Sosial Media
0
News
    Home Berita Featured Khotbah Jum'at Khutbah Jum'at Spesial

    Percuma Berakal, Tapi Tidak Punya Mata Hati - Tebuireng

    6 min read

     

    KH. Musta’in Syafi’i (dok. tebuirengofficial)

    Khutbah oleh: Dr. KH. Musta’in Syafi’i, M. Ag.*

    an a‘mala shālihan tardhāhu, yakni kita beramal saleh yang diridai oleh Allah. Sebab, tidak semua amal baik itu diridai oleh Allah. Amal yang diridai oleh Allah ini adalah amal yang paling banyak sektornya. Bagaimana seseorang itu beramal saleh, pantas, benar, bermanfaat, bermaslahat sekaligus diridai Allah. Amal saleh orang kaya dengan amal saleh orang yang tidak punya itu beda.

    اِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُه اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى سيّدنا مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَسْلِيمًا كَثِيْرًا

    اتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ  فَقَدْ فَازَ المُتَّقُوْنَ

    وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ إِحْسَانًا حَمَلَتْهُ أُمُّهُ كُرْهًا وَوَضَعَتْهُ كُرْهًا وَحَمْلُهُ وَفِصَالُهُ ثَلَاثُونَ شَهْرًا حَتَّى إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَبَلَغَ أَرْبَعِينَ سَنَةً قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ (الاحقاف:15)

    أُو۟لَـٰۤىِٕكَ ٱلَّذِینَ نَتَقَبَّلُ عَنۡهُمۡ أَحۡسَنَ مَا عَمِلُوا۟ وَنَتَجَاوَزُ عَن سَیِّـَٔاتِهِمۡ فِیۤ أَصۡحَـٰبِ ٱلۡجَنَّةِۖ وَعۡدَ ٱلصِّدۡقِ ٱلَّذِی كَانُوا۟ یُوعَدُونَ

    Panduan hidup bagi orang beriman yang telah berusia 40 tahun ada enam, sebagaimana digagas dalam Surah Al-Ahqaf di atas. Salah satu poinnya adalah an a‘mala shālihan tardhāhu, yakni kita beramal saleh yang diridai oleh Allah. Sebab, tidak semua amal baik itu diridai oleh Allah. Amal yang diridai oleh Allah ini adalah amal yang paling banyak sektornya. Bagaimana seseorang itu beramal saleh, pantas, benar, bermanfaat, bermaslahat sekaligus diridai Allah. Amal saleh orang kaya dengan amal saleh orang yang tidak punya itu beda. Amal saleh orang kaya itu ya sedekah, sementara orang fakir itu rida terhadap apa yang diberikan Allah.

    Jangan dibolak-balik, nanti orang kaya lebih mementingkan banyak-banyak shalat sunnah, tetapi pelit. Amal saleh seorang pemimpin dengan rakyat itu beda. Pemimpin itu tidak masalah ketika dia hanya shalat fardhu dan tidak banyak melaksanakan ibadah sunnah. Yang terpenting ia memutuskan kebijakan yang maslahat kepada rakyat. Jangan dibalik, pemimpin negara kok puasa sunnah terus, wiridan lama, namun kebijakan yang diberikan itu tidak membawa maslahat kepada rakyat. Kalau bisa ya semua, sebagaimana dicontohkan oleh Hadratur Rasul dan para sahabat.

    Amal saleh bagi orang yang mempunyai jabatan itu bagaimana untuk memanfaatkan jabatan itu demi kemaslahatan umum. Tanya kepada rakyat, lebih baik mana punya hakim yang selalu berpuasa sunnah, baca Qur’an, akan tetapi tidak berani memutuskan perkara haq itu haq. Buatlah hukum yang bermanfaat. Ada hukum qisas, hukum mati, potong tangan, dan lain sebagainya.

    Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

    Lihat negara yang mayoritas non-muslim, mereka itu Islami tapi tidak muslim. Lihat negara China, Presiden Xi Jinping menghukum mati menteri-menterinya karena melakukan korupsi. Lihat negara El Salvador, Amerika Latin, presiden Nayib Armando Bukele juga melakukan hal yang sama. Mereka merasa punya sikap bahwa koruptor adalah penyakit kronis, yang apabila diberi kesempatan sedikit saja, maka akan menggerogoti semua badan. Presiden Korea Utara yang kita anggap non-muslim, secara otomatis tidak pernah wudhu, tidak pernah shalat. Akan tetapi dia mampu menghabisi koruptor-koruptor. Negara-negara tersebut menjadi negara yang makmur.

    Harusnya malu sebab di Indonesia ini banyak pesantren-pesantren terkenal. Banyak kiai yang ahli membaca kitab, banyak juga para hafiz. Mereka yang berada di Indonesia, terutama kelompok pesantren itu semuanya muslim, namun dalam hal ini (pemberantasan korupsi) tidak islami. Tidak sama dengan negara-negara tadi, mereka itu tidak muslim, namun dalam tindakannya islami.

    Lihat bagaimana dokter melakukan amputasi anggota tubuh yang sudah rusak. Boleh memotong anggota tubuh? Boleh demi kemaslahatan. Apalagi menghukum mati koruptor, malah diwajibkan. Ada pelaku penipuan online sejumlah lima orang, mereka dihukum mati semua karena merusak.

    Boleh tidak hasil hukum yang di dalam fikih itu dimodifikasi? Boleh dengan dasar maslahat. Andaikan saya jadi konsultan di Jepang atau Singapura, maka saya benarkan hukuman potong ibu jari (misalnya) untuk korupsi yang berukuran tertentu. Karena itu dalam hal ini tidak saja saya menggunakan referensi Al-Qur’an atau Hadis. Cobalah yang biasa bahtsul masail, tanyakan dosen-dosen fikih, ushul fikih, dan qawaid fikih, bagaimana sikap kebijakan pemerintah kepada rakyat? Tasharruful imam ‘ala al-ra’iyyah manuthun bil maslahah.

    Rumusan kebijakan pemimpin untuk rakyat itu berstandar pada kemaslahatan. Sehingga amal saleh anggota dewan itu juga berbeda dengan amal saleh rakyat. Kalau anggota dewan itu diam saja, tidak bersuara mengenai hukum potong tangan terhadap koruptor, maka sebenarnya mereka ini mewakili siapa?

    Memang perspektif landasan hukum itu bisa banyak. Namun, bagi saya perspektif yang paling jujur itu hati, bukan akal. Andai ada hujan, peristiwanya sama tapi apa sikap akal? Akal itu membaca itu fakta, namun qalbu itu membaca makna. Ada orang yang suka hujan, ada juga yang tidak suka karena membutuhkan panas. Apa hikmah di balik itu? Pembacaan akal dan qalbu itu di Al-Qur’an lebih didahulukan pembacaan qalbu dibanding akal, meskipun keduanya sama-sama penting.

    Sebuah informasi biasa keterangan di dalam khutbah seperti ini, seseorang boleh mendukung khatib, mencelanya, atau apa pun itu. Tetapi makna qalbu membaca informasi itu menjadi guide/petunjuk, sehingga mereka yang merasa melakukan korupsi segera berhenti. Pada ranah yang lebih luas lagi, ada dunia dan akhirat. Akal bisa melihat dunia dan akhirat itu dari perpindahan alam, dari alam dunia ke alam lain. Namun qalbu membaca lain, memang itu secara zahir seperti itu, akan tetapi hal itu merupakan perjalanan berikutnya melalui rute-rute yang banyak sekali. Sehingga kita ini masih di tahap awal.

    Karena itu lihat dalam Al-Qur’an, yang sering dikecam adalah hati manusia. Mereka punya mata yang dapat melihat, namun hatinya buta. Ahli-ahli hukum di negeri ini yang tidak memutuskan hukuman mati bagi koruptor itu matanya melek (tampak), tetapi hatinya buta. Al-Qur’an mengatakan:

    فَإِنَّهَا لَا تَعْمَى الْأَبْصَارُ وَلَٰكِن تَعْمَى الْقُلُوبُ الَّتِي فِي الصُّدُورِ

    “Sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang berada dalam dada.” (Al-Hajj:46)

    Mudah-mudahan kita masih diberi kesempatan di hidup ini untuk membuka mata hati kita, dengan cara saling mengingatkan, salah satunya adalah melalui mimbar ini.

    بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ



    Komentar
    Additional JS