Hassan Shadily, Penyusun Kamus Legendaris yang Pernah Sekolah Militer di Jepang - Grid

Barangkali tidak ada kamus di Indonesia yang lebih populer melebihi Kamus Inggris-Indonesia karya John M. Echols dan Hassan Shadily. Bagaimana keduanya bisa bertemu?
Penulis: Muljawan Karim | tayang di Majalah Intisari edisi April 1987 dengan judul "Penyusun Kamus Yang Juga Pemborong Bangunan"
---
Intisari hadir di whatsapp channel, follow dan dapatkan berita terbaru kami di sini
---
Intisari-Online.com -Namanya tak asing lagi bagi banyak orang. Anda pasti pernah membuka Kamus Inggris - Indonesia yang disusunnya. Mungkin kamus tersebut tidak akan muncul dalam bentuknya sekarang, andaikata Hassan menjadi dokter seperti yang diidamkannya.
kamus Inggris-Indonesia yang disusun oleh John M. Echols dan Hassan Shadily itu mungkin merupakan kamus Inggris-Indonesia yang paling banyak dipakai. Penerbit Gramedia menerbitkannya pada 1976 dan terus dicetak ulang hingga sekarang.
Di Amerika Serikat dan negara-negara lain, seperti Australia dan Malaysia, kamus Inggris-Indonesia — dan Indonesia-Inggris — dari Echols dan Shadily juga sudah dianggap kamus standar oleh mereka yang mempelajari bahasa Indonesia. Bahkan, penerbitannya yang pertama kali sebenarnya bukan dilakukan di Indonesia, tapi di Amerika Serikat, oleh Cornell University Press.
Kerja sama lewat surat
Kalau saja dia tak pernah bertemu dengan John Echols, mungkin sekarang kita tak mengenal Hassan Shadily sebagai seorang ahli leksikografi, ahli perkamusan.
Hassan sedang belajar sosiologi ketika dia bertemu dengan guru besar linguistik itu di Universitas Cornell, Amerika Serikat, itu pada 1952. Walau tiga tahun kemudian dia meraih gelar master dalam sosiologi, tapi selanjutnya Hassan lebih banyak sibuk mengurusi kamus dan ensiklopedi.
Ini semua gara-gara Prof. Echols meminta bantuan Hassan melaksanakan proyek penyusunan kamus Indonesia-Inggris.
Meski Hassan sama sekali belum berpengalaman dalam soal ini, Prof. Echols percaya pada kemampuannya. Selain menguasai bahasa Indonesia, Hassan juga dapat berbahasa Inggris dengan baik.
Pengalaman Hassan sebagai bekas wartawan yang sering menulis dalam Pelita Rakyat dan Trompet Masyarakat juga menjadi pertimbangannya.
Dalam tahun 1952 itu juga mereka mulai bekerja sama. Kamus Indonesia-Inggris selesai dalam waktu dua tahun, dalam masa tinggal Hassan di Cornell; sedang kamus Inggris-Indonesia yang disusun belakangan digarap lebih dari enam tahun, pada waktu Hassan sudah kembali ke Indonesia.
Karena itulah kerja sama lalu lebih banyak dilakukan dengan cara surat-menyurat. Selesai penyusunan kedua kamus itu, yang masing-masing diterbitkan pertama kali tahun 1961 dan 1975, tidak berarti berakhir pula kerja sama di antara kedua penyusunnya.
Hassan di Jakarta dan John Echols di Cornell terus mengumpulkan kata-kata baru untuk makin melengkapi kamus mereka.
Malah hubungan kerja sama yang awalnya bersifat formal, lambat laun berubah menjadi hubungan persahabatan yang erat. Tidak hanya di antara keduanya, tapi juga di antara kedua keluarga mereka.
“Kalau ke Indonesia John pasti menginap di rumah saya. Begitu pula kalau saya ke Cornell,” Hassan menceritakan eratnya persahabatan mereka.
Kerja sama dan persahabatan ini terus berlangsung seumur hidup. Sampai meninggalnya Prof. Echols pada 1984, 32 tahun sejak saat dia pertama kali berkenalan dengan Hassan.
Masuk akal jika kematian ini membuat Hassan sangat berduka cita. “Waktu itu saya hampir saja kehilangan semangat mengumpulkan kata-kata baru yang biasanya saya diskusikan dengan John,” kata Hassan.
Pemborong bangunan
Setelah rampungnya proyek kamus Inggris-Indonesia yang dibiayai oleh Twentieth Century Funds dan Ford Foundation, mulai 1962 Hassan juga sibuk dalam berbagai proyek penyusunan ensiklopedia. Sampai tulisan ini terbit pertama pada April 1987, setidaknya sudah tiga buah ensiklopedia rampung tersusun berkat keahlian dan ketekunannya.
Ini tidak bisa dibilang prestasi yang kecil, kalau mengingat lamanya waktu yang diperlukan untuk menggarapnya. Bukan luar biasa kalau sebuah ensiklopedi baru rampung setelah dikerjakan selama sepuluh tahun.
Ketiga ensiklopedia itu adalah Ensiklopedi Umum (satu jilid), yang diterbitkan oleh Yayasan Kanisius (1972); Ensiklopedi Indonesia, yang diterbitkan oleh PT Ichtiar Baru dan Van Hoeve (1980); dan Ensiklopedi Tari dan Musik, yang penyusunannya merupakan proyek dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Karena belum memiliki keahlian dalam teknik penyusunan ensiklopedi, ketika pada 1962 dia mulai menggarap Ensiklopedi Umum, Hassan berkesempatan mempelajari cara kerja redaktur ensiklopedia di luar negeri. Termasuk redaktur-redaktur Encyclopedia Americana dan Encyclopedia Britannica.
Tidak bisa disangkal lagi Ensiklopedi Indonesia, yang seluruhnya terdiri atas tujuh jilid dan masing-masing tebalnya lebih dari 500 halaman, merupakan hasil kerja Hassan yang paling besar dan monumental. Sebagai pemimpin redaksi, dia menjadi penanggung jawab atas semua isinya, serta menjadi orang yang paling berat beban tugasnya selama penyusunan.
Dia antara lain harus menyunting dan menyusun secara sistematis bahan-bahan tulisan yang dibuat oleh tak kurang dari 220 orang sarjana dari 45 bidang ilmu pengetahuan. Hassan merampungkan pekerjaannya ini dalam waktu delapan tahun.
Honorarium dan berbagai proyek penyusunan kamus dan ensiklopedi serta royalti dari penjualan buku-bukunya ternyata belum mencukupi nafkah Hassan dan keluarganya. Karena itu dia pun menjalankan berbagai usaha sampingan.
Di antaranya dia mendirikan perusahaan penerbitan buku yang diberinya nama PT Antar Karya. Dia juga membangun rumah-rumah peristirahatan di daerah Cisarua, Puncak, Jawa Barat, untuk disewakan.
Hassan juga mengaku suka menerima borongan pembangunan rumah. “Sejak muda saya sudah senang dengan soal-soal pembangunan,” ujar Hassan yang memiliki sebuah tim tukang yang setiap saat siap membantunya melaksanakan order pembangunan apa saja.

Anak kiai
Menjadi ahli sosiologi maupun penyusun kamus tak pernah terpikirkan oleh Hassan di kala muda. Cita-citanya sebenarnya menjadi seorang dokter.
Setelah tamat dari MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs), setingkat SMTP sekarang, dia berusaha masuk AMS-B (sekarang SMA jurusan IPA) agar kelak bisa diterima di sekolah kedokteran khusus pribumi di Surabaya,
Namun Hassan hanya setahun saja duduk di AMS di Yogyakarta. Dia mendadak membatalkan niatnya menjadi dokter.
Ketika menjenguk orangtuanya di Madura di saat liburan, dia merasa iba melihat ayahnya yang sudah tua, sementara banyak adiknya yang masih harus dibiayai. Di tahun 1937 itu ayahnya sudah berusia 60-an tahun.
Menyadari beban keluarga akan sangat berat jika dia tetap ingin jadi dokter yang membutuhkan masa studi yang lama, Hassan memutuskan keluar dari AMS. Dia pindah bersekolah di MOSVIA (Middelbare Opleiding School Voor Inlandsche Ambtenaren), sekolah menengah pegawai pemerintah kolonial, yang memungkinkannya dapat segera bekerja dan membantu adik-adiknya.
Sebenarnya Hassan bukan anak orang tak punya. Abdurachman Kusumanegara, ayahnya, bahkan pernah menjadi orang terkaya ketiga di Kabupaten Pamekasan.
Dia seorang saudagar yang memiliki beberapa toko dan berdagang macam-macam barang kebutuhan sehari-hari. Mungkin usahanya ini lambat laun mundur bersamaan dengan usianya yang semakin tua.
Hassan bukan sekadar anak orang kaya. Dalam tubuhnya juga mengalir darah Cakraningrat, keluarga bangsawan yang waktu itu berkuasa di Madura, yang memungkinkannya dapat diterima di MOSVIA di Magelang, Jawa Tengah.
Di rumah, pendidikan utama yang diberikan orangtua Hassan pada anak-anak mereka adalah pendidikan agama, seperti pelajaran salat dan mengaji. Menurut Hassan ayahnya adalah seorang Islam yang ortodoks dan seorang kiai yang sangat dihormati.
Namun anehnya, ayahnya ini memasukkan Hassan ke sekolah taman-kanak-kanak Katolik yang dipimpin seorang pastor, yang waktu itu hanya lazim dimasuki anak-anak Belanda dan Cina.
“Walau Islamnya fanatik, ayah saya terbuka pada pendidikan Barat, yang diyakininya bisa membuat orang lebih pandai dan maju,” tutur Hassan dalam logat Maduranya.
Bawa kasur sendiri
Malah untuk seterusnya pendidikan formal yang dikecap Hassan hanyalah pendidikan Barat.
Masih di Pamekasan, selepas taman kanak-kanak, dia bersekolah di HIS (Holland Inlandsche School), sekolah dasar, yang diselesaikannya pada tahun 1933. Setelah itu Hassan melanjutkan pelajaran ke MULO di Malang, Jawa Timur, karena sekolah lanjutan ini belum terdapat di Madura.
Teman-temannya selama di MULO, antara lain dua bersaudara Anak Agung Gede Muter dan Anak Agung Gde Agung, anak-anak raja Gianyar, Bali, yang kaya raya.
“Mereka indekos di rumah direktur sekolah yang bayarannya 175 gulden sebulan, sementara saya menumpang di sebuah keluarga asal Madura dengan bayaran hanya 10 gulden saja. Tapi saya harus bawa tempat tidur dan kasur sendiri,” Hassan mengenang.
Anak Agung Gde Agung kemudian menjadi sarjana hukum yang meraih gelar doktor di Negeri Belanda, pernah menjadi staf ahli menteri luar negeri.
Lulus MOSVIA tahun 1941 Hassan langsung bekerja sebagai AIB (Aspirant Inlands Bestuur-ambtenaar), calon pangreh praja, di Sumenep dan Pamekasan. Gajinya yang 80 gulden sebulan lebih dari cukup untuk bujangan seperti dirinya.
“Empat puluh gulden selalu saya gunakan membiayai sekolah adik-adik dan membantu orangtua sekadarnya,” katanya.
Dengan sisanya yang 40 gulden lagi Hassan masih bisa menyewa sebuah rumah besar bersama dua orang rekannya serta menggaji dua orang pembantu rumah tangga. “Malah saya masih bisa kredit motor BSA,” tambah pria kelahiran Pamekasan ini.
Hassan nampaknya berbakat dalam soal kebahasaan. Sejak duduk di bangku HIS dia mengaku selalu mendapat nilai tinggi untuk pelajaran bahasa Belanda.
Ketika Jepang masuk, tahun 1942, dia segera saja dapat menguasai bahasa Jepang. Karena sering menjadi penerjemah serta pandai berceramah di berbagai tempat tentang kebudayaan Jepang, Hassan sampai-sampai jadi pegawai kesayangan Nakaya, residen Jepang di Madura.
Bekerja sebagai pegawai negeri tak sepenuhnya memuaskan Hassan. Setelah selama tiga tahun memegang berbagai jabatan, dia merasa sangat terikat dan jenuh dengan pekerjaan-pekerjaan administratif yang rutin. Tambahan pula, di zaman Jepang penghasilan pangreh praja menjadi jauh lebih kecil karena devaluasi.
Beasiswa ke Jepang
Bersamaan dengan itu timbul keinginannya untuk kembali belajar dan menambah pengetahuan.
Dia lalu berusaha mendapatkan beasiswa yang diberikan pemerintah Jepang pada pemuda-pemuda di negeri-negeri jajahannya, termasuk Indonesia. Kesempatan untuk belajar ke Jepang ini sesungguhnya hanya diperuntukkan bagi para pelajar, dan bukan untuk orang yang sudah bekerja seperti Hassan.
Berkat rekomendasi dari Nakaya, Hassan berhasil juga mendapatkannya.
Bersama dengan 23 penerima beasiswa lainnya, Juni 1944 Hassan berangkat ke Jepang. Di sana, selama enam bulan pertama dia belajar bahasa dan kebudayaan Jepang di Kokusai Gakuyu Kai (Institut Mahasiswa Internasional), sebelum dia belajar di Akademi Militer Tokyo sampai berakhirnya perang, dengan kekalahan Jepang dari Sekutu, bulan Agustus 1945.
Sebenarnya dia ingin mendalami ilmu-ilmu sosial di Universitas Tokyo atau Kyoto, tapi tak bisa terlaksana. Peperangan yang makin memuncak dan pemboman yang terus-menerus dilakukan Sekutu atas kota-kota jepang, termasuk Tokyo, menyebabkan banyak perguruan tinggi terpaksa menghentikan kegiatannya.
Karena tak mau meninggalkan Tokyo, Hassan tak punya pilihan lain kecuali masuk Akademi Militer, satu-satunya perguruan tinggi yang tetap berjalan di ibu kota Jepang itu.
Lepas dari Akademi Militer, dia sempat kembali ke Kokusai Gakuyu Kai dan belajar ilmu hukum, ekonomi, sosial dan kebudayaan. Tapi ini lebih banyak dilakukannya sendiri, karena meski perang telah usai, universitas-universitas tidak langsung dibuka kembali.
Tak pernah menyelesaikan studi formalnya, sampai masa tinggalnya di Jepang berakhir Hassan tak berhasil meraih gelar akademi apa pun. Suatu hal yang sangat dia sesali.
Mengajar bahasa Jepang pada tentara Sekutu
Keruhnya situasi politik di tanah air turut mempersulit keadaan Hassan dan teman-teman sesama pelajar Indonesia di Jepang.
Kekalahan jepang yang disusul dengan kemerdekaan Indonesia menyebabkan dihentikannya pemberian beasiswa dan diganti dengan bantuan ala kadarnya yang tidak mencukupi untuk hidup sehari-hari. Di pihak lain, mereka dialangi berhubungan dengan pihak Indonesia untuk memohon bantuan.
Belanda yang serta merta berusaha menanamkan kembali kekuasaannya di Indonesia sebenarnya bersedia memberi bantuan uang dan makanan melalui kedutaan besarnya di Tokyo. Namun, bantuan ini tidak jadi diberikan karena para mahasiswa menolak kewarganegaraan Hindia Belanda.
Agar tetap dapat hidup, di samping belajar Hassan juga bekerja, mengajar bahasa Inggris pada orang Jepang dan mengajar bahasa Jepang pada tentara pendudukan Sekutu, yang kebanyakan terdiri atas tentara Amerika. Pengalamannya mengajar tentara Sekutu inilah yang mungkin menyebabkan bahasa Inggris Hassan makin baik.
Setelah Perjanjian Linggarjati ditandatangani pada 12 September 1946, segenap pelajar Indonesia yang berada di Jepang diharuskan pulang. Hassan tiba kembali di Jakarta bulan Juni 1947 bersama dengan 14 orang teman dan 6 wanita Jepang.
Yang terakhir ini adalah para istri yang dibawa para mahasiswa dari Jepang. Salah seorang di antaranya adalah istri Hassan sendiri.
Keadaan di Indonesia yang pada masa itu masih serba sulit menyebabkan istri Jepang Hassan tak merasa kerasan. Dia hanya tahan setahun sebelum kembali pulang ke tanah airnya, meninggalkan Hassan sendirian.
Perkawinan Hassan dengan wanita negeri Matahari Terbit ini tidak membuahkan keturunan.
Jadi penyalur batik
Sebelum mantap dalam kariernya sebagai penyusun kamus dan dalam dunia penerbitan buku, Hassan gemar mencoba-coba berbagai pekerjaan.
Sepulang dari Jepang, dalam waktu hanya lima tahun, antara 1947-1952, tak kurang dari tujuh jenis pekerjaan dilakoninya, mulai dari wartawan, guru bahasa Inggris, pegawai bank, jaksa di Mahkamah Tentara, pegawai Kementerian Luar Negeri, importir mobil sampai penyalur kain batik.
Ketika menjadi wartawan Hassan sempat ditangkap Belanda dan mendekam dalam Penjara Bubutan, Surabaya, selama empat bulan. Tulisan-tulisan Hassan dianggap terlalu pro pemerintah Republik.
Di dalam penjara, orang-orang yang memiliki keahlian diharuskan mengajar. Dengan pengetahuan yang dia peroleh di MOSVIA dan ketika belajar di Jepang, Hassan mengajar sosiologi.
Selama dalam penjara ini pula dia menghasilkan bukunya yang pertama, Sosiologi untuk Masyarakat Indonesia. Buku itu kemudian diterbitkan tahun 1952 dan masih terus dicetak ulang sampai sekarang.
Hassan ditangkap Belanda tidak hanya sekali. Sebelum penahanan di akhir tahun 1949 ini, dia sudah pernah beberapa kali mengalami nasib serupa. Bukan karena tulisan-tulisannya, tapi karena dia menolak kembali bekerja sebagai pangreh praja, pekerjaan yang sebenarnya masih mengikatnya.
Betul-betul tak ingin kembali ke pekerjaan lamanya sebagai pamong di Karesidenan Madura dan juga mungkin kapok jadi wartawan, Hassan beralih profesi menjadi guru bahasa Inggris, seperti yang pernah dilakoninya saat di Jepang. Dia mendirikan sendiri sekolah bahasa Inggris yang dia beri nama Our English School, yang mengambil tempat di Gedung Nasional, Surabaya.
“Muridnya banyak lho, kurang lebih seratus orang. Ada yang kursus langsung, ada yang kursus tertulis,” cerita Hassan yang sepenuhnya mengelola sendiri lembaga pendidikannya yang berjalan malam hari.
Siang harinya Hassan bekerja sebagai pembantu khusus direktur Chartered Bank, cabang Surabaya.
Baru setahun umur Our English School, Hassan sudah tak betah. Tahun 1950 dia pindah ke Jakarta karena diterima bekerja sebagai sekretaris Mahkamah Tentara, yang berkantor di Jl. Kebon Sirih. Waktu itu dia diberi pangkat kapten TNI tituler.
Namun, tahun berikutnya Hassan sudah tak berkantor lagi di Kebon Sirih. Ia pindah kerja ke Jl. Pejambon, di Kementerian Luar Negeri.
Lamaran yang dia lakukan secara iseng-iseng ternyata diterima. Hassan pun lalu bekerja di desk Afrika yang waktu itu dipimpin oleh Mr. Achmad Subardjo.
Lagi-lagi tak puas jadi pegawai negeri, Hassan berhenti dari Kementerian Luar Negeri, beberapa bulan saja dari saat dia diterima. Dia memutuskan untuk hidup mandiri dengan berwiraswasta.
Dalam tahun 1951 itu juga, bersama pengusaha Amerika yang menjadi mitranya, Hassan mendirikan Indonesian Service Company (ISC), perusahaan yang mengimpor dan merakit mobil-mobil Amerika, seperti Dodge dan Willys. Di samping itu ia juga mendirikan dua perusahaan lain, Zoro Corporation, yang juga bergerak dalam bidang impor mobil, dan PT Cosmopolitan, perusahaan yang antara lain menyalurkan batik.
Penghulunya H. Agus Salim
Berbagai usaha niaganya ini ditinggalkan Hassan begitu saja, karena tiba-tiba semangat belajarnya timbul lagi. Ini terjadi setelah dia bertemu lagi dengan teman lamanya, Anak Agung Gede Muter, yang akan berangkat ke Amerika Serikat untuk belajar dengan beasiswa dari pihak Amerika.
Ingin mendapat beasiswa seperti Muter, Hassan langsung menghubungi USIS (United States Information Service), yang antara lain mengurus beasiswa yang diberikan berbagai lembaga di Amerika Serikat. Karena menguasai bahasa Inggris dengan baik, Hassan berhasil mendapatkan beasiswa Schmidmund untuk belajar di Universitas Cornell, di negara bagian New York.
Menurut Hassan, beasiswa yang diterimanya tidak besar, hanya US $ 150 saja sebulannya. Untuk mencari tambahan, di samping berkuliah Hassan juga memberi kuliah bahasa Indonesia.
Kemudian, dia tentu saja juga mendapat penghasilan dari proyek penyusunan kamus yang dikerjakannya.
Dalam masa belajarnya di Amerika Serikat, Hassan sempat bertemu dengan tokoh-tokoh terkemuka Indonesia, seperti Hamka dan Haji Agus Salim. Waktu itu Hamka sedang melakukan penelitian kepustakaan tentang agama Islam, sedang H. Agus Salim diundang oleh Universitas Cornell untuk memberi kuliah tentang nasionalisme dan agama Islam.
Haji Agus Salim yang sudah berusia lanjut banyak dibantu Hassan dalam menunaikan tugasnya mengajar. Hassan-lah, misalnya, yang mencarikan buku-buku yang ia perlukan. Karena merupakan tugas dari universitas, untuk ini Hassan juga mendapat honorarium.
Bukan Hamka dan H. Agus Salim saja yang sempat dikenal Hassan di kampus Cornell. Di sana ia juga bertemu dengan Julia Madewa, gadis Minang yang kelak menjadi tokoh penting dalam kehidupan Hassan.
Dia datang ke Cornell setahun lebih awal dari Hassan untuk membantu suatu proyek penelitian bahasa Indonesia.
Begitu melihat Julia yang cantik, Hassan pun langsung jatuh hati. Meski, menurut Hassan, pada awalnya Julia bersikap agak angkuh, namun mereka akhirnya toh berpacaran dan menikah kurang-lebih setahun kemudian, tanggal 19 Mei 1953, tepat di hari ulang tahun Hassan yang ke-33.
Upacara perkawinan diselenggarakan di tempat kediaman Prof. Echols. Dan H. Agus Salim yang bertindak sebagai penghulunya.
Waktu menikah, tugas Julia di Cornell sebenarnya sudah selesai, dan dia dapat segera pulang ke Indonesia. Namun, karena Hassan masih harus menyelesaikan studinya, Julia pun memperpanjang masa tinggalnya, dan baru kembali ke tanah air tahun 1955 bersama Hassan dan Faty, anak pertamanya.
Tinggal lebih lama di Cornell, Julia lalu menjadi pembantu utama Hassan dalam proyek penyusunan kamus yang dibiayai oleh Twentieth Century Funds dan Ford Foundation. “Waktu itu Julia juga memperoleh honorarium yang lumayan, US$ 200. Saya sendiri mendapat US$ 450. Jadi kalau digabung jumlahnya US$ 650. Lebih besar dari gaji profesor!" kata Hassan sambil terkekeh.
Di samping meneruskan proyek kamus Inggris-Indonesia, sepulang dari Amerika Serikat Hassan mendapat pekerjaan sebagai direktur perwakilan Franklin Books Program yang berkantor pusat di New York. Badan yang dipimpin Hassan ini, yang kemudian bernama Yayasan Dana Buku Indonesia, adalah lembaga non-profit yang disponsori oleh penerbit-penerbit Amerika, yang bertujuan membantu penerbit-penerbit lokal menerbitkan buku-buku terjemahan.
Selama delapan belas tahun dipimpin Hassan, yayasan ini telah bekerja sama dengan lebih dan 30 penerbit dan membantu penerbitan tak kurang dari 500 judul buku terjemahan. Sayang, pada tahun 1972 lembaga ini harus ditutup, karena kekurangan dana dari para sponsornya.
Selesai dengan urusan Yayasan Dana Buku Indonesia, dalam tahun 1972 itu juga Hassan mendirikan perusahaan penerbitannya sendiri.
Pada 10 September 2000, ahli kamus terbesar kita ini mengembuskan napas terakhirnya di Jakarta. Dia kemudian dimakamkan di TPU Jeruk Purut, Jakarta Selatan. Atas jasa-jasanya, dia dianugerahi Tanda Kehormatan Satyalancana Kebudayaan dari Presiden RI pada tahun 2014.