Sosial Media
0
News
    Home Arab Saudi Berita Dunia Internasional Featured Konflik Timur Tengah Spesial Umroh

    Daftar Negara yang Imbau Warganya Tunda Umrah di Tengah Serangan Houthi ke Arab Saudi - Tribunnews

    7 min read

     


    Media Center Haji 2026/Sri Juliati A-A+ SUASANA MASJIDIL HARAM - Jemaah haji memadati area tawaf, Makkah, Jumat (1/5/2026). Sejumlah negara, termasuk Malaysia, Australia, Selandia Baru, AS, Kanada, Inggris, Korea Selatan, dan Jepang, mengeluarkan imbauan perjalanan ke Arab Saudi di tengah meningkatnya risiko keamanan. 
    Ringkasan Berita:
    • Sejumlah negara, termasuk Malaysia, Australia, Selandia Baru, AS, Kanada, Inggris, Korea Selatan, dan Jepang, mengeluarkan imbauan perjalanan ke Arab Saudi di tengah meningkatnya risiko keamanan.
    • Indonesia belum memberlakukan larangan perjalanan
    • Kemenhaj meminta jemaah umrah meningkatkan kewaspadaan, membatasi perjalanan yang tidak mendesak, dan mengikuti arahan resmi.

    TRIBUNNEWS.COM - Eskalasi konflik antara kelompok militan Houthi Yaman dan Arab Saudi membuat sejumlah negara mengeluarkan peraturan atau imbauan perjalanan.

    Warga Malaysia disarankan untuk menunda sementara perjalanan ke Arab Saudi untuk melaksanakan ibadah umrah, kata Menteri Luar Negeri Malaysia Mohamad Hasan, dilansir Bernama.

    Ia mengatakan, imbauan tersebut dikeluarkan sebagai tanggapan terhadap risiko keamanan menyusul serangan terhadap Bandara Internasional King Khalid di Riyadh pada Sabtu lalu.

    "Belum ada (insiden) di Makkah. Hanya ada rudal yang meledak di Riyadh, jadi kami meminta warga Malaysia untuk menunda perjalanan mereka ke sana (Makkah dan Madinah)," katanya, Senin (12/10/2026).

    Sementara itu, Australia dan Selandia Baru juga mengeluarkan peringatan perjalanan ke Arab Saudi, menyusul peringatan serupa dari Amerika Serikat, Kanada, Inggris, Korea Selatan, dan Jepang.

    Dilansir Al Jazeera, Departemen Luar Negeri dan Perdagangan Australia mengatakan warga Australia harus menghindari Bandara Internasional King Khalid di Riyadh dan mempertimbangkan kembali perjalanan ke bandara-bandara lain di Arab Saudi.

    Kementerian Luar Negeri dan Perdagangan Selandia Baru mendesak warganya untuk tidak bepergian ke bandara utama di ibu kota Arab Saudi serta ke Provinsi Najran, Jazan, dan Asir untuk alasan apa pun.

    Warga juga diminta menghindari perjalanan yang tidak mendesak ke Arab Saudi secara keseluruhan.

    Kedutaan Besar AS di Riyadh pada Minggu menyarankan warga AS untuk mempertimbangkan kembali perjalanan ke Arab Saudi dengan alasan adanya ancaman serangan dari Iran dan kelompok Houthi yang didukung Iran.

    Global Affairs Canada mengeluarkan imbauan agar warganya menghindari perjalanan yang tidak penting ke seluruh wilayah Arab Saudi.

    Kementerian Luar Negeri Korea Selatan merekomendasikan agar warganya yang berada di Arab Saudi meninggalkan negara tersebut, kecuali untuk urusan penting.

    Kementerian juga menyarankan warga yang berencana bepergian ke Arab Saudi untuk membatalkan perjalanan mereka.

    Baca juga: Trump Ancam Serang Houthi setelah Pemilu Sela, Arab Saudi Gempur Depot Bahan Bakar di Yaman

    Kantor Luar Negeri, Persemakmuran, dan Pembangunan Inggris mendesak warganya untuk menghindari perjalanan ke Jeddah dan Dammam serta ke semua bandara, kecuali Bandara Internasional Madinah, kecuali untuk alasan penting.

    Bagaimana dengan Indonesia?

    Indonesia belum mengeluarkan pembatasan atau larangan perjalanan ke Arab Saudi.

    Namun, Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) Indonesia menegaskan bahwa keselamatan jemaah umrah Indonesia merupakan prioritas utama pemerintah.

    Untuk mengantisipasi berbagai kemungkinan, Kemenhaj menyampaikan sejumlah imbauan penting, seperti dikutip dari haji.go.id.

    Bagi jemaah yang saat ini berada di Arab Saudi, Kemenhaj mengimbau mereka untuk tetap tenang, meningkatkan kewaspadaan, dan memfokuskan kegiatan pada pelaksanaan ibadah di Makkah dan Madinah.

    Jemaah juga diminta membatasi perjalanan yang tidak mendesak ke luar wilayah tersebut, mematuhi seluruh arahan otoritas setempat, menghindari lokasi yang berpotensi rawan, serta terus berkoordinasi secara aktif dengan pihak travel.

    Juru Bicara Kemenhaj, Ichsan Marsha, menegaskan bahwa pihaknya terus melakukan pemantauan data secara komprehensif.

    "Berdasarkan data yang terdaftar di sistem kami, hingga Minggu, 11 Oktober 2026, total ada 37 jemaah yang berangkat dan pulang melalui Bandara Internasional King Khaled, Riyadh. Berdasarkan komunikasi yang kami jalin bersama dengan Kementerian Luar Negeri serta KBRI Riyadh, alhamdulillah tidak ada jemaah umrah yang menjadi korban dalam serangan tersebut," tegas Ichsan dalam keterangannya di Jakarta, Senin (12/10/2026).

    Lebih lanjut, calon jemaah yang belum berangkat diharapkan memastikan kembali status penerbangan dan kesiapan perjalanan bersama pihak travel masing-masing.

    Mereka juga diminta untuk selalu mengikuti informasi dan arahan resmi pemerintah sebelum mengambil keputusan terkait keberangkatan.

    Kepada keluarga jemaah di Tanah Air, Kemenhaj berpesan agar tetap tenang dan terus menjaga komunikasi dengan jemaah maupun pihak travel.

    Masyarakat juga diimbau untuk tidak menyebarkan kabar yang belum terverifikasi serta selalu merujuk pada informasi dari kanal resmi Kemenhaj, Kementerian Luar Negeri, KBRI Riyadh, KJRI Jeddah, dan otoritas Arab Saudi.

    "Tetap tenang, tetap waspada, dan utamakan keselamatan. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala melindungi seluruh jemaah dan melancarkan ibadah serta perjalanan mereka," pungkas Ichsan.

    (Tribunnews.com, Tiara Shelavie)

    Komentar
    Additional JS