Tips Membangun Budaya Membaca di Rumah
1. Hadirkan Buku di Rumah
Tidak perlu memiliki perpustakaan besar. Cukup sediakan beberapa buku yang sesuai usia anak. Letakkan di tempat yang mudah dijangkau. Tujuannya sederhana: agar anak terbiasa melihat buku.
Buku yang sering terlihat akan menumbuhkan rasa penasaran. Anak akan mulai membuka, melihat gambar, dan perlahan menikmati isi buku. Dalam tradisi Islam, kecintaan terhadap buku menjadi ciri para ulama. Imam Yahya bin Ma'in disebutkan meninggalkan warisan kitab sebanyak 114 qumthur dan 4 hubb yang penuh berisi kitab. (Syekh Abdul Fatah, Qimatuz Zaman 'Indal Ulama, hlm. 37)
2. Orang Tua Harus Menjadi Contoh
Anak belajar dari apa yang ia lihat. Jika ingin anak mencintai buku, maka orang tua juga perlu menunjukkan bahwa membaca adalah kebiasaan yang menyenangkan.
Para ulama terdahulu memberikan teladan luar biasa. Al-Jahizh Amr bin Bahar dikenal membaca buku sampai selesai ketika mendapatkan buku baru.
Al-Fath bin Khaqan bahkan selalu membawa buku ke mana pun ia pergi. Begitu pun, Ismail bin Ishaq Al-Qadhi juga dikenal selalu bersama buku, membaca, mencari, atau merawat kitab-kitabnya. (Imam Al-Khatib Al-Baghdadi, Taqyidul 'Ilmi, hlm. 139)
3. Jadikan Membaca Sebagai Rutinitas
Karakter tidak terbentuk dalam satu hari. Awalnya mungkin anak perlu diajak atau diarahkan. Namun perlahan, membaca akan menjadi kebiasaan.
Jangan hanya meminta anak membaca, tetapi jelaskan juga mengapa membaca itu penting. Ketika membaca menjadi bagian dari aktivitas sehari-hari, anak akan tumbuh menjadi pribadi yang senang belajar.
4. Berikan Apresiasi
Saat anak mulai mengambil buku sendiri, membaca, atau bertanya tentang isi buku, berikan apresiasi. Pujian sederhana dapat membuat anak merasa bahwa aktivitas membaca adalah sesuatu yang bernilai.
Orang tua juga dapat mengajak anak memilih buku yang ia sukai. Khalifah Ma'mun pernah memuji anak yang dekat dengan ilmu dengan berkata:
“Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahi saya keturunan yang melihat dengan mata akalnya lebih banyak daripada apa yang ia lihat dengan mata kepalanya.” (Imam Al-Khatib Al-Baghdadi, Taqyidul 'Ilmi, hlm. 139)
5. Atur Penggunaan Gawai
Di zaman sekarang, gawai tidak mungkin sepenuhnya dihindari. Namun, orang tua perlu membuat batasan. Jangan sampai kebiasaan membaca yang sudah dibangun sejak kecil hilang karena penggunaan gawai tanpa kontrol. Teknologi harus menjadi alat yang membantu anak berkembang, bukan sesuatu yang menguasai kehidupannya.
Dengan demikian, membangun budaya membaca di rumah adalah proses panjang. Tidak cukup hanya membeli buku, tetapi perlu menghadirkan suasana rumah yang dekat dengan ilmu.
Ketika orang tua memberikan teladan, menyediakan buku, membangun kebiasaan, dan mendampingi anak dengan sabar, maka rumah akan menjadi tempat pertama tumbuhnya generasi pembelajar.
Semoga Allah SWT menjadikan anak-anak kita sebagai generasi yang mencintai ilmu, dekat dengan bacaan, dan memiliki akhlak yang baik. Wallahu a'lam.
------------
Syifaul Qulub Amin, Alumnus PP Nurul Cholil, Aktif sebagai perumus LBM PP Nurul Cholil dan editor Website PCNU Bangkalan.