Gus Kautsar Tegaskan Santri Tak Sekadar Slogan, tapi Kewajiban Setiap Muslim - NU Online
Sumenep, NU Online Jatim
KH Abdurrahman Al-Kautsar atau Gus Kautsar dari Pondok Pesantren Al-Falah Ploso, Kediri, menegaskan bahwa menjadi santri bukan sekadar slogan, melainkan bagian dari kewajiban setiap Muslim. Sebab itu, kewajiban utama seorang santri adalah mengaji dan menuntut ilmu.
Pernyataan tersebut disampaikan saat mengisi tausiyah pada acara Santri Bershalawat dalam rangka memperingati Hari Santri 2026 yang digelar Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Sumenep. Agenda yang dihadiri ratusan santri ini dipusatkan di Lapangan Kesenian Sumenep, Selasa (06/10/2026) malam.
“Kalau santri itu urusannya dengan ngaji. Santri, bukan hanya sekadar slogan. Sebetulnya, menjadi santri itu adalah sebuah kewajiban,” tegasnya.
Ia menguatkan pernyataannya dengan hadist طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ bahwa menuntut ilmu merupakan kewajiban bagi setiap Muslim. Karena itu, kewajiban untuk mengaji berlaku bagi semua orang.
"Ilmu itu menjadi salah satu muara penting dalam kehidupan manusia. Dengan ilmu, seseorang dapat memahami bagaimana menjalankan ibadah sekaligus bagaimana menempatkan diri di tengah kehidupan sosial," tegasnya.
Lebih dari itu, Gus Kautsar mengajak santri dan para jamaah memahami kembali hakikat penciptaan manusia sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur'an Surat Az-Zariyat Ayat 56 :
وَمَا خَلَقْتُ ٱلْجِنَّ وَٱلْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
Menurutnya, dalam penafsiran Syekh Nawawi Al-Bantani, Gus Kautsar menjelaskan bahwa kewajiban manusia pada hakikatnya tidak hanya berkaitan dengan hubungan kepada Allah, tetapi juga menyangkut hubungan dengan sesama manusia.
“Semua perintah Allah itu intinya ada dua. Pertama, memastikan ibadah kita benar dan kemudian secara istiqamah dilakukan. Kedua, kita memiliki kepedulian dan kepekaan kepada sesama,” jelasnya.
Ia kemudian mengingatkan jamaah agar tidak mudah iri terhadap takdir yang diberikan Allah kepada orang lain. Namun, Rasulullah memberikan pengecualian terhadap dua kelompok yang layak menjadi objek ghibthah atau keinginan untuk memiliki kebaikan serupa, bukan iri yang disertai kebencian.
Pertama, orang yang diberi keluasan harta dan menggunakan hartanya untuk kebaikan. Kedua, orang yang diberi hikmah atau pengetahuan agama dan kemudian mengamalkannya. “Tidak layak kita sebagai hamba iri dan hasut dengan takdir orang lain,” ungkapnya.
Menurut Gus Kautsar, orang yang memiliki harta berlebih patut menjadi teladan apabila kekayaannya diperoleh melalui cara yang baik dan digunakan untuk kemaslahatan.
Kedua, adalah mereka yang dianugerahi pemahaman terhadap ilmu dan hikmah. "Dalam konteks ini, hikmah mencakup pengetahuan keagamaan, pemahaman terhadap aturan fikih, serta pengetahuan dan pengamalan sunnah-sunnah Rasulullah," tandasnya.
