0
News
    Home Berita Featured Muktamar NU PBNU Spesial

    Tokoh Muda Dorong Muktamar Ke-35 NU Lahirkan Sosok Pemersatu yang Akhiri Konflik PBNU - Jawa Pos

    3 min read

     

    Logo Nahdlatul Ulama. (Istimewa)

    JawaPos.com - Ajang Muktamar Ke-35 NU didorong untuk melahirkan kepemimpinan baru yang mampu merangkul seluruh elemen nahdliyin. Sekaligus mengakhiri konflik berkepanjangan di tubuh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).

    dorongan itu disampaikan tokoh muda Nahdlatul Ulama (NU), Khalilur Abdullah Sahlawiy atau Gus Lilur kepada wartawan, Minggu (28/6).

    Menurut dia, NU membutuhkan sosok pemimpin yang mampu menjaga persatuan dan menghadirkan keteduhan di tengah dinamika organisasi.

    "NU membutuhkan pemimpin yang mampu menyatukan, bukan menambah fragmentasi. NU memerlukan figur yang teduh, sederhana, dan mampu menjadi perekat seluruh unsur jam'iyah," kata Gus Lilur kepada wartawan, Minggu (28/6).

    Ia menilai, Sepanjang sejarah, NU telah melahirkan sejumlah Rais Aam yang menjadi teladan karena kepemimpinannya. Di antaranya Kiai Haji Ahmad Siddiq dan KH Sahal Mahfudz.

    Kedua tokoh tersebut dikenang bukan hanya karena keluasan ilmu, tetapi juga kesederhanaan, keteduhan sikap, serta kemampuannya menjaga persatuan di lingkungan NU.

    "Kepemimpinan seperti itulah yang hari ini dibutuhkan NU," ucapnya.

    Muktamar Ke-35 NU dijadwalkan berlangsung pada 1-5 Agustus 2026. Agenda tersebut telah ditetapkan melalui Musyawarah Nasional (Munas) dan Konferensi Besar (Konbes) NU 2026 di Pondok Pesantren Al-Falah Ploso, Kediri, Jawa Timur.

    Menurut Gus Lilur, banyak warga nahdliyin merasa prihatin terhadap konflik yang masih berlangsung di internal PBNU.

    Ia menilai, perselisihan di kalangan elite organisasi sudah berlangsung terlalu lama dan membutuhkan figur pemersatu agar tidak semakin memperlebar perpecahan.

    "Semua jamaah Nahdlatul Ulama menyesalkan pertengkaran yang terus berlangsung di tubuh PBNU. Pertengkaran itu bahkan telah sampai pada titik yang oleh banyak warga NU disebut sebagai ambyar sampai 'mudyar', berantakan dan sulit dipersatukan kembali," ujarnya.

    Ia kemudian memetakan dinamika yang berkembang di PBNU ke dalam dua kelompok utama.

    Kelompok pertama yang disebutnya sebagai "Kubu Sultan" terdiri atas Rais Aam PBNU KH Miftahul Akhyar, Sekretaris Jenderal PBNU Saifullah Yusuf (Gus Ipul), dan Bendahara Umum PBNU H Gudfan Arif Ghofur.

    Sementara kelompok kedua yang disebut "Kubu Kramat" beranggotakan Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf, Katib Aam PBNU KH Ahmad Said Asrori, serta Wakil Ketua Umum PBNU KH Amin Said Husni.

    Menurutnya, konflik justru terjadi di antara para pimpinan yang seharusnya saling mendukung dalam menjalankan roda organisasi.

    "Konflik justru terjadi di antara mereka yang secara organisatoris seharusnya saling menopang. Katib Aam semestinya berjalan selaras dengan Rais Aam. Ketua Umum idealnya bekerja harmonis dengan Sekjen. Demikian pula Wakil Ketua Umum dan Bendahara Umum," ungkapnya.

    Gus Lilur menilai, perselisihan tersebut telah berlangsung cukup lama hingga menjadi perhatian publik.

    Ia mengatakan, mayoritas warga NU sebenarnya menginginkan para pemimpinnya kembali bersatu, terlebih setelah muncul harapan melalui Islah Lirboyo yang sempat diyakini dapat mengakhiri konflik internal PBNU.

    "Hingga hari ini, ketegangan itu masih saja terus berlangsung. Banyak orang kemudian berkesimpulan bahwa sumber persoalan hanya terletak pada perseteruan antara Ketua Umum KH Yahya Cholil Staquf dan Sekjen Saifullah Yusuf," tuturnya.

    Meski demikian, ia menegaskan bahwa konflik di organisasi sebesar NU tidak bisa disederhanakan dengan menyalahkan satu pihak.

    Menurutnya, berbagai faktor seperti perbedaan visi, lemahnya komunikasi, persaingan politik, hingga perebutan pengaruh di sekitar pusat organisasi turut memengaruhi dinamika yang terjadi.

    "Konflik organisasi sebesar NU selalu dipengaruhi banyak faktor, perbedaan visi, komunikasi yang buruk, persaingan politik, hingga perebutan pengaruh di sekitar pusat kekuasaan organisasi. Namun, pola yang terus berulang dari fase ke fase patut menjadi bahan renungan bersama," pungkasnya.

    Komentar
    Additional JS