0
News
    Home Featured Haji Haji Mabrur Khotbah Jum'at Khutbah Jum'at Spesial

    Khutbah Jumat: Mereka yang Mendapat Predikat Haji Mabrur - Lirboyo

    9 min read

     

    Khutbah Jumat: Mereka yang Mendapat Predikat Haji Mabrur



    Khutbah Pertama

    اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللّٰهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ .قال تعالى: فِيْهِ اٰيٰتٌۢ بَيِّنٰتٌ مَّقَامُ اِبْرٰهِيْمَ ەۚ وَمَنْ دَخَلَهٗ كَانَ اٰمِنًاۗ وَلِلّٰهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ اِلَيْهِ سَبِيْلًاۗ وَمَنْ كَفَرَ فَاِنَّ اللّٰهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعٰلَمِيْنَ.

     أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللّٰهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.

    Ma’asyiral Muslimin, Jamaah Jumat Rahimakumullah

    Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Takwa adalah satu-satunya pakaian terbaik yang tidak akan pernah usang oleh waktu, dan perisai paling kokoh saat kita menghadap Allah kelak. Shalawat serta salam semoga tercurah kepada Baginda Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wasallam, yang telah mengajarkan kita bagaimana mengubah setiap jengkal aktivitas dunia menjadi jembatan menuju surga-Nya.

    Baca juga: Khutbah Jumat: Hak Penting Yang Harus Kita Berikan Kepada Istri

    Jamaah Jumat yang Dirahmati Allah

    Saat ini, jutaan kaum muslimin dari berbagai belahan dunia—termasuk saudara-saudara kita dari tanah air—sedang atau telah selesai menunaikan ibadah haji. Mereka pergi dengan membawa sejuta harapan, menguras air mata, tenaga, dan harta yang tidak sedikit. Di lisan setiap mereka, dan di dalam doa-doa kita yang melepasnya, terselip satu permohonan yang sama: “Semoga menjadi haji yang mabrur.”

    Namun, di tengah ucapan selamat dan penyambutan, pernahkah kita merenungkan: Siapakah sebenarnya yang berhak menyandang predikat agung tersebut di mata Allah? Ketika pakaian ihram yang putih bersih telah ditanggalkan dan diganti kembali dengan pakaian duniawi, di manakah letak kemabruran itu membekas?

    Tidak ada kata yang paling indah dan yang paling teduh, yang mampu melukiskan siapa sebenarnya peraih predikat haji mabrur, kecuali sebuah dialog hati yang telah abadi tertulis di tinta ulama kita. Dalam kitab Al-Fawaid al-Mukhtarah, diceritakan bahwa seseorang pernah bertanya kepada seorang ulama tabi’in besar, Imam Hasan al-Bashri:

    قَالَ رَجُلٌ لِلْحَسَنِ: يَا أَبَا سَعِيدٍ، مَا الْحَجُّ الْمَبْرُورُ؟ قَالَ: أَنْ تَرْجِعَ زَاهِدًا فِي الدُّنْيَا، رَاغِبًا فِي الْآخِرَةِ

    “Seorang laki-laki bertanya kepada Hasan al-Bashri: ‘Wahai Abu Said, apa itu haji mabrur?’ Beliau menjawab: ‘Engkau pulang (dari haji) dengan keadaan zuhud terhadap dunia, dan penuh cinta (raghiban) kepada akhirat.'”

    Kemabruran haji ternyata bukan terletak pada gelar yang menempel di depan nama, bukan pada megahnya penyambutan, melainkan pada perubahan arah kompas hati setelah melintasi Tanah Suci.

    Baca juga: Khutbah: Keistimewaan Hari Jumat

    Jamaah Jumat Rahimakumullah

    Lalu, muncul pertanyaan penting di benak kita: Apa itu zuhud yang menjadi tanda kemabruran tersebut?

    Imam Abu Hamid al-Ghazali dalam kitab monumental beliau, Ihya’ Ulumiddin, membedah hakikat ini dengan sangat mendalam agar kita tidak terjebak pada fatamorgana visual. Kata Al-Ghazali, zuhud itu adalah sebuah Maqam (kedudukan spiritual) yang agung, yang tersusun dari ilmu, kondisi hati (hal), dan amal perbuatan.

    Secara bahasa dan rasa, zuhud adalah:

    “Beralihnya rasa cinta dan ketertarikan dari sesuatu menuju kepada sesuatu yang jauh lebih baik.”

    Bagaikan seorang pedagang yang rela melepaskan barang dagangannya demi mendapatkan keuntungan yang jauh lebih besar, seorang yang zuhud rela melepaskan keterikatan hatinya pada dunia karena ia tahu ada akhirat yang jauh lebih indah dan kekal.

    Baca juga: Khutbah Jumat: Memetik Ranumnya Buah Ketakwaan

    Jamaah Jumat Rahimakumullah

    Namun, Imam al-Ghazali mengingatkan kita dengan sebuah tamparan reflektif:

    Banyak orang mengira bahwa zuhud itu sekadar meninggalkan harta atau memakai pakaian yang kasar dan compang-camping. Padahal tidak demikian.

    Betapa banyak orang yang sengaja menampakkan kesederhanaan, menolak harta, atau mengonsumsi makanan yang sedikit, namun di dalam hatinya bergemuruh nafsu yang sangat besar, yaitu ingin dipuji sebagai orang yang zuhud.

    Mereka menukar harta bukan demi Allah, melainkan demi memburu panggung pujian dan kedudukan (jah) di mata manusia. Al-Ghazali menyebut mereka sebagai: “Orang-orang yang memakan dunia dengan menggunakan topeng agama.” Mereka tidak membersihkan hatinya, tidak mendidik akhlaknya, dan sejatinya mereka tetaplah budak dunia yang mengikuti hawa nafsu.

    Maka, zuhud yang dibawa pulang oleh seorang Haji Mabrur bukan berarti ia harus membuang hartanya atau menjadi miskin. Zuhud yang sejati adalah ketika harta berada di genggaman tangan, namun tidak sejengkal pun dibiarkan masuk dan menguasai hati. Jika ia kaya, kekayaannya menjadi pelayan bagi agamanya; jika ia diuji dengan kekurangan, hatinya tetap merasa kaya karena memiliki Allah.

    Baca juga: Khutbah Jumat: Teguh Bersama Al-Qur’an

    Ma’asyiral Muslimin yang Berbahagia

    Sisi kedua dari kemabruran haji setelah zuhud pada dunia adalah: Raghbah pada akhirat (penuh cinta dan rindu pada akhirat).

    Apa makna raghbah pada akhirat? Ia adalah sebuah kondisi jiwa di mana orientasi hidup seseorang telah bergeser.

    Jika sebelum berhaji yang ia pikirkan setiap bangun tidur hanyalah bagaimana menumpuk harta, maka setelah berhaji, yang pertama kali terbersit di pikirannya adalah: “Amal apa yang bisa menyelamatkanku di barzakh nanti?”

    Jika sebelum berhaji ia begitu sensitif dan marah ketika hak dunianya terusik, setelah berhaji ia jauh lebih cemas jika shalatnya tertinggal atau ada hati sesama manusia yang tersakiti oleh lisannya.

    Haji mabrur mengubah manusia menjadi pengelana yang sadar diri. Ia melihat dunia ini tak lebih dari sekadar pelataran parkir atau tempat persinggahan sejenak. Pandangan matanya menembus batas dunia yang sempit menuju bentangan akhirat yang tak bertepi.

    بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

    Khutbah Kedua

    اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ حَمْدًا كَثِيْرًا كَمَا أَمَرَ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللّٰهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.

    Ma’asyiral Muslimin, Jamaah Jumat Rahimakumullah

    Sebagai penutup khutbah yang singkat ini, marilah kita menyadari satu hal: predikat mabrur sejatinya bukan hanya milik mereka yang mendapatkan kesempatan fisik untuk wukuf di Arafah atau thawaf mengelilingi Ka’bah.

    Pesan dari Imam Hasan al-Bashri dan Imam al-Ghazali di atas adalah sebuah kurikulum kehidupan bagi kita semua. Kita yang hari ini belum atau tidak sedang berangkat haji pun, bisa menjemput “esensi kemabruran” itu di rumah kita, di pasar-pasar kita, dan di kantor-kantor kita masing-masing.

    Bagaimana caranya? Dengan menghidupkan dua tanda kemabruran tersebut dalam keseharian kita:

    • Pertama, Bersihkan Niat dari Topeng Kepalsuan

    Jangan sampai amal ibadah kita, sedekah kita, shalat kita, bahkan status sosial kita di masyarakat, dikotori oleh keinginan untuk dipuji dan dipandang mulia. Ingatlah peringatan Al-Ghazali, jangan menjadi pencari dunia dengan menggunakan kedok agama.

    • Kedua, Atur Ulang Prioritas Hati

    Mari kita periksa kembali hati kita. Apakah hati ini masih bergetar hebat saat kehilangan dunia, namun biasa-biasa saja saat kehilangan waktu untuk beribadah? Jadikan dunia ini hanya di tangan, dan biarkan akhirat yang bertahta di dalam hati.

    Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala menganugerahkan kepada saudara-saudara kita yang menunaikan ibadah haji predikat haji yang mabrur dan mabrurah dan mudah-mudahan Allah memberangkatkan kita kepada Baitullah di tahun-tahun kedepan. Dan semoga Allah menanamkan sifat zuhud yang sejati serta rasa rindu yang mendalam pada akhirat di dalam dada kita masing-masing.

    اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ.

    اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْواتِ.

    رَبَّنا هَبْ لَنا مِنْ أَزْواجِنا وَذُرِّيَّاتِنا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنا لِلْمُتَّقينَ إِمامًا. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.

    عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.

    Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo

    Komentar
    Additional JS