Di Balik Surat al-Kautsar: Sebuah Kisah dan Perbedaan Ulama - Lirboyo
Di Balik Surat al-Kautsar: Sebuah Kisah dan Perbedaan Ulama
Suasana hari raya Iduladha masih terasa, takbir seyogianya masih berkumandang—karena masih termasuk hari tasyriq. Dan belum lama, kita mungkin melihat beberapa postingan ucapan selamat hari raya Iduladha di sosial media yang di dalamnya pula tertuang surat Al-Kautsar.
Surat al-Kautsar memang pendek, hanya tiga ayat. Namun di balik ayat-ayat singkat itu, tersimpan kisah turunnya wahyu, perintah salat dan kurban, kabar tentang telaga Nabi di akhirat, hingga perbedaan penafsiran para ulama. Tak heran, surat yang sering dibaca saat Iduladha ini menyimpan makna yang jauh lebih dalam dari yang kita bayangkan. Lalu, bagaimana sebenarnya kisah turunnya surat al-Kautsar?
Baca juga: Pembasmian Ikan Sapu-Sapu: Bolehkah Mengubur Hidup-Hidup?
Surat Terpendek dalam Al-Quran
Surat Al-Kautsar yang berjumlah tiga ayat termasuk surat terpendek dalam Al-Quran. Namun siapa sangka, surat sependek itu selain mempunyai nilai historis yang bermakna, ternyata banyak ulama berbeda pendapat dalam menafsirinya.
Dalam Tafsir ad-Dur al-Manshur, Syaikh Jalaluddin as-Suyuthi menukil 17 pendapat dalam menafsiri ayat “Fashalli lirabbika wanhar”. (Jalāl al-Dīn al-Suyūṭī, al-Durr al-Manthūr fī al-Tafsīr bi al-Ma’thūr, juz 8, [Beirut: Dār al-Fikr, t.t.], 652.
Selain itu pula, Imam Fakhr ad-Din ar-Razi menjelaskan bahwa pendapat yang paling aqrab (yang paling dekat dengan benar) dalam ayat tersebut adalah salat lima waktu. Beliau mengemukakan tiga pendapat sebagaimana berikut:
Baca juga: Kriteria Memilih Istri
Pendapat pertama:
Yang dimaksud dengan salat di sini adalah salat fardu, yaitu salat lima waktu. Hanya saja tidak disebutkan tata caranya, karena tata cara salat itu telah diketahui sebelumnya.
Pendapat kedua:
Yang dimaksud adalah salat Id dan penyembelihan kurban, sebab dahulu mereka mendahulukan penyembelihan kurban sebelum salat, lalu turunlah ayat ini.
Para ulama muhaqqiqin berkata: pendapat ini lemah, karena peng-athaf-an suatu perkara kepada perkara lain dengan huruf ‘wawu’ tidak menunjukkan urutan.
Pendapat ketiga:
Diriwayatkan dari Sa’id bin Jubair bahwa maknanya adalah: ‘Laksanakan salat Subuh di Muzdalifah dan berkurbanlah di Mina.’
Namun pendapat yang paling dekat kepada kebenaran adalah pendapat pertama, karena tidak mesti ketika penyebutan penyembelihan (nahr) digandengkan dengan salat, maka salat tersebut harus dimaknai sebagai salat yang dilakukan pada hari penyembelihan kurban. (Fakhr al-Dīn al-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb aw al-Tafsīr al-Kabīr, juz 32 [Beirut: Dār al-Fikr, t.t.], 318.)
Baca juga: Mengadakan Tahlilan Sampai Berutang?
Cerita Turunnya Surat al-Kautsar
Dalam Tafsir Ibnu Katsir, disebutkan bahwa: telah disebutkan dalam sifat telaga (al-haudh) pada hari kiamat bahwa ada dua pancuran yang mengalir ke dalamnya dari langit, berasal dari Sungai Kautsar. Bejana-bejananya berjumlah sebanyak bintang-bintang di langit. Hadis ini diriwayatkan oleh Muslim, Abu Dawud, dan an-Nasa’i melalui jalur Ali bin Mushir dan Muhammad bin Fudhail, keduanya dari al-Mukhtar bin Falfal, dari Anas.
“Pada suatu ketika Rasulullah ﷺ berada di tengah-tengah kami di masjid. Tiba-tiba beliau tertidur sejenak, kemudian mengangkat kepala sambil tersenyum. Kami bertanya: “Apa yang membuat engkau tersenyum wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Baru saja diturunkan kepadaku sebuah surah.” Lalu beliau membaca:
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ
إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ
“Sesungguhnya Kami telah memberimu al-Kautsar. Maka dirikanlah salat karena Tuhanmu dan berkurbanlah. Sesungguhnya orang yang membencimu, dialah yang terputus.”
Kemudian beliau bersabda:
“Apakah kalian tahu apa itu al-Kautsar?”
Kami menjawab: “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.”
Beliau bersabda:
‘Sesungguhnya ia adalah sungai yang dijanjikan Rabbku kepadaku. Di dalamnya terdapat kebaikan yang sangat banyak. Ia juga merupakan telaga yang akan didatangi umatku pada hari kiamat. Bejana-bejananya sebanyak bintang-bintang di langit. Lalu ada seorang hamba dari umatku yang dihalau darinya, maka aku berkata: “Wahai Rabbku, dia termasuk umatku.” Maka Allah berfirman: “Sesungguhnya engkau tidak mengetahui apa yang mereka ada-adakan sepeninggalmu.”’”) Ismā‘īl ibn ‘Umar Ibn Katsīr, Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm, juz 8 [Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1419 H], 472.)
Penutup
Hadis ini seperti “plot twist” ukhrawi: yang paling mengejutkan bukan luas telaganya, tetapi adanya orang yang dulu mengaku umat Nabi namun justru terusir dari telaga itu karena penyimpangan yang mereka buat setelah beliau wafat.
Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo