Sosial Media
0
News
    Home Batik Berita Bisnis Brebes Dunia Internasional Featured Spesial

    Perempuan Brebes Jadi Pengemudi Taksi Berjilbab Pertama di Jepang, Rintis Bisnis Batik - Tribunnews

    8 min read


    Istimewa A-A+ PENGEMUDI TAKSI JEPANG - Rizki Nurul Faizati pengendara taxi argo Jepang pertama yang diperkenankan menggunakan jilbab di depan taxi Matsushima Mobility Service (ist) 
    Ringkasan Berita:
    • Rizki Nurul Faizati alias Kiki membangun kehidupan mandiri di Jepang setelah pindah pada 2010 dengan kemampuan bahasa terbatas 
    • Dari pekerja pabrik, pemandu wisata hingga sopir taksi berjilbab di Kyoto, ia terus mengembangkan diri 
    • Kiki juga mempertahankan usaha batik Ramania dan bercita-cita menjadi pemandu wisata di Spanyol

    Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang

    TRIBUNNEWS.COM, TOKYO — Rizki Nurul Faizati, yang akrab disapa Kiki, menjalani kehidupan di Jepang dengan berbagai pekerjaan, mulai dari bekerja di pabrik hingga menjadi pemandu wisata dan pengemudi. 

    Di tengah kesibukannya melayani wisatawan di Kyoto, perempuan asal Indonesia ini juga mengembangkan usaha batik dengan desainnya sendiri.

    Lahir di Brebes 49 tahun lalu dan besar di Yogyakarta, keinginannya untuk menjelajahi dunia di luar Indonesia sudah muncul sejak duduk di bangku SMP.

    Jalan menuju Jepang bermula dari pertemuan dengan seorang pria Jepang di sebuah kedai kopi di Yogyakarta. 

    Pada 2010, Kiki pindah ke Jepang dengan bekal bahasa Jepangnya ketika itu sangat terbatas.

    Ia mengenang bahwa saat pertama datang, dirinya hanya mengetahui kata arigatou, yang berarti terima kasih. 

    "Itu saja yang saya ketahui saat pertama datang ke Jepang tahun 2010," paparnya khusus kepada Tribunnews.com Senin (5/10/2026).

    Baca juga: Wisatawan China ke Jepang Turun 56,7 Persen di Tengah Imbauan Beijing

    Kemampuan berbahasa Jepang kemudian dipelajarinya secara bertahap sambil menjalani kehidupan sehari-hari dan bekerja.

    Pernikahannya berakhir pada 2014.

    Setelah itu, Kiki terus berusaha membangun kehidupan mandiri sekaligus membesarkan putranya.

    Ia pernah bekerja di pabrik perakitan komponen listrik. 

    Pengalaman pekerjaannya juga mencakup pembuatan bagian dasbor kayu untuk mobil Century.

    Belajar bahasa Jepang menjadi bagian penting dari perjalanan tersebut. 

    Pada 2022, Kiki berhasil lulus ujian kemampuan bahasa Jepang tingkat N3.

    Ia juga mengikuti kursus pemandu wisata di Shinjuku dan lulus untuk menambah keterampilan.

    Setelah tinggal di Hamamatsu, Kiki pindah ke Kyoto pada 2024.

    Di kota tujuan wisata itu, ia mengembangkan pekerjaan sebagai pemandu wisata lepas dan pengemudi dengan SIM Oogata Nishu untuk Bus Besar.

    Kesempatan bekerja sebagai pengemudi taksi argo mobil lux Alphard diperolehnya setelah menemukan informasi lowongan melalui Facebook. 

    Perusahaan taxi Matsushima Mobility Service mencari pengemudi yang dapat berbahasa Inggris.

    Kiki mencoba melamar, mengikuti wawancara, dan diterima.

    Salah satu hal yang berkesan baginya adalah sikap pimpinan perusahaan terhadap identitas agamanya. 

    Menurut Kiki, pimpinan tersebut tidak mempermasalahkan dirinya mengenakan jilbab saat bekerja.

    "Saya tidak peduli dengan agama dan jilbabmu silakan saja," ungkap Presiden perusahaan taksi tempatnya bekerja.

    Kikilah orang pertama WNI di Jepang yang diperkenankan menjadi sopir taksi argo meter dengan menggunakan jilbab.

    Baca juga: Berkas Perkara Kecelakaan KRL dengan Taksi di Bekasi Dilimpahkan ke Kejaksaan

    Pekerjaan membawa penumpang memberinya pengalaman bertemu orang dari berbagai negara. 

    Namun, pekerjaan tersebut juga memiliki tantangan, terutama ketika terjadi kesalahan rute atau komunikasi dengan pelanggan.

    Kiki pernah mendapat teguran ketika melewati jalan yang seharusnya dituju. 

    Meski demikian, ia juga bertemu banyak penumpang yang ramah, memberikan semangat, oleh-oleh, maupun uang tip.

    Salah satu pengalaman yang paling diingatnya adalah menerima tip sebesar cukup banyak dari seorang penumpang asal Arab Saudi.

    Pengalaman-pengalaman itu memperlihatkan beragam karakter pelanggan yang ditemuinya dalam pekerjaan sehari-hari.

    Di luar pekerjaan sebagai pengemudi dan pemandu wisata, Kiki tetap mempertahankan kedekatannya dengan batik. 

    Kini, ia mengembangkan usaha batik dengan brand bernama Ramania yang telah berjalan sekitar tujuh tahun.

    Menurut Kiki, nama tersebut memiliki makna kemakmuran.

    Desain batiknya dibuat sendiri, sementara kegiatan usahanya di Yogyakarta tetap dibantu oleh pegawainya yang berada di Indonesia.

    Kiki menuturkan, ia pernah menerima pesanan sekitar 30 potong batik dari pelanggan Jepang untuk keperluan rencana acara terkait pembukaan Asian Games. 

    Batiknya  rencana dikenakan oleh para pemain Jepang dalam sebuah konser angklung saat acara Asian Games di Nagoya.

    Mereka juga mewakili Indonesia  di world instrumental di Nagoya.

    Bagi Kiki, pekerjaan dan usaha batik tersebut berjalan beriringan dengan tanggung jawab sebagai ibu. 

    Putranya kini berusia 19 tahun, menempuh pendidikan di politeknik di Hamamatsu, dan tinggal di asrama.

    Ia ingin putranya tumbuh mandiri, tetapi tetap memiliki kepedulian kepada orang lain. 

    "Saya  membiasakan dia agar membantu orang yang membutuhkan dan mengajaknya mengenal kehidupan anak-anak di panti asuhan."

    Ia berharap anaknya memiliki kehangatan dalam hubungan sosial seperti yang dirasakannya di Indonesia. Kiki juga pernah mengajak putranya membantu usaha batik.

    “Ikut dagang batik saya,” ujar sang putra.

    Setelah bertahun-tahun tinggal di Jepang, Kiki mulai memikirkan pengalaman baru. 

    Dalam lima tahun ke depan, ia berharap dapat mencapai kemampuan bahasa Jepang tingkat N2 sekaligus belajar bahasa Spanyol.

    Ketertarikannya pada bahasa Spanyol muncul karena ia menyukai suasana yang dianggapnya hangat dan santai di Spanyol. 

    "Suatu hari, saya  ingin mencoba mencari kesempatan bekerja sebagai pemandu wisata di Spanyol."

    Dari Brebes dan Yogyakarta hingga Hamamatsu dan Kyoto, Kiki terus menambah keterampilan untuk membuka peluang baru, sambil mempertahankan batik sebagai bagian dari kehidupannya.

    Diskusi  beasiswa dan loker di Jepang dilakukan Pencinta Jepang gratis bergabung. Kirimkan nama alamat dan nomor whatsapp ke email: tkyjepang@gmail.com

    Komentar
    Additional JS