0
News
    Home Berita Featured Lirboyo Muktamar NU Spesial

    Kiai Sepuh Lirboyo Titip 7 Pesan Jelang Muktamar NU - Merdeka

    3 min read

     

    Pertemuan kiai sepuh di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, menjelang pelaksanaan Muktamar ke-35 NU di Jombang. (Istimewa).

    Pesan itu tertuang setelah sejumlah kiai sepuh Nahdlatul Ulama (NU) berkumpul di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, menjelang pelaksanaan Muktamar ke-35 NU di Jombang.

    Sejumlah kiai sepuh Nahdlatul Ulama (NU) berkumpul di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, menjelang pelaksanaan Muktamar ke-35 NU di Jombang. Pertemuan tersebut membahas sejumlah dinamika dan isu yang berkembang menjelang forum tertinggi organisasi tersebut.

    Forum yang berlangsung sekitar satu jam itu menghasilkan tujuh poin tausiyah yang ditujukan kepada para muktamirin, pemerintah, serta Presiden Prabowo Subianto. Tausiyah tersebut disampaikan salah satu peserta forum, KH Muhibbul Aman Aly.

    Poin pertama menegaskan pentingnya menjaga NU sebagai jam'iyyah diniyyah ijtima'iyah yang menjunjung adab, akhlakul karimah, serta khittah Nahdlatul Ulama. Seluruh rangkaian Muktamar ke-35 diharapkan terbebas dari tindakan yang bertentangan dengan nilai dan kehormatan organisasi.

    Kedua, para kiai sepuh mengingatkan agar muktamirin mengedepankan musyawarah dengan akal sehat, hati jernih, dan akhlak mulia. Pemilihan kepemimpinan NU diminta berorientasi pada kemaslahatan jam'iyah, persatuan, serta menghindari pertikaian.

    Poin ketiga berkaitan dengan proses penentuan Ahlul Halli wal 'Aqdi (AHWA). Para kiai meminta mekanisme tersebut dijaga kehormatan dan martabatnya sebagai bagian dari maqam keulamaan.

    “Jangan nodai proses penentuan AHWA dengan transaksi, tekanan, rekayasa atau cara-cara yang tidak terpuji, yang mencederai kemuliaan para ulama,” kata KH Muhibbul Aman Aly dalam tausiyah tersebut.

    Keempat, forum menegaskan bahwa muktamirin merupakan pemegang kedaulatan dalam Muktamar. Karena itu, hak dan kebebasan mereka dalam menyampaikan pendapat maupun menentukan pilihan harus dihormati tanpa pengondisian, tekanan, manipulasi, ataupun rekayasa.

    Kelima, para kiai sepuh menyerukan kepada pemerintah, kekuatan politik, dan pihak-pihak di luar NU agar menghormati kemandirian organisasi serta kedaulatan Muktamar. Mereka meminta tidak ada tekanan yang dapat dipersepsikan sebagai bentuk pengondisian maupun intervensi terhadap proses Muktamar.

    Poin keenam secara khusus ditujukan kepada Presiden Prabowo Subianto. Para kiai sepuh menyatakan kepercayaan kepada Presiden untuk memastikan pemerintah tetap menghormati kemandirian NU.

    Forum juga meminta Presiden mengambil tindakan tegas apabila terdapat pejabat, termasuk menteri, yang melakukan tindakan tidak patut dan dinilai sebagai bentuk intervensi terhadap proses Muktamar.

    “Para kiai siap menghadap Presiden untuk menyampaikan secara langsung informasi dan hal-hal yang menjadi keprihatinan kami demi menjaga kehormatan pemerintah, kemandirian Nahdlatul Ulama dan kedaulatan NU,” demikian poin tausiyah tersebut.

    Poin terakhir berisi seruan kepada pihak-pihak yang dinilai mengacaukan proses Muktamar agar segera menghentikan tindakan tersebut. Para kiai sepuh mengingatkan pentingnya menyadari kesalahan dan tidak meneruskan tindakan yang dinilai tidak terpuji.

    “Semoga Allah subhanahu wa ta'ala senantiasa menjaga, melindungi dan membimbing Nahdlatul Ulama,” pungkas KH Muhibbul Aman Aly.

    Para kiai sepuh berharap tujuh poin tausiyah tersebut dapat menjadi pedoman untuk menjaga kedaulatan muktamirin sehingga Muktamar ke-35 NU berlangsung secara damai, jujur, serta mampu melahirkan kepemimpinan yang membawa kemaslahatan bagi jam'iyah.

    Komentar
    Additional JS