0
News
    Update Haji
    Home Featured Haji Pilihan

    Ibadah Haji Lansia: Shalat di Hotel Lebih Utama dari Masjidil Haram - NU Online

    4 min read

     

    Ibadah Haji Lansia: Shalat di Hotel Lebih Utama dari Masjidil Haram

    • Mahbib Khoiron
    • Sabtu, 27 Mei 2023 | 17:15 WIB
    Ibadah Haji Lansia: Shalat di Hotel Lebih Utama dari Masjidil Haram

    Jakarta, NU Online

    Hingga Sabtu (27/05/2023), pukul 17.00 WIB, sedikitnya 19.713 jamaah haji Indonesia telah mendarat di Madinah, Arab Saudi, termasuk lebih dari dua ribu di antaranya adalah lanjut usia. Total jamaah haji asal Indonesia tahun ini mencapai 229 ribu dengan jumlah jamaah lansia sekitar 67 ribu.


    Pada hari keempat pemberangkatan jamaah haji ini pula, Sistem Informasi dan Komputerisasi Haji Terpadu (Siskohat) mengungkap bahwa sudah ada 1 jamaah haji meninggal dunia dan 22 orang sedang dirawat di Rumah Sakit Arab Saudi dan Klinik Kesehatan Haji Indonesia.


    Kepala Pusat Kesehatan Haji Liliek Marhaendro Susilo mengatakan, tantangan haji 2023 lebih berat dibanding tahun-tahun sebelumnya. Selain karena kian padatnya jamaah akibat pemberlakuan kuota normal pascapandemi, jumlah jamaah lansia juga membludak setelah mereka terhalang pembatasan usia pada haji 2022.


    Menurutnya, jamaah haji lansia memerlukan pelayanan khusus lantaran ada peningkatan risiko terkena penyakit kronis, seperti diabetes, hipertensi, penyakit jantung, dan lainnya. Belum lagi jamaah akan menghadapi suhu Arab Saudi yang mencapai lebih dari 40 derajat celcius.


    Data Pusat Kesehatan Haji mengungkap bahwa berdasar pengalaman penyelenggaraan haji selama ini selalu ada periode kritis yang dimulai pada hari ke-28 sampai hari ke-60. Dalam rentang waktu itu biasanya ada peningkatan kematian harian.


    “Puncak kematian tertinggi terjadi pada masa Armuzna (Arafah, Muzdalifah, dan Mina) sampai lima hari pasca-Armuzna,” papar Liliek.


    Mitigasi Jelang Periode Kritis

    Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) pun menghadapi tantangan. Direktur Bina Haji Kemenag RI Arsad Hidayat mengingatkan para petugas untuk mengurangi risiko menghadapi periode kritis operasional penyelenggaraan haji 2023.


    Sesuai dengan jargon penyelenggaraan haji tahun ini, “Haji Ramah Lansia”, ribuan petugas diimbau tidak hanya memberi pelayanan ekstra kepada para jamaah lansia dan difabel tetapi juga menjaga mereka agar tetap memiliki fisik prima menghadapi puncak haji pada rentang tanggal 8 sampai 13 Dzulhijjah.


    Karena itu, kata Arsad, jamaah haji yang memiliki risiko tinggi seperti lansia dan difabel perlu mengantisipasi dengan tidak memaksakan diri pada ibadah-ibadah sunnah yang menguras tenaga. Berbagai rukhsah atau keringanan ibadah juga perlu diterapkan untuk mencegah mudarat.


    Tidak Harus Shalat di Masjid

    Satu hal yang banyak menarik perhatian jamaah haji adalah hadits tentang keutamaan shalat di Masjidil Haram yang mempunyai kelipatan seratus ribu kali dan shalat di Masjid Nabawi berkelipatan seribu kali dibanding shalat di masjid lainnya. Jamaah pun berbondong-bondong berburu pahala di dua masjid suci tersebut.


    “Masalah timbul ketika jamaah lansia atau risti (risiko tinggi) memaksakan diri menunaikan Arbain (shalat fardhu berjamaah selama 40 waktu) di Masjid Nabawi dan shalat rutin berjamaah di Masjidil Haram. Energi mereka sudah habis sebelum puncak haji,” kata Arsad.


    Konsultan Ibadah Haji PPIH KH Miftah Faqih mengatakan, bagi lansia shalat di hotel atau pemondokan lebih utama daripada shalat di Masjidil Haram karena mempertimbangkan mudarat yang bakal diterima jamaah.


    "Hotel (berlokasi) di Tanah Suci. Masjidil Haram di Tanah Suci. Maka, pelipatgandaan pahalanya ya sama," papar Kiai Miftah yang juga ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) ini.


    Penjelasan ini juga selaras dengan statemen sahabat Nabi, Ibnu Abbas bahwa tanah haram seluruhnya adalah Masjidil Haram. 


    Imam at-Thabari dalam Jami’ul Bayan menjelaskan, ketika Rasulullah melakukan isra, beliau tidur di rumah Ummi Hani binti Abi Thalib. Namun dalam surat al-Isra’ [17]:1, disebutkan bahwa perjalanan itu dimulai dari Masjidil Haram menuju Masjid al-Aqsa. Hal ini bermakna seluruh tanah haram adalah masjid.


    Ketika Rasulullah melaksanakan haji wada’, dan saat tiba di Makkah, setelah selesai tawaf dan sa’i, beliau menunggu haji dengan tinggal di Abtah. Selama di Abthah, Nabi tidak pernah ke Ka'bah hingga selesai wukuf di Arafah. Perbuatan Nabi ini dijadikan dasar oleh para ulama bahwa seluruh tanah haram Makkah memiliki keutamaan sebanding dengan Masjidil Haram.


    Kiai Miftah mengimbau kepada semua jamaah untuk menjalani ibadah secara suka cita, tanpa memaksakan diri di luar kemampuan hingga tanpa disadari sudah menganiaya diri sendiri.


    “Semua harus mengukur kemampuan. Jika diri ini sudah masuk katagori lansia maka ya bebani diri sebagaimana mestinya lansia. Demikian juga halnya dengan penyandang disabilitas. Agama tidak akan menjadi beban bagi siapa pun yang sadar diri dan sadar kondisi,” jelasnya.

    Komentar
    Additional JS