Sosial Media
0
News
    Home Berita Featured Lintas Peristiwa Spesial

    Tokoh Sasak Lalu Nurudin Meninggal Saat Pimpin Doa Kongres di Mataram - deitk

    2 min read


    Foto: Tangkapan layar Tokoh Majelis Adat Sasak (MAS), Lalu Nurudin Marzuki, meninggal dunia saat memimpin doa pembukaan Kongres Internasional I Bahasa Sasak 2026, Rabu siang (28/10/2026). (Tangkapan layar Instagram)

    Mataram -

    Tokoh agama Majelis Adat Sasak (MAS), Lalu Nurudin Marzuki, meninggal dunia saat memimpin doa pembukaan Kongres Internasional I Bahasa Sasak 2026 di Gedung Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Provinsi NTB, Rabu siang (28/10/2026).

    Acara yang dihadiri oleh pemateri internasional itu mendadak berubah menjadi duka. Dalam video yang dilihat detikBali, Nurudin tiba-tiba oleng dan terjatuh tepat saat akan mengakhiri pembacaan doa.

    Para peserta yang berada di lokasi langsung bergerak cepat memberikan pertolongan pertama sebelum membawanya ke Rumah Sakit Universitas Mataram (Unram). Tapi bahas, nyawa almarhum tak tertolong. Diduga kuat, Lalu Nurudin Marzuki terkena serangan jantung.

    Wakil Gubernur NTB Indah Dhamayanti Putri yang hadir dalam acara tersebut mengatakan kepergian sosok panutan adat Sasak ini sontak membuat para peserta kongres diliputi kesedihan mendalam.

    Dia mengajak seluruh tamu undangan dan peserta untuk menundukkan kepala sejenak mendoakan kepergian almarhum. Dinda, sapaannya, juga menyampaikan apresiasi tinggi atas dedikasi dan pengabdian tanpa henti yang diberikan almarhum bagi masyarakat adat Sasak hingga wafat.

    "Kita bersama-sama mendoakan almarhum Ustaz Nuruddin Marzuki, yang hingga akhir hayatnya telah memberikan kontribusi besar bagi kemajuan masyarakat adat Sasak," ujar Dinda sesuai pembukaan acara Kongres.

    Meski diwarnai kabar duka, Dinda berharap Kongres Internasional I Bahasa Sasak ini menjadi momentum penting dalam menjaga keberlangsungan bahasa ibu, sekaligus mendorong kebudayaan lokal agar bertransformasi menjadi kekuatan ekonomi serta diplomasi bagi NTB.

    Menurutnya, menjaga kelestarian bahasa Sasak bukan sekadar tugas komunitas adat semata, melainkan tanggung jawab kolektif seluruh elemen masyarakat di tengah gempuran zaman.

    "Mari kita jaga bahasa Sasak, kita rawat budayanya, kita majukan masyarakatnya, dan kita bawa identitas Sasak agar berdiri sejajar dengan peradaban dunia," pungkasnya.

    Di tengah suasana duka yang menyelimuti, rangkaian Kongres Internasional I Bahasa Sasak 2026 yang dijadwalkan berlangsung pada 28-29 Oktober 2026 tetap dilanjutkan.

    Forum ini mengusung misi krusial untuk memperkuat upaya pelestarian bahasa Sasak, khususnya melalui lingkungan keluarga dan jalur pendidikan.

    (hsa/hsa)

    Komentar
    Additional JS