0
News
    Home AHWA Berita Featured Gus Rozin Muktamar NU Spesial

    Gus Rozin: Peralihan dari One Man One Vote ke AHWA Kemajuan Besar bagi NU - NU Online

    3 min read

     


    Ketua PWNU Jawa Tengah KH Abdul Ghaffar Rozin atau Gus Rozin dikerumuni awak media usai menyampaikan pandangannya terkait pembentukan Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) dalam Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama di Jombang, Ahad (30/8/2026). (Foto: NU Online/ Rizqy) Mufidah Adzkia Kontributor Download PDF

    Jombang, NU Online

    Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah KH Abdul Ghaffar Rozin atau Gus Rozin, menilai peralihan mekanisme pemilihan dari sistem one man one vote atau pemilihan langsung ke Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) merupakan kemajuan besar bagi Nahdlatul Ulama (NU). 


    Menurutnya, mekanisme AHWA menjawab kegelisahan warga NU agar organisasi tidak terjebak dalam praktik demokrasi liberal dan tetap mengedepankan prinsip musyawarah.


    “Saya kira kita berpindah dari one man one vote dari pemilihan langsung ke AHWA ini adalah kemajuan yang sangat besar bagi Nahdlatul Ulama karena yang menjadi kegelisahan kita bertahun-tahun supaya kita tidak terjebak menjadi sebuah organisasi yang memakai demokrasi liberal,” ujar Gus Rozin di sela Muktamar ke-35 NU di Jombang, Ahad (30/8/2026).


    Ia menjelaskan, NU tetap menerapkan demokrasi yang bersifat partisipatif. Namun, prinsip tersebut harus tetap mengedepankan asas musyawarah serta menghormati otoritas para kiai sepuh sebagai karakter khas Nahdlatul Ulama.


    “Di dalam AHWA ini tentu kita sangat menghargai otoritas para kiai sepuh dan itu yang menjadi karakter Nahdlatul Ulama. Sekaligus, ini meneguhkan otoritas keulamaan,” katanya.


    Gus Rozin berharap keberadaan AHWA juga dapat mengurangi berbagai persoalan yang selama ini dinilai kurang baik dalam pelaksanaan muktamar. Bahkan, ia berharap persoalan-persoalan tersebut dapat dihilangkan.


    Terkait pertimbangan dalam memilih ulama yang menjadi anggota AHWA, Gus Rozin menyebut sejumlah aspek menjadi perhatian utama. Di antaranya adalah rekam jejak, kemampuan, kredibilitas, dan kapabilitas para ulama.


    “Terutama soal rekam jejak, soal kemampuan, soal kredibilitas, dan kapabilitas. Itu menjadi sangat penting,” ujarnya.


    Setelah AHWA terbentuk, proses Muktamar akan berlanjut pada penetapan Rais Aam PBNU dan pemilihan Ketua Umum PBNU. Gus Rozin berharap seluruh proses tersebut dapat menghasilkan kepemimpinan terbaik sekaligus menjaga persatuan di tubuh Nahdlatul Ulama.


    Ia mengajak para muktamirin untuk melihat secara jernih kebutuhan NU saat ini dan masa depan. Menurutnya, salah satu hal penting yang perlu dilakukan adalah memperkuat ukhuwah diniyah serta membangun rekonsiliasi secara nasional.


    “Harapannya para muktamirin malam hari ini bisa melihat dengan jernih apa yang dibutuhkan oleh Nahdlatul Ulama saat ini dan ke depan, terutama kebutuhan kita untuk melakukan ukhuwah diniyah bersama-sama dan melakukan rekonsiliasi secara nasional,” katanya.


    Sementara itu, terkait persiapannya dalam pencalonan sebagai Ketua Umum PBNU, Gus Rozin menyatakan akan berikhtiar secara maksimal dan optimistis menghadapi seluruh proses yang berlangsung. Meski demikian, ia menegaskan bahwa seluruh pihak harus tetap menghormati apa pun hasil akhir Muktamar.


    “Kita berikhtiar secara maksimal, kita optimis. Tentu kita semua nanti wajib untuk menghormati apa pun hasilnya. Ini Nahdlatul Ulama. Kemenangan itu penting, tetapi bukan segalanya. Yang harus menang adalah Nahdlatul Ulamanya,” tegasnya.

    Komentar
    Additional JS