AI Bisa Ambil Alih Pengetahuan, Tak Bisa Gantikan Otoritas dan Moral Ulama - NU Online
Jombang, NU Online
Perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) diprediksi membawa perubahan besar terhadap dunia pendidikan dan kajian keislaman, termasuk dalam mempelajari khazanah turots ulama nusantara.
Hal itu disampaikan Guru Besar UIN Raden Mas Said Surakarta, Prof. Islah Gusmian, dalam Seminar Turots Internasional yang diadakan oleh Nahdlatut Turots di MAN 3 Jombang, Sabtu (30/8/2026).
"Saya itu juga pengguna AI. Tujuan saya apa? Saya ingin memperoleh secepat mungkin data, ya tentu nanti diakurasi. Cepat, saya enggak perlu bolak-balik begini dan seterusnya," ujarnya.
Islah mengatakan perkembangan AI dalam 5 hingga 10 tahun mendatang akan membawa perubahan besar, termasuk terhadap perguruan tinggi dan pendidikan. Meski demikian, AI tetap memiliki keterbatasan dalam memahami makna, konteks, serta aspek moral dan otoritas keilmuan ulama.
Keunggulan AI, dalam kecepatan mengakses dan mengolah data. Semakin banyak data yang diberikan dan semakin baik perintah atau prompt yang disusun, semakin optimal pula AI dalam mengolah informasi.
AI bahkan telah mampu membantu pengolahan teks Arab dan manuskrip digital. Dalam pengalamannya, AI dapat diminta memberikan tanda baca sesuai kaidah nahwu dan shorof hingga melakukan tasyrif terhadap teks yang diberikan.
Namun, kemampuan tersebut tidak serta-merta menjadikan AI memiliki kedudukan yang sama dengan ulama. Prof. Islah menegaskan, terdapat perbedaan mendasar antara AI sebagai alat dan manusia sebagai pemilik otoritas keilmuan.
"Kalau kita bicara ulama manusia, iya itu kan memiliki otoritas teologis. AI tidak. Ya, dia memiliki sanad, tapi AI tidak. Karena apa tadi? Dia itu tool, wasilah," jelasnya.
Menurutnya, manusia memiliki kemampuan untuk memahami makna, budaya, dan konteks. Sementara AI bekerja dengan mencocokkan pola berdasarkan data yang tersedia.
"Proses kerjanya kalau manusia itu memahami makna, budaya, konteks. Ya, AI tidak. Dia hanya mencocokkan pola data statistik," katanya.
Karena itu, menurut dia, AI tetap bergantung pada data yang tersedia. Semakin banyak data yang dapat diakses dan diolah, semakin besar kemampuannya dalam menghasilkan informasi. Namun, AI tetap tidak memiliki tanggung jawab moral dan agama sebagaimana manusia.
"Kalau manusia ya ada moral, tanggung jawab, agama. AI bebas," tuturnya.
Prof. Islah juga mengingatkan bahwa hasil olahan dari AI tidak selalu dapat dipercaya. AI dapat menghasilkan informasi yang keliru atau mengalami halusinasi, sehingga hasil yang diberikan tetap membutuhkan pemeriksaan dan kurasi manusia.
Namun diakuinya, perkembangan teknologi membuka peluang besar bagi pelestarian turots. Ia membayangkan manuskrip-manuskrip ulama Nusantara yang selama ini sulit diakses dapat dipindai dan diolah sehingga lebih mudah dipelajari generasi mendatang.
Bahkan, ia membayangkan perkembangan teknologi dalam satu dekade ke depan memungkinkan kitab-kitab klasik diintegrasikan dengan teknologi AI dan visualisasi digital.
"Kalau hologram itu bisa disatukan dengan AI, misalnya kitab Ihya' kita masukkan, klik, dia akan baca. Coba jelaskan makna sabar dalam Ihya', langsung dibaca itu, gak akan keliru dia, karena dokumennya ada persis," ujarnya.
Meski demikian, gambaran tersebut sekaligus menunjukkan tantangan baru dalam menjaga batas antara teknologi sebagai sarana belajar dan otoritaa keilmuan manusia.
Menurut Islah, perubahan tersebut tidak mungkin dihindari. Teknologi akan terus berkembang dan mengambil alih semakin banyak aspek pengetahuan. Namun, ada aspek tertentu yang menurutnya masih menjadi kekuatan manusia, yakni moral dan sikap.
"Pengetahuan itu sudah diambil alih oleh teknologi. Moral yang belum bisa diambil alih, attitude," tegasnya.