PBNU Targetkan Pimpin Ekonomi Syariah Asia Tenggara, Dorong Indonesia Jadi Hub Halal Dunia - NU Online
Jakarta, NU Online
Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menargetkan Nahdlatul Ulama menjadi pemimpin inisiatif ekonomi syariah di kawasan Asia Tenggara sekaligus mendorong Indonesia menjadi pusat (hub) ekonomi halal dunia.
Langkah tersebut mulai diperkuat melalui perluasan kemitraan dengan sejumlah negara, salah satunya melalui penyerahan sertifikat halal kepada PTT Global Chemical Public Company Limited (PTT GC), perusahaan asal Thailand, yang dilakukan Lembaga Pemeriksa Halal Nahdlatul Ulama Halal Center (LPH NU-HAC).
Komitmen itu disampaikan Ketua PBNU H Ulil Abshar Abdalla (Gus Ulil) di Gedung PBNU, Jalan Kramat Raya 164, Jakarta Pusat, Rabu (12/8/2026).
Sertifikasi tersebut mencakup produk PTT GC yang digunakan sebagai barang konsumsi dan bahan kegunaan (utilitas). PTT GC menjadi produsen resin plastik asal Thailand pertama yang memperoleh sertifikasi halal di Indonesia.
Gus Ulil mengatakan kolaborasi tersebut penting, bukan hanya sebagai kerja sama bisnis antara Nahdlatul Ulama dan PTT GC, tetapi juga sebagai bentuk kemitraan antara Indonesia dan Thailand.
“Ini adalah kolaborasi antara dua negara dan dua masyarakat. Kita adalah bagian dari satu kawasan Asia Tenggara yang kaya, besar, dan luas. Indonesia dan Thailand secara historis memiliki banyak hubungan dan koneksi,” katanya dalam sambutan.
Kemitraan tersebut, imbuh Gus Ulil, diharapkan menjadi awal bagi terjalinnya lebih banyak kerja sama pada masa mendatang, sekaligus membuka peluang kolaborasi lain di bidang sertifikasi halal.
Menurut Gus Ulil, meski tergolong baru, LPH NU-HAC di bawah kepemimpinan Abdul Hakam Aqsho berkembang pesat.
“Jadi ini luar biasa, kita memiliki kolaborasi dengan banyak negara. Dan jika ini menunjukkan sesuatu, saya pikir ini menunjukkan bahwa orang-orang memercayai kita,” jelasnya.
PBNU melalui NU-HAC juga menjalin kemitraan dengan sejumlah pihak dari Malaysia, Singapura, Thailand, dan negara-negara lain di Asia Tenggara. Menurut Gus Ulil, kawasan tersebut memiliki potensi besar bagi perkembangan bisnis syariah dunia.
Ia menilai kondisi Timur Tengah yang dinamis menjadi salah satu faktor yang membuat Asia Tenggara semakin penting sebagai kawasan potensial untuk pengembangan bisnis syariah.
“Jadi saya pikir kandidat dan potensi terbesar untuk bisnis syariah masa depan tentu saja adalah Asia Tenggara, mengingat lokasi geografisnya dan juga demografi masyarakat Asia Tenggara—yang mayoritas penduduknya adalah Muslim,” bebernya.
Gus Ulil menilai kondisi tersebut menjadikan Asia Tenggara sebagai pasar besar bagi ekonomi syariah Indonesia. Menurutnya, salah satu kekuatan terbesar dalam ekosistem ekonomi syariah Indonesia adalah Nahdlatul Ulama.
“Jadi, ambisi terbesar kita di masa depan adalah agar Nahdlatul Ulama dapat menjadi pemimpin dari inisiatif ekonomi syariah ini,” katanya.
PBNU, katanya, mulai menjalankan inisiatif tersebut dengan membangun hubungan bersama mitra dari Malaysia dan Thailand. Pada Juli 2026, PBNU untuk pertama kalinya mengikuti pameran Mega Halal Exhibition di Bangkok, Thailand.
“Untuk pertama kalinya kita bergabung dalam pameran halal di Bangkok,” imbuh Ulil.
Ia berharap pada tahun depan NU dapat menyelenggarakan pameran halal sendiri di Jakarta yang dijalankan dan diorganisasi Nahdlatul Ulama bersama mitra dari Malaysia, Thailand, dan Hong Kong.
“Jadi kami percaya bahwa Indonesia juga bisa menjadi pusat (hub) penting bagi ekonomi halal,” katanya.