Dari Lombok ke Dunia: Ketika Mahasiswa UNIZAR Membawa Gagasan Lokal ke Forum Internasional - UNIZAR

KETIKA tiga mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Islam Al-Azhar (UNIZAR) membawa isu pernikahan dini di Nusa Tenggara Barat ke sebuah forum internasional, yang mereka bawa bukan sekadar karya ilmiah untuk mengejar penghargaan.
Mereka membawa cerita tentang persoalan yang tumbuh di tengah masyarakat sendiri, lalu mencoba menawarkan gagasan penyelesaian melalui pendekatan kesehatan dan pendidikan.
Bagi Ayom Pandu Prakoso bersama dua rekannya, Diah Primadewi dan Sifa Salsabila Pratama, ajang World Innovation for Sustainability Essay Competition (WISEC) 2026 menjadi ruang untuk menunjukkan bahwa persoalan lokal juga memiliki relevansi global. Melalui inovasi Y-CLIC (Youth Community Learning & Certification Model), mereka mengangkat isu pencegahan pernikahan dini di NTB melalui pendekatan edukasi keterampilan hidup bagi remaja
“Bagi kami, ini bukan hanya soal prestasi, tetapi bagaimana kami bisa membawa permasalahan yang nyata terjadi di NTB ke forum internasional dan menawarkan solusi yang relevan bagi masyarakat,” ujar Ayom.
Cerita tersebut menjadi salah satu gambaran bagaimana pengalaman internasional mahasiswa UNIZAR mulai berkembang. Hubungan global bagi sebuah perguruan tinggi bukan hanya tentang kerja sama antarnegara, tetapi tentang bagaimana kesempatan tersebut membuka ruang bagi mahasiswa untuk belajar, berkarya, dan membawa gagasan dari daerah ke dunia.
Membangun Jalan dari Lombok Menuju Ruang Global
Dalam beberapa tahun terakhir, UNIZAR memperluas jejaring akademik melalui berbagai kolaborasi dengan akademisi dan institusi luar negeri.
Kehadiran akademisi Belgia Riyad Rogiest di lingkungan UNIZAR, misalnya, membuka ruang diskusi mengenai pendidikan Islam, kajian Al-Qur’an, dialog lintas budaya, serta isu kemanusiaan. Pertemuan tersebut menunjukkan bahwa ruang akademik tidak lagi terbatas pada batas geografis, tetapi menjadi tempat bertemunya berbagai perspektif dari berbagai negara.
Hal serupa terlihat dari penguatan hubungan akademik dengan sejumlah perguruan tinggi Malaysia. Kerja sama dengan institusi seperti Saito University College, Management and Science University (MSU), Universiti Sains Islam Malaysia (USIM), hingga Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM) menjadi bagian dari upaya membuka peluang pertukaran pengalaman akademik bagi sivitas akademika.
Namun, ukuran keberhasilan hubungan internasional tidak hanya dilihat dari banyaknya institusi yang terhubung. Hal yang lebih penting adalah bagaimana hubungan tersebut memberi dampak kepada mahasiswa.
Melalui berbagai program akademik, mahasiswa mulai mendapatkan pengalaman yang sebelumnya mungkin hanya menjadi wacana. Mobilitas akademik, forum internasional, hingga pengabdian lintas negara menjadi ruang pembelajaran baru yang memperluas cara pandang mahasiswa terhadap dunia.
Ketika Persoalan Lokal Menjadi Gagasan Global
Prestasi mahasiswa FK UNIZAR dalam WISEC 2026 menjadi contoh bagaimana isu daerah dapat memiliki tempat dalam percakapan internasional.
Persoalan pernikahan dini di NTB yang selama ini menjadi perhatian masyarakat dikaji melalui pendekatan ilmiah dan dirancang menjadi inovasi pendidikan remaja. Gagasan tersebut tidak berhenti sebagai tulisan akademik, tetapi diarahkan agar dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Hal serupa terlihat dari mahasiswa Fakultas Hukum UNIZAR yang membawa kajian akademik ke forum internasional di Malaysia. Melalui partisipasi dalam forum bersama USIM dan UKM, mahasiswa UNIZAR menunjukkan bahwa isu hukum, sosial, dan perkembangan masyarakat dapat dikaji dari perspektif yang lebih luas.
Dari bidang kesehatan hingga hukum, pengalaman tersebut memperlihatkan satu pola yang sama: mahasiswa tidak hanya menjadi peserta dalam ruang internasional, tetapi hadir membawa pemikiran dan karya.
Selain kompetisi akademik, pengalaman global mahasiswa juga dibangun melalui pengabdian masyarakat. Program KKN Internasional menjadi ruang bagi mahasiswa untuk berinteraksi dengan mahasiswa dari negara lain, memahami perbedaan budaya, sekaligus bekerja bersama menyelesaikan persoalan masyarakat.
Bagi mahasiswa, pengalaman semacam ini tidak hanya memperluas wawasan, tetapi juga membangun kemampuan komunikasi, kolaborasi, dan adaptasi yang semakin dibutuhkan dalam dunia yang terhubung secara global.
Pada akhirnya, internasionalisasi perguruan tinggi bukan hanya tentang seberapa jauh sebuah kampus menjangkau dunia. Lebih dari itu, nilai sebenarnya terlihat dari seberapa besar kesempatan yang tercipta bagi mahasiswa untuk berkembang.
Dari Lombok, mahasiswa UNIZAR membawa cerita tentang masyarakatnya, mengolahnya menjadi gagasan, lalu memperkenalkannya di ruang yang lebih luas.
Sebab dunia tidak selalu dimulai dari tempat yang jauh. Kadang, gagasan besar justru lahir dari persoalan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Dan dari Lombok, mahasiswa UNIZAR mulai belajar berbicara kepada dunia. (*)