Sosial Media
0
News
    Home Berita Featured Kalimantan Barat Karhutla Kebakaran Hutan Lintas Peristiwa PWNU Shalat Istisqa Spesial

    450 Titik Panas dI Kalbar, PWNU Instruksikan Shalat Istisqa untuk Hadapi Karhutla - NU Online

    3 min read

     


    Kondisi jalanan pada malam hari di Kota Pontianak, Kalimantan Barat pada Jumat (16/10/2026). (Dok warga) Rikhul Jannah Kontributor Download PDF

    Jakarta, NU Online

    Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Kalimantan Barat menginstruksikan jajaran pengurus cabang untuk melaksanakan shalat istisqa di tengah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang kian mengganggu kehidupan warga.

    Hingga Rabu (21/10/2026) pukul 21.00 WIB, tercatat 450 titik panas (hotspot) di Kalimantan Barat, dengan luas lahan terbakar mencapai 11,92 hektare dalam 24 jam terakhir.

    Wakil Sekretaris PWNU Kalimantan Barat, Syamhadi, mengatakan bahwa instruksi tersebut telah disampaikan kepada jajaran cabang sejak pertengahan Agustus 2026, sebelum Muktamar NU.

    “Sebelum muktamar, sekitar pertengahan Agustus, dari PWNU sudah memberikan instruksi ke cabang-cabang untuk shalat istisqa,” ujarnya saat dihubungi NU Online pada Rabu (21/10/2026).

    Di tengah kondisi karhutla yang semakin parah, Syamhadi mengatakan bahwa badan otonom (banom) NU di lingkungan PWNU Kalimantan Barat turut melakukan upaya penanganan langsung. Sejumlah kegiatan dilakukan, mulai dari membagikan masker kepada warga di jalanan hingga membantu memadamkan api.

    “Banom-banom NU di PWNU Kalbar ada yang membagikan masker-masker di jalanan, ada juga yang ikut membantu untuk memadamkan api,” ujarnya.

    Syamhadi juga mengungkapkan bahwa asap pekat membuat jalanan tampak gelap pada pagi hari sehingga mengganggu aktivitas masyarakat. “Ya, sepekat itu, jalan itu kalau pagi hari masih gelap karena ketutup asap itu,” ujarnya.

    Ia juga mengeluhkan kondisi air di lingkungan tempat tinggalnya yang tidak dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

    “Kalau air jangan ditanyakan, air ledeng (air dari PDAM) kalau di sini itu tidak bisa, ya memang tidak bisa dikonsumsi, tidak bisa untuk mandi atau bersih-bersih, dan itu sudah sangat asin karena bercampur dengan asap kabakaran (hutan dan lahan) itu,” tuturnya.

    Selain itu, Syamhadi mengungkapkan bahwa jarak pandang pada malam hari dapat menyusut hingga sekitar dua meter. Kondisi tersebut membahayakan pengendara, meskipun telah menggunakan lampu kendaraan.

    “Kalau malam itu (jarak pandang) tuh jalan paling dua meter baru keliatan, pendek penglihatan walau sudah pakai lampu (motor ataupun mobil),” katanya.

    Syamhadi menilai kebakaran hutan dan lahan tahun ini jauh lebih parah dibandingkan tahun sebelumnya. “Setiap musim kemarau memang terjadi kebakaran tapi tahun lalu mudah dipadamkan, tidak begitu dasyat seperti sekarang ini. Tahun ini kabakarannya paling parah,” imbuhnya.

    Karhutla juga mengganggu keberlangsungan pendidikan. Syamhadi menyampaikan bahwa sekolah dari jenjang pendidikan anak usia dini (PAUD) hingga sekolah menengah atas (SMA) menerapkan pembelajaran jarak jauh (PJJ) sesuai jadwal pemerintah.

    PJJ telah diberlakukan sejak Agustus 2026. Sekolah baru kembali menjalankan pembelajaran tatap muka secara normal selama satu minggu, itu pun dengan kewajiban mengenakan masker.

    “Jadi anak-anak ya lebih banyak kegiatan di dalam rumah karena di luar asap pekat. Kalau di kampus itu tetap masuk dan tetap berjalan,” pungkasnya.

    Komentar
    Additional JS