Masjid Mataram Kotagede, Jejak Kejayaan Islam Jawa yang Tetap Kokoh di Tengah Modernitas Yogyakarta - Times Indonesia
Masjid Mataram Kotagede, Jejak Kejayaan Islam Jawa yang Tetap Kokoh di Tengah Modernitas Yogyakarta
YOGYAKARTA – Di balik hiruk pikuk kawasan Kotagede yang kini dikenal sebagai sentra kerajinan perak dan kawasan bersejarah Yogyakarta, tersimpan sebuah peninggalan luar biasa yang menjadi saksi perjalanan panjang peradaban Islam di Tanah Jawa. Bangunan itu adalah Masjid Gedhe Mataram Kotagede, sebuah masjid berusia lebih dari empat abad yang hingga kini masih berdiri kokoh dan menjadi simbol perpaduan budaya Jawa dengan nilai-nilai Islam.
Masjid yang berada di kawasan Kauman, Kotagede ini bukan hanya menjadi tempat ibadah bagi masyarakat sekitar, tetapi juga menjadi peninggalan penting dari masa awal berdirinya Kerajaan Mataram Islam. Setiap sudut bangunannya menyimpan cerita tentang perjuangan dakwah, kebudayaan, hingga kejayaan kerajaan besar yang pernah menguasai sebagian wilayah Pulau Jawa.
Dibangun Panembahan Senopati, Awal Perjalanan Mataram Islam
Catatan sejarah menyebutkan, Masjid Mataram Kotagede mulai dibangun sekitar tahun 1575 Masehi atau 983 Hijriah pada masa pemerintahan Panembahan Senopati, pendiri Kerajaan Mataram Islam.
Saat itu, Kotagede menjadi pusat pemerintahan sekaligus ibu kota kerajaan. Lokasi masjid dipilih tidak jauh dari kompleks makam para raja Mataram sebagai bagian dari pusat spiritual dan pemerintahan kerajaan.

Pembangunan masjid ini tidak hanya memiliki fungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga menjadi pusat penyebaran ajaran Islam di wilayah Mataram. Dalam proses pembangunannya, sejumlah tokoh penyebar agama Islam di Jawa turut berperan memberikan pengaruh besar dalam perkembangan kehidupan keagamaan masyarakat.
Keberadaan masjid ini menjadi bukti bahwa perkembangan Islam di Jawa berlangsung melalui pendekatan budaya, dengan tetap menghargai tradisi lokal yang telah berkembang sebelumnya.
Arsitektur Unik, Perpaduan Islam dan Budaya Jawa
Salah satu daya tarik terbesar Masjid Gedhe Mataram Kotagede adalah arsitekturnya yang penuh makna. Bangunan masjid ini memperlihatkan perpaduan harmonis antara budaya Jawa, pengaruh Hindu-Buddha, dan nilai Islam.
Berbeda dengan masjid modern yang banyak menggunakan kubah, masjid ini justru mempertahankan ciri khas bangunan Jawa kuno dengan atap bertingkat atau tajug tumpang tiga.
Konsep tersebut bukan sekadar bentuk estetika, tetapi memiliki filosofi mendalam. Tiga tingkatan atap sering dimaknai sebagai perjalanan spiritual manusia dalam memahami nilai syariat, tarekat, dan hakikat.
Di bagian dalam masjid terdapat tiang-tiang kayu utama atau soko guru yang menjadi penopang bangunan. Tiang tersebut dibuat dari kayu jati pilihan dengan teknik tradisional tanpa menggunakan paku besi, melainkan menggunakan sistem sambungan kayu yang menunjukkan tingginya kemampuan arsitektur masyarakat Jawa pada masa lampau.
Sementara itu, desain pintu masuk masjid juga memiliki karakter khas dengan nuansa yang mengingatkan pada bentuk gerbang bangunan masa Hindu-Jawa. Perpaduan tersebut menunjukkan bahwa proses Islamisasi di Jawa berjalan dengan cara yang damai melalui akulturasi budaya.
Pusat Aktivitas Kerajaan dan Masyarakat Mataram
Pada masa kejayaan Kerajaan Mataram Islam, Masjid Gedhe Mataram memiliki peran yang sangat penting. Masjid ini tidak hanya digunakan untuk menjalankan ibadah, tetapi juga menjadi pusat kegiatan sosial dan pemerintahan.
Berbagai aktivitas masyarakat berlangsung di tempat ini, mulai dari pengajian, musyawarah tokoh masyarakat, hingga persiapan para prajurit kerajaan sebelum menjalankan tugas.
Masjid ini menjadi ruang pertemuan antara nilai agama, budaya, dan kehidupan masyarakat. Dari tempat inilah hubungan antara kerajaan dan rakyat dibangun melalui berbagai aktivitas keagamaan dan sosial.
Seiring berjalannya waktu, bangunan masjid mengalami beberapa kali pemugaran untuk menjaga keberlangsungannya. Salah satu renovasi penting dilakukan pada masa Sri Sultan Hamengkubuwono I sekitar tahun 1754 guna mempertahankan kekuatan bangunan agar tetap berdiri hingga sekarang.
Kisah Unik dan Legenda yang Melekat
Seperti banyak bangunan bersejarah di Jawa, Masjid Gedhe Mataram Kotagede juga memiliki cerita rakyat yang berkembang di tengah masyarakat.
Salah satu kisah yang masih sering diceritakan adalah keberadaan sebuah tiang kayu yang warnanya tampak lebih gelap dibandingkan tiang lainnya. Masyarakat sekitar meyakini tiang tersebut berkaitan dengan kisah Kyai Gede Hanabi, seorang tokoh yang dipercaya memiliki peran besar dalam pembangunan masjid.
Selain itu, terdapat sumur tua di area masjid yang hingga kini masih dirawat. Masyarakat percaya air dari sumur tersebut memiliki nilai khusus dan menjadi bagian dari warisan sejarah masjid.
Terlepas dari berbagai cerita yang berkembang, keberadaan berbagai elemen tersebut semakin memperkuat daya tarik Masjid Gedhe Mataram sebagai destinasi wisata religi dan sejarah.
Meski telah berusia ratusan tahun, Masjid Gedhe Mataram Kotagede masih aktif digunakan masyarakat untuk berbagai kegiatan keagamaan.
Bagi warga sekitar, masjid ini bukan sekadar bangunan tua, melainkan bagian dari identitas dan warisan leluhur yang harus dijaga. Tradisi keagamaan seperti kegiatan Ramadan dan pemukulan bedug sebagai tanda masuknya waktu-waktu tertentu masih terus dilestarikan.
Ketua II Takmir Masjid Gedhe Mataram Kotagede, Herlin Susanto, mengatakan bahwa menjaga masjid bersejarah ini menjadi tanggung jawab bersama.
“Masjid ini bukan hanya tempat sholat, tetapi juga warisan budaya yang harus kita rawat. Banyak pengunjung datang karena ingin melihat langsung peninggalan Kerajaan Mataram. Harapannya masjid ini tetap berdiri kokoh dan menjadi tempat yang memberikan ketenangan serta ilmu bagi siapa saja yang datang,” ujar Herlin, (Selasa (6/2026).
Sementara itu, salah satu pengunjung, Hafiz Dwi, mengaku terkesan dengan suasana dan keunikan bangunan masjid tersebut.
“Tempatnya terasa adem dan tenang. Arsitekturnya sangat unik karena menggabungkan budaya Jawa, Islam, dan Hindu. Rasanya seperti kembali melihat suasana masa lalu,” katanya.
Masjid Gedhe Mataram Kotagede menjadi bukti bahwa leluhur bangsa Indonesia memiliki kemampuan tinggi dalam membangun peradaban. Bangunan ini menunjukkan bagaimana budaya lokal dan ajaran Islam dapat berjalan berdampingan dalam harmoni.
Bagi wisatawan yang berkunjung ke Yogyakarta, menyempatkan diri datang ke Masjid Gedhe Mataram Kotagede bukan hanya menghadirkan pengalaman wisata religi, tetapi juga membuka kesempatan untuk memahami akar sejarah panjang perjalanan Islam dan Kerajaan Mataram di Tanah Jawa. (*)
Pewarta: Yahya Haqul Mubin
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.