Sosial Media
0
News
    Home Bencana Berita Featured Kediri Spesial

    Ratusan Santri dan Relawan Kediri Dibekali Keterampilan Penanggulangan Bencana | beritajatim.com

    5 min read

     

    Ringkasan Berita

    • Sebanyak 110 peserta mengikuti Sosialisasi Relawan dan Santri Peduli Bencana di Kantor Pemerintah Kabupaten Kediri, Senin (19/10/2026).
    • Kegiatan hasil kerja sama DPR RI, BNPB, dan BPBD Kabupaten Kediri tersebut berfokus pada peningkatan kapasitas logistik, peralatan, dan kesiapsiagaan bencana.
    • KH An’im Falachuddin Mahrus menekankan pentingnya keterampilan dasar menghadapi gempa bumi dan mengevakuasi korban bagi para santri.
    • BPBD Kabupaten Kediri mendorong pembentukan desa siaga bencana, pos tanggap bencana di pesantren, serta penyusunan rencana evakuasi dan simulasi rutin.

    Kediri (beritajatim.com) – Sebanyak 110 santri dan relawan kebencanaan mengikuti Sosialisasi Relawan dan Santri Peduli Bencana untuk meningkatkan kapasitas dalam penanggulangan bencana di Kabupaten Kediri. Kegiatan yang berlangsung di Gedung BPKAD Tegowangi lantai III, Kantor Pemerintah Kabupaten Kediri, Senin (19/10/2026), tersebut merupakan kerja sama DPR RI, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), dan BPBD Kabupaten Kediri.

    Peserta terdiri atas lebih dari 80 santri dan sekitar 30 relawan kebencanaan. Kegiatan ini berfokus pada peningkatan kapasitas di bidang logistik dan peralatan penanggulangan bencana, sekaligus memperkuat kesiapsiagaan serta peran masyarakat dalam menghadapi situasi darurat.

    Anggota Komisi VIII DPR RI dari Fraksi PKB sekaligus Pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo Kediri, KH An’im Falachuddin Mahrus, M.Pd., mengatakan kesiapsiagaan perlu menjadi keterampilan dasar para santri. Sebab, bencana dapat terjadi sewaktu-waktu dan membutuhkan respons yang tepat.

    Menurutnya, santri perlu memahami langkah-langkah keselamatan ketika menghadapi bencana, termasuk mengetahui tindakan yang harus dilakukan saat terjadi gempa bumi dan cara membantu proses evakuasi korban.

    “Karena sesungguhnya bencana ini datangnya tidak bisa kita duga-duga. Maka dari itu, kesiapsiagaan ini harus menjadi keterampilan dari santri untuk bagaimana menghadapi bencana,” kata Gus An’im.

    Ia mencontohkan, ketika gempa terjadi, masyarakat harus memahami prosedur penyelamatan diri sesuai kondisi. Jika memungkinkan, segera menuju tempat aman melalui jalur evakuasi. Apabila belum memungkinkan keluar dari bangunan, lindungi kepala dan tubuh serta berlindung di bawah meja yang kokoh hingga guncangan berhenti.

    Selain keselamatan diri, kemampuan mengevakuasi korban juga menjadi hal penting yang perlu dipelajari. Dengan bekal tersebut, santri diharapkan dapat berkontribusi membantu masyarakat ketika terjadi bencana, tanpa mengabaikan keselamatan diri dan prosedur penanganan darurat.

    BNPB Dorong Pembekalan Lanjutan bagi Santri

    Direktur Pengelolaan Logistik dan Peralatan BNPB, Bambang Surya Putra, menyebut kegiatan sosialisasi tersebut sebagai langkah awal untuk membangun kapasitas santri dalam bidang kebencanaan.

    Ia mengatakan, kegiatan perlu dilanjutkan dengan pembekalan yang lebih teknis, terutama mengenai kesiapsiagaan, kerelawanan, dan upaya penyelamatan ketika kondisi darurat terjadi.

    Menurut Bambang, tantangan penanggulangan bencana di Indonesia cukup kompleks karena setiap wilayah memiliki karakteristik ancaman berbeda. Karena itu, masyarakat perlu memiliki pengetahuan dan kemampuan yang sesuai dengan risiko di lingkungan masing-masing.

    Ia menilai pesantren dapat menjadi salah satu pusat penguatan kesiapsiagaan karena memiliki jaringan sosial dan aktivitas pendidikan yang dekat dengan masyarakat.

    Bambang juga mendorong agar pengetahuan kebencanaan disampaikan kepada masyarakat melalui kegiatan dakwah dan pendidikan di lingkungan pesantren. Dengan demikian, kesadaran terhadap risiko bencana tidak hanya berhenti pada peserta pelatihan, tetapi dapat meluas ke masyarakat sekitar.

    “Yang paling penting adalah bagaimana menyiapkan kader-kader yang bisa memberikan wawasan kepada masyarakat pada setiap dakwahnya, diselipkan dengan berbagai ilmu kebencanaan,” ujarnya.

    Melalui pendekatan tersebut, pesantren diharapkan dapat ikut membangun budaya sadar bencana, sekaligus memperkuat kesiapan warga menghadapi potensi ancaman di daerahnya.

    Kediri Berhadapan dengan Risiko Erupsi, Longsor, dan Banjir

    Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Kediri, Ariyanto, mengatakan kondisi geografis Kabupaten Kediri membutuhkan kewaspadaan terhadap berbagai potensi bencana.

    Keberadaan Gunung Kelud di sisi timur, Gunung Wilis di bagian barat, serta Sungai Brantas dan anak-anak sungainya di wilayah tengah menjadi sejumlah faktor geografis yang perlu diperhatikan dalam upaya mitigasi bencana.

    Potensi ancaman yang perlu diantisipasi meliputi erupsi gunung api, tanah longsor, dan banjir, terutama ketika memasuki musim hujan. Kondisi tersebut menuntut kesiapan masyarakat, termasuk komunitas pesantren yang berada di wilayah rawan bencana.

    “Bencana memang tidak dapat kita cegah kejadiannya, tetapi dampaknya dapat kita kurangi dengan pengetahuan, kesiapsiagaan, dan kerja sama. Pengetahuan yang baik dapat menyelamatkan nyawa dan mengurangi kerugian,” kata Ariyanto.

    Ia menilai peningkatan kapasitas masyarakat menjadi salah satu langkah penting untuk mengurangi risiko dan dampak bencana. Pengetahuan mengenai ancaman di sekitar tempat tinggal perlu disertai rencana penyelamatan yang jelas dan latihan secara berkala.

    Pesantren Didorong Miliki Rencana Evakuasi

    Menjelang masa peralihan musim, BPBD Kabupaten Kediri mendorong pembentukan desa siaga bencana dan pos-pos tanggap bencana di lingkungan pondok pesantren.

    Para santri dan pengelola pesantren juga diimbau mulai menyusun rencana evakuasi, menentukan titik kumpul yang aman, serta menyiapkan perlengkapan darurat secara mandiri.

    Selain itu, simulasi bencana perlu dilaksanakan secara rutin agar seluruh penghuni pesantren memahami prosedur penyelamatan ketika keadaan darurat terjadi.

    Upaya tersebut penting untuk memastikan kesiapsiagaan tidak hanya sebatas pengetahuan, tetapi juga menjadi kebiasaan yang diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

    Melalui kolaborasi DPR RI, BNPB, BPBD, relawan, dan lingkungan pesantren, kegiatan Sosialisasi Relawan dan Santri Peduli Bencana diharapkan menjadi fondasi penguatan kesiapsiagaan di Kabupaten Kediri. Santri tidak hanya dibekali pemahaman untuk melindungi diri, tetapi juga didorong menjadi bagian dari masyarakat yang tanggap dan peduli terhadap risiko bencana. [nm/ian]

    Baca berita lainnya di Google News atau langsung di halaman Indeks Berita
    Komentar
    Additional JS